Rencanakan Perjalanan Mudik dengan Matang
Arus mudik antre di pintu keluar tol Brebes Timur, Jawa Tengah. ANTARA/Oky Lukmansyah
Jakarta: Perjalanan mudik menggunakan kendaraan pribadi masih jadi primadona bagi sebagian besar pemudik. Data berdasarkan Rencana Operasi Angkutan Lebaran 2017 Kementerian Perhubungan menyebut pemudik transportasi umum menyentuh angka 19,04 juta sedangkan pengguna kendaraan pribadi sebanyak 9,55 juta. Jumlah itu lebih besar ketimbang pemudik yang memilih perjalanan menggunakan kereta api atau pesawat.

Animo masyarakat terhadap mudik jalur darat yang begitu tinggi membuat perjalanan mudik tidak bisa dilakukan saat itu saja, melainkan butuh perencanaan dan persiapan. 

Instruktur Safety Driving Adrianto Wiyono mengatakan hal utama yang harus diperhatikan pemudik adalah kesiapan mental. Kesiapan mental akan berpengaruh pada tindakan.


"Contoh kalau seseorang terburu-buru agar segera sampai tujuan apalagi dengan adanya jalan tol akhirnya sepanjang perjalanan (kendaraan) digas terus dan di jalan akan sangat berbahaya," katanya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis, 3 Mei 2018.

Selain mental, kendaraan juga perlu dipersiapkan. Mengecek status bahan bakar, kondisi kendaraan secara umum, bahkan apakah wiper masih berfungsi dengan baik atau tidak.

Hal lain, kata Adri, adalah manajemen perjalanan. Pemudik mungkin perlu melakukan survei terlebih dulu untuk menemukan alternatif saat jalanan macet, memperkirakan waktu tempuh, sampai dengan kesiapan diri menghadapi masalah lanjutan ketika berada di jalan.

"Kalau kita sudah tahu titik rawan macet atau rawan bencana kita sudah tahu alternatif jalan yang bisa dilalui. Itu penting dilakukan di awal termasuk berkabar dengan keluarga tentang perkiraan waktu tiba," ungkap Adri.

Defensive driving/riding
Selain keselamatan berkendara (safety riding) pemudik juga perlu memerhatikan aspek defensive riding. Jika keselamatan berkendara menitikberatkan pada kemampuan dan keterampilan mengemudi defensive riding lebih kepada perilaku kan kemampuan pengemudi memecahkan masalah.

"Contoh kalau ketemu tikungan ada orang yang belok dan ada celah sedikit untuk masuk mobil. Boleh jadi mobil masuk ke celah itu dan berhasil lewat tapi justru membahayakan orang lain. Itu artinya kita safety riding tapi tidak defensive," katanya.

Defensive riding, kata Adri, dapat didefinisikan sebagai kemampuan pengemudi mengelola emosi saat berada di jalan raya. Ketika emosi perlu diingat apa tujuan untuk mudik dan lengkapi dengan perbekalan logistik yang mencukupi. 

Jangan lupa untuk selalu menarik napas panjang beberapa kali ketika mengemudi agar tubuh lebih rileks.

"Ada 3K yang harus diperhatikan ketika kita mengemudi; kontrol kendaraan, kenyamanan, dan komunikasi dengan pengemudi lain dengan instrumen kendaraan. Kalau posisinya tepat tubuh akan lebih rileks," jelas dia.



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id