Hyundai memberikan edukasi kepada pemasok komponen pabriknya di Indonesia. Hyundai
Hyundai memberikan edukasi kepada pemasok komponen pabriknya di Indonesia. Hyundai

Industri Otomotif

Peralihan Mendadak Ke Mobil Listrik, Awas Produsen Komponen "Tercekik"

Otomotif industri otomotif mobil listrik komponen otomotif ITB Kendaraan Listrik gaikindo
Ekawan Raharja • 16 Oktober 2021 12:00
Jakarta: Pemerintah kini sudah mempersiapkan sejumlah langkah menuju kendaraan listrik dan siap untuk memasuki masa transisi. Ketika menuju peralihan ke era mobil listrik, para pelaku industri otomotif harus juga memperhatikan nasib para pelaku industri pendukung otomotif atau pemasok komponen otomotif.
 
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menekankan peralihan dari mobil bermesin konvensional menuju mobil listrik tidak mengganggu industri pendukung otomotif lainnya. Sebab tercatat setidaknya ada 1,5 juta karyawan yang bekerja di industri pendukung otomotif Tier 1 sampai Tier 3 yang perlu diperhatikan.
 
“Perlu ada transisi teknologi untuk meminimalisir dampak perubahan struktur industri supplier sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Pengalihan teknologi diharapkan berjalan secara alami, bisa cepat atau lambat tetapi sebaiknya mengakomodasi semua pihak,” ujar Ketua V Gaikindo, Shodiq Wicaksono, Jumat (15-10-2021) melalui jumpa pers virtual.
 
Ketua Umum Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Hamdhani Dzulkarnaen Salim, memperkirakan sekitar 47 persen perusahaan komponen yang menjadi anggota asosiasinya akan terdampak kebijakan kendaraan listrik. “Terutama perusahaan yang yang memproduksi mesin dan ribuan komponen di dalamnya, kemudian produsen transmisi juga akan terpengaruh, yang memproduksi tangki dan filter BBM serta oli, sampai exhaust valve pasti akan terpengaruh,” tegas Hamdhani.
 
Pengembangan mobil listrik di Indonesia, menurut Hamdhani, mau tidak mau membuat anggota GIAMM yang nanti hasil produksinya tidak lagi digunakan untuk membuat komponen baru dengan nilai investasi yang tidak sedikit. “Untuk bisa melakukan itu, kami perlu rekan yang mumpuni di bidang teknologi kendaraan listrik. Sementara kalau diperhatikan, pabrikan otomotif contohnya Toyota, Hyundai, Tesla, dan Nissan itu mereka justru memiliki pabrik baterai sendiri. Buat kami, ini menjadi tantangan,” jelasnya.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif