Mobil Listrik Diwacanakan Segera Mengaspal di Indonesia
Ilustrasi--Alat pengisian daya baterai untuk kendaraan mobil listrik yang tersedia di area parkir SPBU Coco Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. (Foto: MI/Susanto)
Jakarta: Kebutuhan akan kendaraan berbasis listrik semakin mendesak di tengah cepatnya perubahan zaman. Kendaraan listrik juga disebut mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar yang menjadi persoalan serius di dalam negeri.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengungkap saat ini pemerintah tengah menggodok rancangan peraturan presiden terkait mobil listrik. Ini untuk mendukung wacana 'mengaspalkan' kendaraan listrik di Indonesia. 

"Kemenperin sudah memberikan konsep mengenai kendaraan listrik di Indonesia. Intinya kita ingin mengantisipasi keamanan energi dan masalah lingkungan melalui perpres tentang mobil listrik," ujarnya dalam Economic Challenges Metro TV, Selasa, 4 Desember 2018.


Harjanto mengungkapkan pemerintah menghendaki efisiensi energi bukan hanya pada sektor transportasi namun juga sektor industri. Pun terkait masalah lingkungan, pemerintah juga menargetkan mampu menurunkan emisi sampai 29 persen di 2030 dengan penggunaan kendaraan listrik.

"Kita berharap dua target ini bisa dijawab dengan penerbitan perpres tentang mobil listrik," kata dia.

Terpenting lainnya, kata dia, pengembangan mobil listrik yang akan dilakukan pemerintah salah satunya dengan konsep insentif. Kendati perpres belum rampung, konsep ini diharapkan dapat mengakomodasi pengembangan komponen utama kendaraan listrik sebagai langkah awal.

Sementara itu peneliti kendaraan listrik Universitas Sebelas Maret (UNS) Muhammad Nizam menilai pola insentif masuk akal dilakukan pemerintah sebagai langkah awal merealisasikan kendaraan listrik. Mengingat, komponen utama dalam mobil listrik yakni baterai litium yang rata-rata nilainya sekitar 40-60 persen dari harga total kendaraan. 

Nizam mengatakan Indonesia patut berbangga karena material utama baterai litium yakni nikel dan kobalt bisa ditemukan di dalam negeri. UNS sendiri, kata Nizam, sudah mulai mengembangkan baterai litium dengan kapasitas sekitar 10 kilowatt per hari.

"Ada dua jenis yang kami produksi; dengan litium ferro phosphate dan nikel litium kobalt. Skala (produksinya) sudah industri. Meski kecil, tindak lanjutnya kami harap dari Pertamina bisa diproduksi secara massal," ungkapnya.

Selain baterai, Nizam menambahkan pihaknya juga memiliki kemampuan memproduksi sel baterai litium berjenis silinder. Kendati produksi yang dilakukan masih dalam skala kecil namun ia meyakini dengan komponen ini wacana pengoperasian mobil listrik bisa terealisasi.





(MEL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id