Kuantitas ekspor turun, Toyota berdalih soal gejolak ekonomi global sedang tak baik. TMMIN
Kuantitas ekspor turun, Toyota berdalih soal gejolak ekonomi global sedang tak baik. TMMIN

Tantangan Berat Ekspor Otomotif Nasional

Otomotif penjualan mobil industri otomotif
Ahmad Garuda • 27 Mei 2019 09:26
Jakarta: Gejolak perekonomian global serta adanya tendensi proteksionisme di beberapa negara, mulai membawa dampak bagi pertumbuhan ekspor otomotif nasional. Volume ekspor kendaraan utuh (Complete Build Up/CBU), terlihat mulai menurun dan ini menjadi sentimen negatif sektor otomotif nasional ke otomotif global.
 
Salah satu pabrikan yang mengeluhkan hal ini adalah Toyota yang pada Januari hingga April 2019 tercatat mengalami penurunan kuantitas ekspor jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Yaitu dari 61.600 unit turun 6 persen dari jumlah 65.700 unit.
 
Dalam keterangan resminya disebutkan, beberapa penyebab turunnya kinerja ekspor kendaraan utuh bermerek Toyota, antara lain karena kondisi perekonomian di negara destinasi tujuan ekspor terutama di kawasan Timur Tengah dan Filipina, mengalami gejolak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari total volume ekspor CBU bermerek Toyota tersebut, kontributor terbesar masih dipegang oleh model Sport Utility Vehicle (SUV) Fortuner dengan volume 14.400 unit atau 23 persen dari total volume ekspor. Disusul Rush dengan volume 12.600 unit (20 persen), serta Agya di tempat ke tiga dengan volume 10.800 unit (18 persen). Model-model lainnya adalah Vios, 7.500 unit, Avanza 8.400 unit, Kijang Innova, Sienta, Yaris serta Town Ace/Lite Ace dengan total volume 7.900 unit.
 
Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menjelaskan, situasi ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan menjadi resiko yang telah diperhitungkan oleh korporasi.
 
“Naik turunnya kondisi perekonomian di sebuah negara tujuan ekspor merupakan hal di luar kontrol atau kendali kita dan tidak terhindarkan. Namun demikian, hal-hal seperti ini tentu telah kami perhitungkan dalam manajemen resiko,” ungkap Bob Azam.
 
Ekspansi Ekspor
Walaupun kinerja ekspor CBU di periode caturwulan pertama tahun 2019 ini kurang memuaskan, TMMIN tidak mengoreksi target pertumbuhan ekspor dan masih optimis bahwa pertumbuhan di atas 5 persen hingga akhir tahun 2019 dapat dipenuhi.
 
“Belum ada koreksi terhadap target ekspor. Kami masih optimis target pertumbuhan di atas 5 persen dapat tercapai. Mulai pertengahan tahun, akan ada ekspansi ekspor ke beberapa negara tujuan baru di kawasan Amerika Tengah. Ditambah adanya permintaan fleet order dari negara-negara Timur Tengah diharapkan bisa membantu tercapainya target yang ditetapkan.”
 
Penambahan negara tujuan di kawasan Amerika Tengah tersebut melalui proses yang tidak singkat. Studi pasar termasuk peraturan dan regulasi di negara kandidat tujuan ekspor baru dilakukan langsung oleh divisi terkait di TMMIN sejak tahun 2018 yang lalu.
 
Pada November tahun lalu, TMMIN mengundang para distributor dari kandidat negara tujuan ekspor baru ke Indonesia untuk melihat proses produksi di pabrik Karawang serta berdiskusi mengenai hal-hal yang terkait dengan tren pasar dan karakteristik konsumen di negara-negara tersebut. Setelah seluruh proses studi selesai, TMMIN kemudian mengusulkan potensi perluasan ekspor ini ke pihak prinsipal untuk mendapatkan persetujuan.
 
“Persaingan yang semakin sengit, ditambah dengan kondisi ekonomi global yang kurang stabil, membuat kami harus semakin proaktif dalam meningkatkan performa ekspor, tidak hanya menunggu order dari prinsipal. TMMIN membuat divisi khusus yang bertugas mencari pasar-pasar tujuan ekspor baru sebagai upaya dalam menjawab tantangan tersebut.”
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif