VW Kodok Stop Produksi

Si 'Kodok' Terlalu Manis untuk Dilupakan

M. Bagus Rachmanto 18 September 2018 08:26 WIB
industri otomotif
Si 'Kodok' Terlalu Manis untuk Dilupakan
Suasana ramai ajang pameran komunitas Volkwagen yang berlangsung di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko
Jerman: Di industri otomotif dunia, Volkswagen (VW) dikenal dengan mobil-mobilnya yang ikonik. Di antaranya adalah model van VW Kombinationsfahrzeug atau VW Kombi, dan model Beetle yang di Indonesia dikenal sebagai VW Kodok. 

Seperti diketahui, pabrikan mobil Jerman telah menghentikan produksi VW Kombi sejak 2013. Alasannya, keberadaan VW Kombi dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, dan tidak sejalan dengan undang-undang perihal emisi serta masalah keamanan untuk kendaraan baru, di mana setiap mobil diharuskan memasang airbag dan anti-lock breaking system. 

Nahas, kini nasib serupa juga bakal dialami oleh saudaranya, yakni model Beetle. Dengan alasan berbeda, Volkswagen berniat mengakhiri produksi mobil ikoniknya itu pada 2019, akibat penjualannya terus menurun dalam beberapa tahun belakang. Salah satunya pasar di Amerika Serikat (AS) yang mulai beralih ke mobil-mobil berukuran besar seperti crossover dan SUV. 



Ajang kopi darat antar komunitas pecinta VW di Lampung. Komunitas VW di seluruh dunia dikenal sangat kreatif dalam mendandani, memodifikasi dan memperbaiki tunggangannya. Antara Foto/Agus Setyawan

Sedikit kilas balik untuk mengenang keberadaanya setelah tiga generasi atau hampir tujuh dekade meramaikan industri otomotif dunia. VW Beetle lahir di zaman Nazi Jerman pada 1930an. Awal mulanya, pemimpin Nazi, yakni Adolf Hitler menginginkan tersedianya kendaraan pribadi untuk masyarakat umum, kemudian menugaskan seorang insinyur bernama Ferdinand Porsche untuk merancang kendaraan tersebut. 

Hitler mensyaratkan bahwa kendaraan ini harus mampu mengangkut dua orang dewasa dan tiga anak kecil, bisa melaju hingga kecepatan 100 km per jam, dan harganya terjangkau, tidak melebihi harga sepeda motor yang dilengkapi boncengan samping, pada waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, dan atas usaha seorang tentara Inggris bernama Mayor Ivan Hirst, perusahaan Volkswagen ternyata dapat bertahan hingga Perang Dunia usai. Kemudian Hirst diperintahkan untuk mengepalai pabrik yang telah rusak dibombardir Sekutu dan dikuasai AS. Berkat usahanya, Ia pun berhasil meyakinkan angkatan bersenjata Inggris untuk memesan 20 ribu unit mobil. Pada 1946, pabrik tersebut telah mampu memproduksi 1.000 unit mobil per bulan.

Produksi VW Kodok "Type 1" berkembang pesat dari tahun ke tahun, dan pada 1954 mencapai 1 juta unit mobil. Pada 1973, produksinya tembus di angka 16 juta unit mobil, dan popularitasnya telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. 

Meski desain atau bentuknya yang khas mengalami perubahan dan dimodernisasi, Beetle selalu ada dan punya tempat tersendiri di hati penggemarnya. Bagi sebagian kalangan, khususnya penggemar setianya, pastinya akan merasa kehilangan ketika Beetle disuntik mati, karena terlalu banyak kenangan manis yang tak terlupakan bersama si 'Kodok'. Mobil klasik yang tergolong barang antik dan langka ini pun punya penggemar fanatik yang tergabung dalam berbagai klub atau komunitas VW Beetle yang tersebar di seluruh dunia, guna melestarikan populasinya.

Untuk menggambarkan bentuknya yang unik, VW Beetle memiliki julukan yang berbeda-beda pada setiap negara, seperti Käfer di Jerman, Fusca di Brasil, Coccinelle di Perancis, Scathari yang berarti kumbang di Yunani, Maggiolino di Italia, Sedán atau Vocho di Meksiko, Kever di Belanda, Kotseng Kuba (mobil punggung bongkok/pagong (kura-kura) di Filipina, Garbus (Bongkok) di Polandia, Brouk di Republik Ceko, Carocha di Portugal, Escarabajo di Spanyol dan Amerika Latin, Hipushit di Israel (Kostenurka) di Bulgaria (kura-kura), Ag-ru-ga di Iraq, Boble (gelembung) di Norwegia, Buba di Kroasia, Bug di AS dan dan tentunya Kodok di Indonesia.

*diolah dari berbagai sumber



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id