WNI Memilih Lebih Dulu
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan. Foto: Medcom.id/Faisal Abdalla
Jakarta: Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengatakan pemungutan suara Pemilu 2019 di luar negeri tidak akan digelar serentak. Pemilu di luar negeri akan digelar lebih awal. 

"Pemilu bagi WNI di luar negeri tidak sama dengan pemilu di dalam negeri. Di dalam negeri digelar 17 April 2019, di luar negeri akan digelar pada 8-14 April 2019," kata Wahyu di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Oktober 2018. 


Pemilu di luar negeri juga tidak akan digelar serentak, namun tetap digelar dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Karena itu, pemungutan suara WNI di luar negeri berbeda-beda di tiap negara. Hal ini lantaran situasi dan kondisi di tiap negera berbeda-beda. 

Di sisi lain, pemungutan suara di luar negeri juga sepenuhnya diselenggarakan dan di bawah tanggung jawab Petugas Pemungutan Suara Luar Negeri (PPLN). KPU tidak bisa meminta aparat keamanan Indonesia untuk mengawal pemilu di luar negeri. 

(Baca juga: Perbaikan Pemilih Luar Negeri Dinilai Belum Optimal)

"Karena setiap negara memiliki kedaulatannya masing-masing, sehingga aspek keamanan diserahkan kepada negara yang bersangkutan. Kita tidak bisa mendatangkan aparat kepolisian Indonesia ke luar negeri karena berdasarkan Konvensi Hukum Internasional tidak dimungkinkan," tutur dia. 

KPU menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) di luar negeri sebanyak 2.049.791 dengan komposisi 984.491 pemilih laki-laki dan 1.065.300 pemilih perempuan. 

Bagi pemilih di luar negeri, ada tiga metode pemungutan suara yang dilakukan, yaitu melalui TPS, Kotak Suara Keliling, dan melalui pos. 

Di luar negeri KPU menyediakan 620 TPS dengan jumlah pemilih 517.128. Selain itu KPU juga menyediakan 1.501 kotak suara keliling dengan jumlah pemilih 808.962 jiwa. Sementara jumlah pemilih yang menggunakan metode pos sebanyak 723.701 pemilih dengan jumlah kantor pos yang disediakan sebanyak 269. 
 



(REN)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id