Dilansir dari Healthline, sebagian besar cedera lari berkaitan dengan tekanan berulang pada tubuh. Meski begitu, cedera akut seperti keseleo juga dapat terjadi ketika pelari salah mendarat atau menginjak permukaan yang tidak rata.
Berikut delapan cedera yang umum dialami pelari beserta gejala yang perlu dikenali.
1. Runner's Knee
Runner's knee atau sindrom nyeri patellofemoral merupakan kondisi yang ditandai rasa sakit di bagian depan lutut atau sekitar tempurung lutut.Nyeri biasanya terasa semakin kuat saat berlari, naik tangga, jongkok, atau duduk terlalu lama dengan lutut tertekuk. Kondisi ini dapat berkaitan dengan beban latihan berulang serta kelemahan otot di sekitar pinggul dan lutut.
2. Achilles Tendinitis
Achilles tendinitis merupakan gangguan pada tendon Achilles, yaitu jaringan yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit.Cedera ini dapat muncul ketika pelari meningkatkan jarak atau intensitas latihan secara mendadak. Gejalanya meliputi nyeri di bagian belakang kaki dekat tumit, pembengkakan, dan rasa kaku saat menggerakkan pergelangan kaki.
Jika keluhan terus dibiarkan, cedera tendon Achilles dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
3. IT Band Syndrome
Iliotibial band syndrome atau IT band syndrome terjadi ketika jaringan ikat yang membentang dari pinggul hingga sisi luar lutut mengalami iritasi.Pelari biasanya merasakan nyeri tajam di sisi luar lutut, terutama ketika lutut ditekuk berulang kali saat berlari. Kelemahan otot pinggul dan bokong serta peningkatan beban latihan dapat menjadi faktor yang berkontribusi.
4. Shin Splints
Shin splints merupakan nyeri di sepanjang tulang kering, baik pada bagian depan maupun sisi dalam tungkai bawah.Kondisi ini sering berkaitan dengan peningkatan jarak lari yang terlalu cepat atau latihan berulang di permukaan keras. Gejalanya dapat berupa nyeri tumpul, rasa sakit yang memburuk saat berolahraga, dan nyeri ketika area tersebut disentuh.
Jika nyeri semakin parah atau menetap, pelari sebaiknya memeriksakan diri karena keluhan tersebut dapat menyerupai cedera lain, termasuk fraktur stres.
5. Cedera Hamstring
Hamstring adalah kelompok otot di bagian belakang paha yang membantu pergerakan kaki ketika berlari. Otot ini dapat mengalami tarikan atau robekan akibat beban berlebihan.Gejalanya meliputi nyeri di belakang paha, otot terasa kaku, serta rasa sakit ketika area tersebut disentuh atau digunakan untuk bergerak. Cedera bisa muncul secara tiba-tiba saat berlari cepat, tetapi juga dapat berkembang perlahan akibat tekanan berulang.
6. Plantar Fasciitis
Plantar fasciitis merupakan gangguan pada jaringan tebal di telapak kaki yang membantu menopang lengkungan kaki.Gejala khasnya adalah nyeri di bagian bawah tumit atau telapak kaki. Rasa sakit sering terasa ketika pertama kali bangun tidur atau setelah beristirahat lama, kemudian dapat muncul kembali setelah aktivitas berkepanjangan.
Peningkatan volume lari secara mendadak dan masalah pada kekuatan atau kelenturan otot betis dapat meningkatkan risiko keluhan ini.
7. Fraktur Stres
Fraktur stres merupakan retakan kecil pada tulang akibat tekanan berulang. Pada pelari, kondisi ini dapat terjadi pada tulang kaki, tumit, atau tungkai bawah.Awalnya, rasa sakit mungkin hanya muncul saat berlari. Namun, nyeri dapat semakin berat seiring waktu dan bahkan terasa ketika sedang beristirahat. Pembengkakan serta nyeri ketika area tertentu ditekan juga dapat terjadi.
Fraktur stres memerlukan pemeriksaan medis. Jangan memaksakan diri untuk terus berlari jika mengalami nyeri tulang yang menetap atau semakin parah.
8. Keseleo Pergelangan Kaki
Keseleo pergelangan kaki terjadi ketika ligamen yang menopang sendi mengalami peregangan berlebihan atau robekan. Cedera ini dapat terjadi saat kaki mendarat dalam posisi yang salah atau terpelintir di permukaan tidak rata.Gejalanya antara lain nyeri, pembengkakan, memar, dan keterbatasan gerak. Tingkat keparahannya bervariasi, sehingga cedera yang berat perlu diperiksa tenaga medis.
Cara Mengurangi Risiko Cedera Saat Berlari
Risiko cedera dapat dikurangi dengan mengatur latihan secara bertahap dan memberi tubuh waktu untuk pulih. Healthline menyarankan pelari melakukan pemanasan, meningkatkan jarak secara perlahan, memperbaiki teknik lari, serta memasukkan latihan penguatan otot ke dalam rutinitas.Selain itu, gunakan sepatu yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kaki. Pelari juga dapat mengombinasikan lari dengan olahraga berdampak rendah, seperti berenang atau bersepeda, untuk menjaga kebugaran tanpa terus memberikan beban yang sama pada kaki.
Jika muncul rasa sakit yang tidak biasa, kurangi atau hentikan latihan terlebih dahulu. Jangan menganggap semua nyeri sebagai pegal biasa, terutama jika keluhan menetap, semakin berat, disertai pembengkakan, atau membuat sulit berjalan.
Pemeriksaan tenaga medis diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan yang tepat membantu pelari kembali beraktivitas dengan lebih aman.
(Ellen Octovia Suherman)