NEWSTICKER
Setup regeneratif braking di posisi menengah di Outlander PHEV, membuat energi panas di sistem pengereman diubah kembali jadi energi listrik untuk mengisi baterai. medcom.id/Ahmad Garuda
Setup regeneratif braking di posisi menengah di Outlander PHEV, membuat energi panas di sistem pengereman diubah kembali jadi energi listrik untuk mengisi baterai. medcom.id/Ahmad Garuda

Tips Berkendara Mobil Listrik

Adaptasi Berkendara Mobil Listrik, Penting untuk Efisiensi

Otomotif mitsubishi mobil listrik
Ahmad Garuda • 24 Februari 2020 07:54
Jakarta: Berkendara mobil listrk bukan sebuah hal yang mudah jika Anda sudah terbiasa berkendara menggunakan mobil pembakaran dalam. Mengingat perilaku berkendara kendaraan tanpa emisi itu sangat berbeda dengan mobil bermesin konvensional.
 
Di antara hal yang berbeda adalah mesin tanpa suara, lalu sistem pengereman regeneratif, memperhitungkan jarak tempuh dan memperhitungkan stop point. Hal inilah yang kemudian yang akan emmbuat perilaku berkendara berubah secara signifikan.
 
"Berkendara mobil dengan penggerak murni dari motor listrk atau pun yang punya penggerak dari mesin hybrid, itu sangat berbeda dengan berkendara mobil yang berpenggerak dari mesin pembakaran internal saja. Kita patut mengubah perilaku dan beradaptasi dengan cara berkendara di mobil ini. Lantaran ini akan menjadi patron seberapa efisien kita berkendara nantinya," jelas Asisten Manager Product Strategy PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Hanif Rizky kepada Medcom.id beberapa waktu lalu.

Adaptasi Menentukan Efisiensi

Penasaran dengan cara berkendara mobil hybrid ala MItsubishi, saya pun sempat menjajal Outlander PHEV yang tahun lalu resmi diluncurkan untuk pasar Indonesia. Mobil ini mempunyai dua penggerak yaitu mesin pembakaran internal dengan kapasitas mesin 2,000 cc dan dua motor listrik yang terdapat di depan dan di belakang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu hal apa saja yang patut diadaptasi saat mengendarai mobil ini? Ada beberapa hal yang wajib dipahami. Yaitu regeneratif braking atau sistem pengereman regeneratif untuk mengisi ulang baterai yang diambil dari energi panas dari sistem pengereman yang diubah jadi energi listrik dan dipasok ke baterai.
 
Penting memahami kinerja sistem ini, lantaran regeneratif bisa diatur lewat panel paddle shift di belakang kemudi. Tombol ini kalau di mobil tipe sport berfungsi untuk melakukan mengoper gigi untuk berakselerasi dan deselerasi. Namun di mobil yang ditenagai motor listrik atau kombinasi mesin konvensional, punya fungsi untuk mengatur level regeneratifnya.
 
"Jadi ada aturannya, sistem regeneratif di mobil ini bisa diatur sampai 5 level. Level 1 itu adalah paling minim hambatan (pengeremannya sangat sedikit sehingga energi panas yang diubah jadi energi listrk sangat sedikit). Sementara level 5 adalah level yang paling berat. Sehingga ketika pedal gas diangkat, mobil seakan melakukan pengereman sendiri."
 
Lalu, apakah Anda bisa mengaktifkan atau menonaktifkan regeneratif braking di mobil tersebut? Jawabannya tentu tergantung dari produsen mobil dan mereknya. Lantaran ada juga mobil listrik atau hybrid yang sudah menyertakan regeneratif braking secara otomatis.
 
"Semuanya tergantung pabrikannya. Kalau di Outlander PHEV, sistem regeratif akan selalu aktif, hanya modenya saja yang berudah. Misalnya kita berkendara dengan mode regeratif braking di posisi B5, maka ketika mobil berhenti, mode ini akan pindah ke mode berkendara D dengan standar regeneratif braking secara otomatis pindah ke B3. Makanya penting untuk melakukan adaptasi ke mobil listrik, karena sistem yang beda antara brand mobil satu dengan lainnya."
 
Terakhir, Hanif juga menegaskan bahwa dari perilaku ini, bisa membuat mobil hybrid atau mobil listrik bisa lebih irit. Apalagi pandai memanfaatkan regeneratif braking, jarak tempuhnya bisa jadi lebih jauh. Hmm tertarik mencoba?
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif