Sosialisasi perluasan sistem ganjil-genap. MI/Saskia Anindya Putri
Sosialisasi perluasan sistem ganjil-genap. MI/Saskia Anindya Putri

Lalu Lintas

Menakar Efektifitas Ganjil Genap di PSBB Transisi

Otomotif
M. Bagus Rachmanto • 05 Agustus 2020 12:12
Jakarta: Sistem ganjil genap kembali diberlakukan. Namun penerapan sistem ini di tengah pandemi covid-19 dinilai tak tepat. Sistem itu dianggap meningkatkan risiko penularan covid-19 di transportasi umum.
 
"Karena menambah kesulitan masyarakat. Dasar kebijakan tidak jelas," tegas anggota DPRD DKI Fraksi PDI Perjuangan Gilbert Simanjuntak melalui keterangan tertulis, Selasa, 4 Agustus 2020.
 
Menurut dia, kemacetan di Jakarta bukan alasan mendesak karena sekolah belum dibuka. Dia menilai penerapan protokol kesehatan merupakan kunci meminimalisasi penyebaran covid-19. Sedangkan protokol kesehatan sulit diterapkan di transportasi umum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat rakyat berusaha untuk mencari nafkah atau menjaga keberlangsungan usaha, terasa tidak bijaksana membatasi pergerakan mereka atau meningkatkan risiko rakyat terpapar covid-19 di kendaraan umum," ujar dia.
 
Dia menyebut Pemprov DKI juga tak menambah jumlah armada baru transportasi umum, seperti PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Pihak transportasi umum justru hanya memodifikasi atau mengalihkan armada ke wilayah ganjil genap.
 
Hal tersebut senada dengan pernyataan pengamat kebijakan publik Ichsanudin Nursy saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 5 Agustus 2020. Masyarakat dinilai lebih mementingkan kondisi ekonomi ketimbang aturan.
 
"Orang sudah tidak peduli. Kondisinya sudah kesulitan kalau diibaratkan banjir sudah sampai leher, sebentar lagi kelelep," kata pengamat kebijakan publik Ichsanudin Nursy saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 5 Agustus 2020.
 
Menurut dia, penerapan gage sejatinya bertujuan menurunkan pemakaian bahan bakar yang dapat menghemat Rp10 triliun sampai Rp15 triliun. Namun kenyataannya, penerapan gage tidak berdampak signifikan bagi volume lalu lintas.
 
Sementara itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebut volume kendaraan menurun dua persen selama penerapan gage, sedangkan penumpang TransJakarta naik dua persen. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI mengeklaim ada peralihan dari penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
 
"Dari jumlah kendaraan 24 juta itu, 75 persen kendaraan bermotor, 23 persen kendaraan roda empat dan dua persen kendaraan umum. Begitu gage, sedikit sekali berkurangnya macet," ucap Ichsan.
 
Meski begitu, dia setuju bila kebijakan gage diterapkan. Hanya saja, kebijakan itu tidak bisa diterapkan kepada kendaraan roda dua.
 
(UDA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

1593070590673

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif