Direktur LIMA, Ray Rangkuti--Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Direktur LIMA, Ray Rangkuti--Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

LIMA: 80% Kampanye Pemilu Nyinyir

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Kautsar Widya Prabowo • 21 November 2018 16:49
Jakarta: Lingkar Madani (LIMA) melihat selama kampenya Pemilu 2019 yang tengah berjalan tiga bulan dilihat tidak mendidik masyarakat. Justru didominasi kampanye yang memberikan efek emosional.
 
Direktur LIMA Ray Rangkuti mengungkapkan banyak isu penting yang dapat didiskusikan, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, lapangan kerja, kesehatan, pendidikan, dan urusan toleransi.
 
"Belum ada 'makanan' (untuk) otak dari kampanye, cuma 'makanan' emosi. Polisi mulai kembali ke politik gagasan, biar paham arah bangsa ini ," ujarnya dalam diskusi “Kampanye Nyinyir dan Gugat-Menggugat di Tahun Politik”, di D Hotel, Jakarta Pusat, Rabu, 21 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, jika dapat dipersentasekan, terdapat 80 persen konten kampanye yang mengandung unsur emosional dan 20 persen mengandung unsur mencerdaskan masyarakat.
 
Baca: Dua Bulan Kampanye Masih Didominasi Gimik
 
Kondisi tersebut berbanding terbalik pada Pilpres 2014. Saat itu fitnah tetap muncul, namun masyarakat masih dapat tercerdaskan oleh konten kampanye. "Saat ini otak kita baru diisi 20 persen dari 80 persen nyinyir," imbuhnya.
 
Selain itu, diperlukan adanya diskusi untuk mengembalikan persentase menjadi 80 persen mencerdaskan dan 20 persen unsur emosional. Terlebih masing-masing kubu dapat menjelaskan ketika terdapat pernyataan masing-masing calon yang dinilai kontaversial.
 
"Mardani Ali Sera (petinggi Partai Keadilan Sejahtera) pernah bilang kalau Prabowo jadi presiden, gaji guru 20 juta. Okelah untuk menaikkan isu. Tapi, sebaiknya diskusikan apakah realistis, itu kan harus dijawab," kata dia
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi