Ilustrasi. Saigonford
Ilustrasi. Saigonford

Industri Otomotif

Indonesia Tertinggal dalam Penerapan Standar Emisi

Otomotif industri otomotif
M. Bagus Rachmanto • 03 Februari 2020 18:15
Jakarta: Penerapan emisi dengan gas buang rendah standar emisi Euro 4 akan segera direalisasikan pemerintah pada 7 April 2021. Dengan adanya standar emisi Euro 4 maka dipastikan gas buang akan semakin turun. Sehingga tidak memberikan dampak buruk pada lingkungan ataupun orang disekitarnya karena kandungan yang tidak membahayakan.
 
Pemerintah RI yang akan memberlakukan ketentuan standar emisi gas buang Euro 4, untuk kendaraan bermesin diesel yang boleh diproduksi dan dipasarkan di Indonesia mengacu Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan Jalan, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O atau yang lebih dikenal dengan Standar Emisi Euro IV dan Peraturan Menteri Perhubugnan Nomor PM. 33 Tahun 2018 tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor.
 
Standar emisi Euro 4 disebutkan untuk kendaraan baru jenis kendaraan penumpang katagori M seperti sedan, SUV dan MPV berbahan bakar bensin dengan Gross Vehicle Weight (GVW), ambang batas maksimal emisi sama atau kurang dari 2,5 ton adalah CO 1.0 gram/km, HC 0.1/km, dan Nox 0.08/km. Hal yang sama juga diberlakukan untuk GVW bahan bakar LPG. Sedangkan untuk kendaraan bahan bakar diesel CO 0,5 gram/km, Nox 0,25/km, PM 0.025 gram/km.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum di keluarkannya peraturan baru ini, standar ambang emisi kendaraan di Indonesia menggunakan standard Euro 2. Berdasarkan data, ambang batas maksimal emisi untuk standar Euro 2 bagi jenis kendaraan penumpang dengan bahan bakar bensin atau gas adalah, NO sebesar 2,2 gram per km, HC + Nox 0,5 gram per km. Kendaraan jenis yang sama dengan bahan bakar diesel, ambang batas emisinya CO 1.0 gram per km, HC+NOx 1.0 gram per km dan PM 0,1 gram per kilo meter.
 
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin dan Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika mengatakan industri otomotif sejauh ini memang sangat berharap pemerintah menerapkan Euro 4, untuk memangkas ongkos produksi. Sebab selama ini ongkos produksi yang dikeluarkan perusahaan cukup besar. Dalam satu jenis kendaraan saja, perusahaan harus memproduksi dua kategori, yakni Euro 2 untuk memenuhi pasar domestik dan Euro 4 untuk memenuhi pasar global.
 
Sudah menjadi rahasia umum jika regulasi yang disusun selalu memakan waktu yang cukup lama. Semakin lama waktu pembahasan, maka akan semakin banyak pula beban produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan.
 
“Industri sudah siap memproduksi Euro 4. Tapi bahan bakarnya di dalam negeri belum ada. Oleh karena itu penting juga kesiapan dari Pertamina sebagai penyedia bahan bakar,” kata Putu di acara Bincang Pintar Kemenhub, Kemenperin, Media dan Isuzu di Jakarta, Senin, 3 Februari 2020.
 
Selain menyiapkan infrastruktur dan ketersediaan bahan bakar, pemerintah juga harus melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terkait penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan standar emisi ini. Mengingat selama ini masyarakat Indonesia terlampau menikmati subsidi yang diberikan oleh pemerintah.
 
Bicara penerapan Euro 4, kita sudah sangat terlambat dan tertinggal dengan negara Thailand yang sudah lebih dulu menerapkan hal ini pada industri otomotif.
 
"Di Thailand produksi otomotifnya sudah menggunakan standar Euro 4. Oleh karenanya 70 persen hasil produksinya bisa di ekspor. Kebalikannya dengan Indonesia, 30 persennya yang baru bisa diekspor karena belum menggunakan standar Euro 4," pungksas Putu.
 


 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif