Asian Para Games 2018

Rizal, Penjual Minyak Kayu Putih yang Menyumbangkan Medali Perak untuk Indonesia

Rendy Renuki H 09 Oktober 2018 11:50 WIB
Asian Para GamesBintang Arena Asian Para Games 2018
Rizal, Penjual Minyak Kayu Putih yang Menyumbangkan Medali Perak untuk Indonesia
Rizal Bagus Saktiyono menyumbangkan medali perak dari nomor lari 200 meter T45 putra. (Foto: Rendy Renuki/Medcom.id)
Jakarta: Kontingen Indonesia kembali menambah pundi medali Asian Para Games 2018, Selasa 9 Oktober pagi. Medali itu disumbangkan sprinter disabilitas, Rizal Bagus Saktiyono, pada nomor lari 200 meter T45 putra.

Rizal mampu finis di urutan kedua dengan catatan waktu 22.36 detik di lintasan lari Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Ia hanya terpaut 0.65 detik dari sprinter Tiongkok Wang Hao dengan waktu 21.71 di urutan pertama, dan unggul 0.17 detik dari wakil Iran Ahmad Ojaghlou dengan 22.53 detik.

"Sebelumnya saya enggak ada target apa pun, tapi saya berusaha memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Apalagi saya melihat musuh-musuh saya juara Asia, tapi saya punya semangat tersendiri karena bermain di kandang dan harus memberikan yang terbaik," ungkap sprinter 23 tahun tersebut.


Catatan tersebut sejauh ini menjadi waktu terbaik yang diperoleh anak yatim penjual minyak kayu putih tersebut. Sebelumnya, waktu terbaik dipegang Rizal yakni 22.55 detik di Kejuaraan Dunia Para Atletik Tiongkok, tiga bulan sebelum Asian Para Games 2018 dihelat.

Kehadiran langsung keluarganya di SUGBK juga menjadi motivasi tersendiri bagi Rizal. Ia ingin memberikan kebahagiaan untuk keluarganya yang memang berlatarbelakang kurang mampu.

"Saya ingin memberikan kebahagiaan untuk keluarga saya, karena saya terlahir dari keluarga susah. Orang tua saya wirausaha jualan minyak kayu putih. Bapak saya sudah meninggal dari saya kelas 2 SD. Sebelum jadi atlet, saya membantu ibu saya jualan," terang Rizal.

"Semenjak ditinggal bapak, di situlah saya merasakan bagaimana hidup susah dan membuat saya termotivasi. Walaupun dengan keterbatasan saya, saya harus bisa berguna bagi semua orang," kata atlet asal Tasikmalaya itu.

Meraih perak di cabang atletik perorangan membuat bonus Rp500 juta yang dijanjikan pemerintah menunggunya di depan mata. Namun, Rizal menegaskan tak akan menghabiskan sendiri bonusnya tersebut dan lebih memilih menggunakannya untuk membantu sesama.

"Saya punya prinsip apabila saya nanti diberi rezeki, saya akan gunakan untuk orang-orang yang membutuhkan, serta buat orang tua dan keluarga. Saya tidak ingin dihambur-hamburkan dengan hal yang tidak berguna. Karena saya sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang susah," tandas pria yang baru tiga tahun terjun menjadi atlet nasional tersebut. 

Awal karier Rizal sebagai atlet disabilitas dimulai di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Jawa Barat 2016 di Bandung. Prestasinya yang moncer membuat Ketua Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Senny Marbun memboyong dan menempanya di Solo.

Perjuangan Rizal pun berbuah manis. Berkat prestasinya sebagai atlet disabilitas, ia kini sedang menjalani proses penerimaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkup Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) demi mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

"Dari pemerintah, bapak Presiden Jokowi dan Menpora Imam Nahrawi memberikan saya kesempatan jadi PNS. Alhamdulillah ini sedang proses PNS di Kemenpora," tutupnya.

Cabor Lawn Bowl Sumbang Tiga Medali Emas untuk Indonesia




(FIR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id