Caleg Partai NasDem Anggiasari Puji Aryatie (tengah). Foto: Istimewa
Caleg Partai NasDem Anggiasari Puji Aryatie (tengah). Foto: Istimewa

Impian Anggiasari Perjuangkan Kaum Disabilitas di DPR

Pemilu pemilu serentak 2019
Arga sumantri • 18 Januari 2019 07:45
Jakarta: Anggiasari Puji Aryatie, salah satu penyandang disabilitas yang berani ikut kompetisi pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Maju dari Partai NasDem, Anggiasari siap bertarung dengan caleg lainnya di Yogyakarta untuk melenggang ke Senayan.
 
Sebagai penyandang disabilitas, Anggiasari ingin memperjuangkan hak-hak kaum berkebutuhan khusus. Anggiasari mengaku cuma punya modal tulus maju menjadi caleg.
 
"Tujuan akhir saya bukan menjadi anggota dewan, tapi saya ingin isu-isu disabilitas, inklusif, bisa didengar lebih banyak orang," kata Anggiasari kepada Medcom.id, Kamis, 17 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anggiasari mengaku ingin membuktikan kalau para penyandang disabilitas bukanlah orang-orang 'kelas dua'. Anggiasari juga tak mau kaum disabilitas hanya jadi komoditas politik lima tahun sekali.
 
"Penyandang disabilitas harus sadar akan haknya bahwa mereka juga bisa dipilih, seperti saya bisa dipilih," ucap Caleg NasDem nomor urut 6 Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.
 
Anggiasari meyakini, isu disabilitas harus dikawal oleh orang-orang yang sangat mengerti apa yang dibutuhkan para kaum difabel. Pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas tak boleh lagi jadi isu sampingan.
 
"Sehingga kepentingan kami kebutuhan kami sebagai warga negara yang berhak diperhatikan negara, haknya dipenuhi," tegas Anggia, sapaannya.
 
Anggia mengatakan, Presiden Joko Widodo juga telah menjadikan isu disabilitas sebagai isu strategis nasional. Menurut dia, isu disabilitas sudah waktunya menjadi prioritas dalam pembangunan. Terlebih, pemerintah saat ini juga tengah gencar membangun infratsruktur.
 
"Bagaimana teman-teman disabilitas, lansia, perempuan, bisa menikmati infrastruktur yg sudah dibangun oleh pemerintah," ungkapnya.
 
Merawat Komunitas Difabel
 
Isu disabilitas memang bukan kali ini digaungkan Anggia. Sejak 2000, ia sudah berkecimpung memperjuangkan hak-hak para kaum difabel.
 
Anggia merupakan orang yang aktif dalam sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nasional dan internasional. Organisasi masyarakat yang digelutinya, bukan hanya bicara tentang isu disabilitas, melainkan juga toleransi, dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya.
 
Sepak terjang Anggia memperjuangkan kaum disabilitas diakui. Buktinya, hampir seluruh relawan Anggia saat ini adalah mereka yang merasa empati dan senasib sepenanggungan. Selama masa kampanye, Anggia selalu berkumpul dengan teman-teman komunitas difabel.
 
"Mereka percaya ke depan ada harapan peningkatan hidup teman-teman penyandang disabilitas secara martabat," ungkapnya.
 
Anggia mafhum, untuk bisa melenggang ke Senayan tak cukup mengandalkan suara para penyandang disabilitas. Namun, ia mengaku tetap optimistis lantaran melihat dukungan teman-temannya di tim pemenangan.
 
Anggia mengatakan, para relawan juga membantu mengenalkan dirinya ke publik yang lebih luas. Anggia juga percaya diri dengan apa yang dia kerjakan selama ini. "Track record saya bisa ditelusuri semuanya."
 
Memilih NasDem
 
Lama menjadi aktivis, Anggia mengaku sempat apatis terhadap partai politik. Namun, selama memperjuangkan hak-hak difabel, Anggia sering berkomunikasi dengan pemerintah. Ia merasakan betul sulitnya memperjuangkan hak-hak masyarakat.
 
Pada akhirnya, Anggia bulat terjun ke politik praktis. Keputusannya tak lebih ingin bagaimana kebijakan-kebijakan bagi para penyandang disabilitas dikawal oleh orang-orang yang sangat mengerti apa yang dibutuhkan kaum berkebutuhan khusus.
 
"Saya menyadari penting ada orang yang paham betul apa isu disabilitas dan merasakan perjuangan itu," ujarnya.
 
Anggia mengaku diminta oleh partai NasDem untuk menjadi caleg. Tawaran itu tak langsung ia amini. Anggia lalu mencari tahu tentang partai besutan Surya Paloh itu. Melalui riset kecil-kecilan, Anggia mendapati informasi kalau NasDem mengusung politik tanpa mahar.
 
"Saya setuju dengan prinsip itu, bahwa ini harus anti mahar, karena memang wakil rakyat itu benar benar mewakili rakyat," ungkapnya.
 
Dalam praktiknya, Anggia memastikan politik tanpa mahar itu benar adanya. Anggia memprediksi jadi satu-satunya caleg di Yogyakarta dengan ongkos politik yang minimalis.
 
"Benar-benar ini adalah kerja bareng, perjuangan bukan saya seorang ada ribuan orang-orang lain yang percaya bahwa saya akan tetap menjadi orang yang sama," pungkasnya.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif