Luapan kegembiraan Yayuk Basuki usai meraih medali emas Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand (Foto: AFP PHOTO / TORSTEN BLACKWOOD)
Luapan kegembiraan Yayuk Basuki usai meraih medali emas Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand (Foto: AFP PHOTO / TORSTEN BLACKWOOD)

Hari Olahraga Nasional 2019

Spesial Haornas: Kisah Yayuk Basuki, The Jaguar of Asia

Olahraga tenis haornas Yayuk Basuki
Anggi Tondi Martaon • 09 September 2019 16:14
SIAPA yang tak kenal Yayuk Basuki, legenda hidup tenis Indonesia. Tak hanya jago kandang, ayunan raket Yayuk bahkan membuat wanita kelahiran 30 November 1972 itu menjadi jawara di berbagai even internasional.
 
Sudah banyak pastinya prestasi nasional dan tingkat internasional yang didapatnya. Mungkin, wanita bernama asli Sri Rahayu Basuki itu menjadi atlet Indonesia yang paling banyak menorehkan prestasi di tingkat internasional.
 
Semua prestasi yang dibuat tentu tidak instan. Butuh perjuangan berat. Namun, hal itu mampu dilewati dengan tekad dan usaha yang kuat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Awal Karier

Yayuk mengatakan, kesuksesannya tak lepas dari peran orang tua. Ayah dan ibunya sangat mendukung karier Yayuk di dunia tenis. Dia dimasukkan ke sekolah atlet pada SMP dan SMA di Ragunan, Jakarta.
 
"Semua berawal dari dukungan keluarga, setelah itu baru yang lain-lain, pendidikan, funding, dan lain-lain," kata Yayuk kepada Medcom.id, Sabtu 7 September 2019.
 
Pilihan pindah ke Ibu Kota pun cukup tepat. Yayuk mulai menjalani karier profesional setelah masuk Club Pelita Jaya pada 1990. Sejak itu, dia rutin mengikuti berbagai kompetisi nasional dan internasional.
 
Selama berkarier, Yayuk bermain di beberapa sektor. Mulai tunggal, ganda putri hingga ganda campuran. Sektor terakhir mungkin paling berkesan baginya. Suharyadi, rekan Yayuk saat mengikuti Asian Games di Beijing, tidak hanya sekedar tandem di lapangan, tapi juga menjadi imam di keluarganya. Kedua legenda tersebut menikah pada 31 Januari 1994.
 

Lika-liku Karier

Perjalanan Yayuk di Timnas Indonesia tidak berlangsung lama. Berbagai permasalahan timbul. Yayuk dan Suharyadi pernah dicoret dari Tim Fed Cup Indonesia karena dianggap lancang menulis surat yang berisi permintaan lapangan untuk tenis wanita ke badan tenis dunia. Puncaknya, mereka pun akhirnya hengkang dari Timnas Indonesia setelah Wimar Witoelar mundur dari jabatannya sebagai Ketua Badan Timnas.
 
Yayuk pun memilih merintis karier sendiri tanpa ada embel-embel Timnas. Berat memang, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya mengukir prestasi di tingkat internasional.
 
Peraih dua medali emas (tunggal putri dan ganda campuran) pada Asian Games di Beijing itu pun memutuskan untuk membentuk manajemen sendiri yang disebut Yayuk Basuki Management (YBM). Dikelola oleh Wimar Witoelar, YBM bertugas mengelola berbagai macam kebutuhan Yayuk, mulai dari promosi, keuangan bahkan program latihan.
 
"Tidak satu sen pun ada dana dari pemerintah. Tidak hanya dengan YBM, tapi selama karier sebagai profesional saya tidak pernah melibatkan PB ataupun pemerintah," ungkap alumni SD Yogyakarta itu.
 
Ternyata, keputusan membuat manajemen sendiri sangat berpengaruh terhadap kariernya. Dia mampu meraih enam gelar dari nomor tunggal dan sembilan dari ganda di turnamen yang diselenggarakan oleh WTA.
 

Julukan The Jaguar of Asia & Anggota Eight Club

Kemampuannya pun mendapatkan perhatian dunia. Dia bahkan dijuluki "The Jaguar of Asia" oleh media internasional saat mengikuti turnamen di Pattaya, Thailand.
 
"Saya dianggap 'pembunuh raksasa' yang mengalahkan semua unggulan di turnamen tersebut," jelas Yayuk terkait julukan yang didapatnya itu.
 
Puncak prestasi peraih WTA Sportsmanship Award (1996 dan 1998) itu masuk babak perempat final Wimbledon 1997. Dia menjadi wanita Indonesia pertama, atau bahkan satu-satunya hingga saat ini yang berhasil masuk empat besar turnamen tenis terbesar di dunia tersebut.
 
Berkat capaian tersebut, Yayuk pun otomatis masuk sebagai anggota Eight Club, yaitu kelompok alumni petenis yang berhasil masuk babak perempat final Wimbledon. Para anggota Eight Club diberikan fasilitas kelas VIP, termasuk menginap di hotel bintang lima di seluruh dunia secara gratis. Fasilitas tersebut berlaku seumur hidup.
 
