In Memoriam Mohammad Sarengat

Sarengat Sempat Terobsesi jadi Pesepakbola

13 Oktober 2014 17:32
medcom.id, Jakarta: Mohammad Sarengat mungkin menjadi satu-satunya sprinter yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Jika dibandingkan yuniornya, Purnomo, Mardi Lestari, Suryo Agung hingga Franklin Ramses, nama Sarengat lebih dulu mengharumkan nama Indonesia. Hebatnya, Sarengat mencatatkan prestasinya di ajang Asian Games IV tahun 1962, event olahraga terbesar se-Benua Asia. Sarengat saat itu menyumbangkan dua medali emas buat Merah Putih di nomor 110 meter lari gawang putra dan di nomor bergengsi 100 meter putra. Prestasi Sarengat di nomor 100 meter Asian Games, hingga kini belum ada sprinter nasional yang menyamainya.
 
Mohammad Sarengat dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, tanggal 28 Oktober 1940. Sarengat adalah anak tertua dari 10 bersaudara. Orang tuanya adalah seorang guru dan sekaligus pemain tenis. Sejak di sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, Sarengat terobsesi dengan pamannya yang penjaga gawang PSSI, Mursanyoto, Sarengat pun sempat menjadi penjaga gawang di kesebelasan sekolahnya. Sarengat muda kemudian bergabung dengan klub Indonesia Muda (IM) Surabaya. Sayang, Sarengat yang kerap menempati bangku cadangan kemudian beralih ke cabang olahraga atletik.
 
Hingga suatu hari, Sarengat menjuarai lomba lari tingkat SMA di Surabaya. Sejak itu Sarengat dilirik Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dan diboyong ke Jakarta. Sibuk jadi atlet, pendidikan Sarengat pun terganggu. Bahkan harus mengulang tiga kali untuk bisa lulus di SMA.

Sempat bertemu Bung Karno, pemimpin besar Revolusi itu pun berpesan, “Sarengat, rakyat telah melimpahkan kamu di Pelatnas selama setahun, mulai dari pakain kamu dan sepatumu, sekarang rakyat minta bukti.”
 
Kata-kata itulah yang memicu semangat dan tekad Sarengat. Ia berlatih hampir setiap saat. “Latihan itulah yang memicu kecepatan dan kekuatan otot-otot saya,” katanya.
 
Bung Karno sangat menghargai Sarengat. Sampai-sampai Bung Karno berkelar, “Stadion Utama Senayan dibuat untuk Sarengat.”
 
Selain menjadi olahragawan, Sarengat juga berhasil menuntaskan kuliahnya di Fakultas Kedokteran UI. Ia sempat menjadi Dokter Pribadi Wakil Presiden Adam Malik. Sarengat juga sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia di tahun 1992.
 
Pas di tahun 2009, Sarengat tiba-tiba terserang stroke dan dilarikan ke rumah sakit. Sejak itu, Sarengat pun keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, sang Khalik lebih menyayangi Sarengat. Pada Senin 13 Oktober 2014, mantan manusia tercepat Asia itu kembali keharibaan Yang Kuasa. Selamat jalan pahlawan, jasa-jasa Sarengat bagi bangsa Indonesia sangat besar. Ia adalah pahlawan bangsa di bidangnya: olahraga.(Disarikan RIZ dari berbagai sumber)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RIZ)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan