Juru kamera Metro TV, Dian Aristia saat tiba di Bandara Galaeo Rio de Janeiro untuk bertugas meliput Olimpiade 2016 (Foto: Metro TV/Widya Saputra)
Juru kamera Metro TV, Dian Aristia saat tiba di Bandara Galaeo Rio de Janeiro untuk bertugas meliput Olimpiade 2016 (Foto: Metro TV/Widya Saputra)

Catatan Widya Saputra dari Rio de Janeiro

Mais amor por favor, Permohonan Cinta dari Rio untuk Peserta Olimpiade

Widya Saputra & Dian Aristia • 05 Agustus 2016 18:17
<i>Mais amor por favor</i>, Permohonan Cinta dari Rio untuk Peserta OlimpiadeKALIMAT "Mais amor por favor" dengan ukuran yang cukup besar menyambut kedatangan tim Metro TV di Bandara Galaeo Rio de Janeiro, Brasil, Kamis 4 Agustus 2016. Lantas, apa arti kalimat di atas?
 
Dalam bahasa Inggris, "Mais amor por favor" berarti "More love please". Yang kemudian terlintas di pikiran saya adalah, "Kenapa memang? Apakah Rio kurang kasih sayang, sehingga harus ditulis besar besar tulisan seperti itu?"
 
Tak lama kemudian, pertanyaan yang mengganggu pikiran saya ini pun terjawab ketika bertemu dengan Diogo Dias, seorang sopir yang menjemput kami di Bandara.

Maksud dari tulisan itu ternyata merupakan bentuk permintaan pengertian dan cinta dari seluruh elemen peserta Olimpiade, bahwa upacara pembukaan dan penutupan tidak akan berlangsung dengan megah.
 
Seremoni pembukaan dan penutupan dilakukan secara sederhana, dengan biaya rendah produksi, mengingat pergolakan ekonomi dan politik yang sedang menimpa Brasil. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Brasil memang sedang kurang stabil, baik dari segi ekonomi maupun politik.
 
Fernando Meirelles, pembuat film Brasil yang juga bagian dari tim kreatif memperkirakan, dana untuk upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade Rio hanya sepersepuluh persen dari apa yang dianggarkan London ketika jadi tuan rumah Olimpiade empat tahun lalu. Sekadar informasi, London menghabiskan sekitar 80 juta Poundsterling atau setara Rp1,3 triliun (kurs 1 Poundsterling = Rp17.251).
 
Diogo juga mengakui bahwa dia termasuk ke dalam golongan warga yang kurang setuju ketika Brasil menjadi tuan rumah event olahraga akbar empat tahunan tersebut.
 
"Mengapa mementingkan Olympic for legacy ketika kami para warga masih kesulitan masalah sanitasi, pendidikan, belum lagi infrastruktur yang sudah pasti menjadi sasaran lahan korupsi," ujarnya.
 
"Di dalam hati, saya hanya bisa berdoa bahwa segala kegiatan Olimpiade baik dari pembukaan hingga penutupan akan berjalan lancar," tutupnya.
 
Meski nuansa gegap gempita kurang terasa hangat menyapa, namun spirit Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) akan lekat dalam kehidupan seluruh warga Brasil.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ACF)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan