Strategi dalam mendukung pengembangan LCEV di antaranya melalui pemberian insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday. Medcom.id/Ekawan Raharja
Strategi dalam mendukung pengembangan LCEV di antaranya melalui pemberian insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday. Medcom.id/Ekawan Raharja

Kendaraan Listrik Penting untuk Menjaga Kemandirian Energi

Otomotif industri otomotif mobil listrik motor listrik
Ekawan Raharja • 12 Mei 2019 10:33
Jakarta: Pemerintah terus mematangkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kendaraan listrik di Indonesia. Bahkan salah satu tujuan dari pengembangan regulasi kendaraan listrik ini untuk menjaga kemandirian energi di Indonesia.
 
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menjelaskan berkembangnya tren industri mobil listrik di kancah global, membuat Indonesia menargetkan produksi mobil bertenaga listrik bisa mencapai 20 persen dari total produksi pada tahun 2025. Selepas tahun 2025, targetnya akan dinaikkan menjadi 30 persen pada tahun 2030. Target tersebut diharapkan menopang tujuan untuk menekan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030 sekaligus menjaga kemandirian energi nasional.
 
“Artinya, nanti ada 400 ribu unit. Beberapa dari mereka memang sudah investasi di Indonesia, dan sepertinya akan mulai investasi di electric vehicle dalam satu hingga dua tahun mendatang,” ungkap Airlangga Hartarto melalui keterangan resminya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Airlangga menambahkan pengembangan kendaraan listrik akan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Hal ini berpotensi menghemat devisa sekitar Rp789 triliun.
 
Sejumlah pihak optimistis Indonesia mampu mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi bahan bakar hijau untuk kendaraan. Pemanfaatan teknologi canggih diyakini dapat membantu menyikapi kebutuhan energi alternatif. Selain sawit, Indonesia juga berpeluang mengembangkan energi dari ganggang guna menjadi bahan bakar.
 
“Indonesia juga akan mengandalkan cadangan bijih nikelnya yang melimpah, sebagai bahan baku utama dalam pembuatan baterai kendaraan atau peralatan listrik, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik investasi bagi perusahaan asing yang ingin memperluas produksi,” terangnya.
 
Upaya mengolah sumber daya alam melalui kebijakan hilirisasi industri telah mampu meningkatkan nilai tambah. Selain dapat menstabilkan harga komoditas, hilirisasi juga dipacu untuk menyubstitusi impor bahan baku.
 
Indonesia akan memiliki pabrik yang memproduksi material energi baru dari nikel laterit. Ini melalui investasi PT QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, yang ditargetkan akan beroperasi pada pertengahan tahun 2020.
 
Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy tersebut akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Total investasi yang ditanamkan sebesar USD700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai USD800 juta per tahun.
 
Menperin menambahkan, strategi dalam mendukung pengembangan LCEV, di antaranya melalui pemberian insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama, seperti industri baterai dan industri motor listrik (magnet dan kumparan motor). Insentif ini diyakini dapat meningkatkan investasi masuk ke Indonesia. Kebijakan ini terus didorong oleh Kemenperin, karena untuk memacu industri dapat lebih berdaya saing dan menguasai pasar global ke depannya.
 
“Kemudian, kami juga telah mengusulkan insentif super deductible tax sampai dengan 300 persen untuk industri yang melakukan aktivitas litbang dan desain, serta 200 persen untuk industri yang terlibat dalam kegiatan vokasi,” tutur Airlangga.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif