Petugas mengukur kadar emisi kendaraan bermotor saat uji emisi di kawasan Tugu Proklamasi, Jakarta. MI/Arya Manggala
Petugas mengukur kadar emisi kendaraan bermotor saat uji emisi di kawasan Tugu Proklamasi, Jakarta. MI/Arya Manggala

Mengenal Standar Emisi Euro

Otomotif perawatan kendaraan tips knowledge regulasi otomotif
M. Bagus Rachmanto • 16 Agustus 2019 11:56
Jakarta: Sektor transportasi tumbuh dan berkembang seiring dengan peningkatan ekonomi nasional maupun global. Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor berakibat meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi. Dampaknya, gas buang (emisi) yang mengandung polutan juga naik dan mempertinggi kadar pencemaran udara.
 
Berdasarkan banyak penelitian, emisi kendaran bermotor disebut mengandung gas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydro carbon (VHC), dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia ataupun lingkungan bila melebihi ambang konsentrasi tertentu.
 
Seperti dilansir situs resmi Gaikindo, dalam upaya mengurangi emisi, negara-negara di dunia seperti Uni Eropa (European Union – EU) mulai menggunakan alat transportasi yang mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan. Di awal 1990 EU mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penggunaan katalis untuk mobil bensin, yang dikenal dengan standar Euro 1. Ini bertujuan untuk memperkecil kadar bahan pencemar yang dihasilkan kendaraan bermotor. Kemudian secara bertahap EU memperketat peraturan menjadi standar Euro 2 (1996), Euro 3 (2000), Euro 4 (2005), Euro 5 (2009), dan Euro 6 (2014).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Persyaratan yang sama juga diberlakukan untuk mobil diesel dan mobil komersial berukuran kecil dan besar. Standar emisi kendaraan bermotor di Eropa ini juga diadopsi oleh beberapa negara di dunia.
 
Penerapan standar emisi tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas BBM. Contohnya Euro 1 mengharuskan mesin diproduksi dengan teknologi yang hanya menggunakan bensin tanpa timbal. Euro 2 untuk mobil diesel harus menggunaan solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm. Pengurangan lebih banyak kadar sulfur di mesin bensin dan solar diatur dalam Euro 3, Euro 4 dan untuk truk diesel diatur dalam Euro 5.
 
Dalam menetapkan standar emisi kendaraan di suatu negara, pembuat kebijakan perlu mengetahui memperhatikan antara dua hal penting yang berkaitan erat. Yakni antara standar emisi kendaraan dengan teknologi mesin kendaraan dan kualitas BBM, agar menjamin kertersediaan kualitas BBM.
 
Pada saat ini Indonesia masih menggunakan Euro2, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 141/2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru sejak 2007. Tapi masih banyak kendaraan pribadi atau umum yang masih menggunakan standar emisi Euro 1.
 
Mulai 1 Agustus 2013 Indonesia mulai menerapkan Euro 3 pada kendaraan bermotor roda dua. Sepeda motor harus menggunakan BBM standar Euro 3 dengan oktan 91 dan tanpa timbal. Tapi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut dianggap belum efektif. Dengan disahkannya Perpres Mobil Listrik baru-baru diharap bisa mengurangi dampak polusi lebih baik lagi, sambil berbenah soal uji emisis kendaraan bermotor.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif