PM Nomor 73 Tahun 2019 mengatur harmonisasi PPnBM kendaraan bermotor akan didasarkan pada tingkat emisi. ANTARA FOTO/Galih Pradipta
PM Nomor 73 Tahun 2019 mengatur harmonisasi PPnBM kendaraan bermotor akan didasarkan pada tingkat emisi. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Harmonisasi PPnBM MPV atau Sedan, Kini Pakai Emisi

Otomotif pajak kendaraan
Ekawan Raharja • 25 Oktober 2019 18:21
Jakarta: Pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan baru mengenai skema Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) melalui Peraturan Pemerintah (PM) Nomor 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBM. Peraturan yang berisikan delapan bab dan 47 pasal ini mengatur dasar pengenaan PPnBM yang kini dihitung berdasarkan emisi gas buang atau konsumsi bahan bakar.
 
Di peraturan sebelumnya, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2014, menjelaskan bahwa pengenaan PPnBM atas kendaraan bermotor berdasarkan bentuk kendaraan. Kini pajak akan dihitung berdasarkan emisi gas buang dan konsumsi bahan bakar. Secara gampangnya, semakin rendah emisi gas buang yang dihasilkan dan konsumsi bahan bakar maka semakin rendah pajak PPnBM yang dikenakan.
 
Untuk kendaraan penumpang di bawah 10 orang termasuk supir (mobil-mobil) dengan mesin pembakaran dalam di bawah 3.000 cc akan dikenakan PPnBM 15 persen apabila catatan konsumsi bahan bakarnya mencapai 15,5 kilometer per liter atau emisi carbon dioksida (CO2) di bawah 150 gram per kilometer. PPnBM sebesar 20 persen akan dikenakan untuk kendaraan dengan konsumsi bahan bakar 11,5-15,5 kilometer per liter atau CO2 yang dihasilkan 150-200 gram per kilometer.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya pengenaan PPnBM 25 persen akan diberikan bila konsumsi bahan bakarnya mencapai 9,3-11,5 kilometer per liter atau CO2 yang dihasilkan mencapai 200-250 gram per liter. Kemudian PPnBM sebesar 40 persen akan diberikan apabila konsumsi bahan bakarnya tidak mencapai 9,3 kilometer per liter atau CO2 yang dihasilkan lebih dari 250 gram per kilometer.
 
Sedangkan untuk mobil-mobil bermesin 3.000-4.000 cc dikenakan PPnBM mulai dari 40 persen hingga 70 persen. Biasanya mobil dengan mesin 3.000 cc ke atas sudah tergolong sportcar dan populasinya di Indonesia tidak sebanyak mobil dengan 3.000 cc ke bawah.
 
PPnBM sebesar 15 persen juga diberikan untuk mobil-mobil dengan sumber tenaga full listrik. Mobil dengan sumber tenaga full listrik ini merupakan kendaraan dengan mengandalkan motor listrik dan dikombinasikan dengan baterai.
 
Berbeda untuk mobil listrik hybrid dan mild hybrid akan diberikan pajak PPNM mulai dari 15-30 persen. Sedangkan untuk mobil berteknologi plug-in hybrid dan fuel cell yang mampu mencapai konsumsi bahan bakar 28 kilometer per liter mendapat tarif PPnBM 15 persen.
 
Peraturan ini rencananya akan mulai diberlakukan dua tahun setelah disahkan. PM Nomor 73 Tahun 2019 ini sudah disahkan oleh Presiden Joko Widodo per 15 Oktober 2019, dan mulai diterapkan pada Oktober 2021.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif