Klub dan Komunitas

Klub dan Komunitas Motor, Bukan Geng Motor!

M. Bagus Rachmanto 27 Desember 2017 15:28 WIB
klub motor
Klub dan Komunitas Motor, Bukan Geng Motor!
Ilustrasi. MI/Ramdani
Jakarta: Masyarakat diresahkan dengan kembali maraknya aksi geng motor yang berbuat onar, seperi yang terjadi di Depok, Jawa Barat, Senin, 25 Desember 2017. Berdasarkan keterangan Kapolres Kota Depok AKBP Didik Sugiarto, 26 anggota geng motor terlibat kasus penjarahan toko pakaian di Jalan Sentosa Raya, Kota Depok. Yang memprihatinkan, tiga di antaranya adalah perempuan.

Kejadian tersebut menimbulkan banyak tanggapan dari berbagai pihak, salah satunya dari Sekjen Road Safety Association (RSA), Nursal Ramadhan, saat berbincang dengan medcom.id melalui pesan singkat, Jakarta, Rabu (27/1/2017). "Kejadian kemarin itu jelas kriminal yang dilakukan oleh sekelompok geng motor. Tidak ada toleransi apapun selain para pelakunya harus ditindak tegas, karena jelas melanggar hukum."

Lebih lanjut Nursal menjelaskan, bahwa geng merupakan sekelompok orang, dan karena mereka bermotor maka disebut geng motor. Menurutnya, konotasi geng tidak baik dan cenderung melakukan tindakan melawan hukum. "Jangan samakan geng motor dengan klub atau komunitas motor yang jumlahnya juga banyak di kita."

Sekjen Road Safety Association (RSA) Nursal Ramadhan


Dikatakan, masing-masing kelompok, perkumpulan ataupun organisasi, pastinya memiliki tujuan tertentu sesuai dengan visi dan misi mereka. Selama tujuannya baik serta bermanfaat untuk organisasi maupun bagi masyarakat, maka patut kita dukung. Tapi kalau sudah meresahkan dan merugikan masyarakat patut dihukum

"Menurut kami, peran orangtua sangat sentral di sini dalam pembinaan, pengawasan dan perkembangan anak dalam pergaulan dan lingkungan. Sehingga tidak ada salah pengertian tentang pemahaman tindak kriminal atau perbuatan melawan hukum, bahwa itu bukan hal yang baik atau bahkan keren," ujar Nursal.

Meski begitu, fenomena geng motor ini bukanlah hal yang baru, dan sudah selayaknya menjadi kepedulian semua pihak, kata Nursal, itu bisa dimulai dari kerjasama dengan penegak hukum dengan organisasi atau komunitas otomotif. Tujuannya untuk bersama-sama menjaga keamanam dan keselamatan, khususnya dari tindak kriminal geng motor.



(UDA)