Biodiesel yang kembali digalakkan, sebenarnya sudah pernah dilakukan pengujian di 2006 menggunakan minyak tanmaan jarak. Foto Antara//Ahmad Subaidi
Biodiesel yang kembali digalakkan, sebenarnya sudah pernah dilakukan pengujian di 2006 menggunakan minyak tanmaan jarak. Foto Antara//Ahmad Subaidi

Rencana Biofuel 100 Persen, De Javu Jatropha Oil 2006

Otomotif bahan bakar gas
Ahmad Garuda • 19 Februari 2019 07:05
Jakarta: Wacana penggunaan bahan bakar nabati 100 persen yang dikatakan Joko Widodo dalam debat Calon Presiden 2019 pada Minggu (17/2/2019), menuai pro dan kontra di kalangan warganet. Namun jika coba melirik beberapa tahun ke belakang, pada dasarnya, bahan bakar minyak nabati bukan sesuatu yang baru.
 
Tepat pada Juli 2006 silam, mungkin sebagian dari Anda masih ingat dengan pengujian minyak jarak (jatropha oil) yang dilakukan tim National Geographic Indonesia yang juga dibantu oleh tim dari Tabloid Otomotif. Dalam pengujian tersebut terdapat dua mobil yang dipasok Mitsubishi yaitu Strada sebagai bahan riset.
 
Kedua mobil tersebut menggunakan bahan bakar minyak jarak dengan kandungan berbeda. Strada yang pertama menggunakan campuran solar dengan minyak jarak sebesar 50 persen, kemudian Strada yang kedua menggunakan bahan bakar minyak jarak 100 persen.

Mengapa Minyak Jarak?

Minyak jarak yang digunakan dalam Jatropha Expedition 2006 adalah produk murni dari pengolahan biji jarak. Dari informasi resmi Jatropha Expedition 2006 saat itu, kadar asam lemak bebas (FFA) dalam minyak jarak murni berhasil ditekan hingga 0,077 persen dan kadar fosfor serendah 0,35 ppm tanpa penambahan zat apapun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rencana Biofuel 100 Persen, De Javu Jatropha Oil 2006
Mobil yang digunakan untuk menguji dan membawa minyak jarak
 
Pemakaian minyak jarak murni akan menekan ongkos produksi bahan bakar minyak sehingga harga jual menjadi lebih murah, lebih mudah dibuat dan rendah polutan berbahaya. Penambahan metanol saat pengolahan minyak jarak memang akan menghilangkan FFA, namun minyak jarak akan menjadi metil ester atau termasuk biodiesel.
 
Penambahan ini akan menghilangkan banyak keunggulan jarak. Selain itu, prosesnya lebih rumit dan lebih berisiko. Untuk mesin diesel sengaja tak dilakukan perubahan. Namun ada tambahan konverter. Alat ini berfungsi menurunkan kekentalan minyak jarak murni dan mengatur buka-tutup minyak jarak murni dengan solar ke bagian mesin.
 
Kinerjanya adalah, saat pertama kali dinyalakan, mesin harus dipancing dengan solar. Begitu pula ketika akan dimatikan, mesin dibilas dengan solar.


Masalah Utama Penggunaan Bahan Bakar Nabati Murni

Sebagaimana pengalaman yang dirasakan tim Jatropha Expedition 2006, beberapa kalangan memprediksi akan mirip masalahnya. Yaitu bahan bakar akan sulit 'dicerna' mesin dalam suhu lingkungan yang rendah (kondisi dingin). Tingkat kekentalan minyak makin tinggi inilah yang menjadi masalah utamanya.
 
Menurut B. Prabowo perwakilan PT Agraprana yang membuat converter kit saat itu, bahwa masalahnya adalah di sistem kerja untuk memanaskan bahan bakar sebelum dikonsumsi mesin. Yaitu jalur pipanya dibelokkan ke dalam radiator dan memanfaatkan panas di komponen itu. Masalahnya, katup aliran pendinginan dari radiator ke mesin ditutup jika suhu udara turun drastis untuk menjaga mesin diesel bisa bekerja.
 
Rencana Biofuel 100 Persen, De Javu Jatropha Oil 2006
Alur kerja minyak jarak di mesin diesel yang pernah dibuat
 
"Dalam kondisi ini, konverter tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, karena temperatur udara turun begitu rendah. Mesin secara otomatis menutup aliran cairan pendinginnya ke radiator. Ini bertujuan, agar panas dari mesin itu tak terbuang percuma dan membuat mesin tidak bekerja efisien," klaim B. Prabowo.
 
Lantaran aliran cairan pendingin ke radiator terhenti, otomatis konverter tak mendapatkan energi panas yang dibutuhkan untuk menurunkan viskositas minyak jarak. Akibatnya, minyak jarak menjadi kental, sehingga alirannya terhambat saat melewati filter. Pada akhirnya pasokan bahan bakar ke mesin menjadi terganggu.
 
Masalah tersebut akhirnya diatasi pada prototipe berikutnya. Lantaran aliran minyak jarak tak lagi melalui pemanasan di radiator. Tapi mengambil panas dari aliran cairan pendingin di dalam mesin.
 
Hal yang kedua yang digarisbawahi B. Prabowo adalah kestabilan minyak jarak murni yang kurang mumpuni di temperatur yang begitu rendah. "Tapi mohon diingat, minyak jarak yang dipakai adalah minyak jarak murni tanpa ditambah aditif setetes pun."
 
Lalu bagaimana dengan biodiesel B100 nantinya? Bisa jadi sistem konverter kit ini masih akan populer sebagaimana bahan bakar gas di mesin mobil yang menggunakan bahan bakar minyak. Namun jika industri melakukan penyesuaian langsung dengan membuat sistem kinerja mesin yang menyesuaikan B100, juga tak menutup kemungkinan. Sayangnya, tak satu pun perwakilan APM yang mau buka mulut soal ini.
 
Tentu bukan hanya industri yang ditantang dengan bahan bakar nabati murni ini. Namun juga perusahaan energi milik negara seperti Pertamina dan perusahaan energi milik swasta.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi