Kajian Mobil Listrik

Kajian Sementara, Mobil Listrik Bisa Hemat Hingga 80 Persen

Yanurisa Ananta 07 November 2018 13:47 WIB
mobil listrik
Kajian Sementara, Mobil Listrik Bisa Hemat Hingga 80 Persen
Presiden Joko Widodo menjajal motor listrik Gesits. Medcom.id/Fikar
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama enam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah merampungkan kajian mengenai mobil listrik fase satu. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, berdasarkan kajian penggunaan mobil listrik dapat menghemat energi 50 persen hingga 80 persen.

Airlangga mengatakan, jenis mobil listrik hybrid saja bisa menghemat 50% energi. Kemudian, jenis plug in hybrid menghemat 75 persen sampai 80 persen.

"Artinya kalau penggunaan B20 saja bisa menghemat sekitar enam juta kilo liter maka dengan hybrid atau plug in hybrid akan dua kali penghematan," tuturnya seusai membuka acara Laporan Fase 1 Kajian Mobil LIstrik di gedung Kemenperin, Selasa (6/11).


Profesor dari Institut Teknologi Bandung (ITB) LAPI )Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri), Agus Purwadi yang telah melakukan penelitian mobil listrik di Kota Bandung dan sekitarnya mengatakan, agar lebih efektif penggunaan mobil listrik perlu disediakan di ruang publik dan perkantoran.

"Beberapa negara sudah memiliki kebijakan penjualan kendaraan. Negara-negara tersebut akan menggencarkan penjualan mobil listrik Amerika Seikat (AS) pada 2030, Prancis 2040. Memang ini mengarah pada pengefektifan mobil listrk," tuturnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama enam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah merampungkan kajian terkait efektivitas mobil listrik fase 1. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, studi akan berlanjut hingga Januari 2019

"Jadi di fase studi ini ada enam perguruan tinggi yang terlibat. Mereka melakukan studi tentang plug in hybrid dan hybrid dan mengukur durability juga ekosistem terkait ketersediaan infastrukturnya," ungkap Airlangga dalam acara Laporan Akhir Kajian Mobil Listrik Fase 1 di Gedung Garuda Kemenperin, Selasa (6/11).

Adapun perguruan tinggi negeri yang terlibat di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah mada (UGM), Universitas Udayana, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id