Beberapa nama besar yang terdaftar sebagai anggota Eight Club yaitu Martina Hinggis, Steffi Graf, Monica Sales. Dikutip dari yayukbasuki.com, hanya dua petenis wanita Asia yang berhasil terdaftar sebagai anggota Eight Club, yaitu Yayuk dan Kimiko Date Krumm dari Jepang.
 
"Sudah pasti bangga menjadi salah satu anggota “Eight Club” yang sangat banyak manfaatnya (privilege) dan apalagi saya satu-satunya dari Indonesia yang mendapat privilege tersebut. Dan itu adalah sebagai life time members," terang dia.
 

Penghargaan Pemerintah

Meski berhasil mengharumkan nama Indonesia, Yayuk merasa perjuangannya tidak dihargai oleh pemerintah. Dia harus membiayai sendiri perjalanannya sebagai atlet profesional.
 
Menjadi atlet profesional, khususnya tenis tidak-lah murah. Peraih penghargaan Female Rookie of The Year (1991) dari Tennis Magazine/Rolex itu menjelaskan, setidaknya butuh dana hingga USD150-200 ribu untuk mengikuti kompetisi setiap tahun. Dana tersebut disebut belum termasuk untuk pelatih dan trainer.
 
Hal serupa juga dirasakan oleh Yayuk saat menjadi pelatih. Dengan segudang prestasi dan pengalaman, gaji yang diberikan sebagai pelatih sangat kecil. "Saat itu bandingannya adalah 1/12 kali lipat dibanding negara lain," ketus dia.
 
Maka tak heran Yayuk pun menerima pinangan dari negara lain sebagai pelatih. Beberapa negara yang sudah menggunakan jasanya yaitu Hong Kong, Turki, Amerika, Jepang. Indonesia pada saat itu, justru menggunakan jasa pelatih asal Belanda yang notabene adalah anak buah Yayuk saat melatih di Hong Kong.
 
"Kalau Indonesia bersedia menggaji saya setengah dari apa yang saya dapatkan di luar negeri, saya akan terima. Tetapi kalau setengah saja tidak bisa menghargai perjuangan kita ya sudah, saya pun tetap melatih di luar negeri. Dan akhirnya PB justru memakai pelatih dari Belanda yang notabennya adalah anak buah saya di Hong Kong," sebut alumnus SMA Ragunan itu.
 
Fasilitas lengkap yang diberikan ternyata tak membuat Yayuk abai terhadap nasib olahraga nasional, khususnya tenis. Akhirnya, The Jaguar of Asia pulang ke kandang pada 2013 meski mendapatkan tawaran melatih dari Kanada dan Australia. Permintaan tersebut ditolak demi membangkitkan sektor olahraga nasional.
 

Regenerasi Atlet

Dalam lima tahun terakhir, Nominated for 1991 WTA Tour Most Impressive Newcomer Award itu fokus membantu pembinaan atlet yunior. Caranya dengan mendirikan sekolah tenis Yayuk Basuki Tennis Academy di Bulungan dan menggelar turnamen Yayuk Basuki Cup.
 
Yayuk mengakui jika saat ini salah satu permasalahan akut sektor olahraga yaitu regenerasi atlet. Menurutnya, pembinaan atlet yang efektif hanya di beberapa cabang olahraga (cabor), di antaranya bulu tangkis.
 
"Karena masih ada Djarum di sana, tetapi cabor lain saat ini banyak yang mengalami kendala di pembibitan atlet juniornya. Kita belum memiliki calon-calon penerus atlet senior kita," sebut dia.
 
Dia tak ingin permasalahan ini menjadi penyakit menahun. Indonesia harus mampu mencetak kembali atlet yang berkualitas.
 
"Jangan sampai ketika Multievent seperti SEA Games, Asian Games dan Olimpiade, atlet yang turun ke gelanggang itu-itu saja. Kita perlu punya pelapis yang sepadan juga," kata Yayuk.
 

Kesejahteraan Atlet

Selain itu, Yayuk juga berjuang melalui jalur politik. Dia berhasil lolos ke Senayan setelah terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019 melalui PAN.
 
Kesempatam tersebut pun dimanfaatkan Yayuk untuk memperbaiki sektor olahraga nasional. Salah satunya mendorong revisi Undang Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Upaya tersebut dilakukan untuk memperbaiki kesejahteraan para atlet, khususnya setelah pensiun.
 
"Saya ingin Negara turut hadir dalam kesejahteraan hari tuanya atlet. Sehingga tidak ada lagi keresahan dari orang tua terhadap anaknya 'akan menjadi apa anak saya ketika sudah tidak menjadi atlet lagi.' Saya akan terus mendorong revisi Undang-Undang ini sampai disahkan menjadi Undang-Undang bukan melaui Perpres atau Permen," sebut dia.
 

Manajemen Keuangan

Permasalahan kesejahteraan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Hal itu juga harus menjadi perhatian atlet itu sendiri. Menurut Yayuk, salah satu kunci sukses kesejahteraan atlet yaitu manajemen keuangan.
 
Yayuk pun mencontohkan pengelolaan keuangan yang dilakukannya melalui YBM. Bahkan, dia tetap bertahan dan mengikuti berbagai even di berbagai belahan dunia meski dengan biaya sendiri.
 
Dengan manajemen yang baik serta tekad dan usaha keras tersebutlah menjadi kunci utama kesuksesan The Jaguar of Asia itu. Adapun total hadiah yang berhasil dikumpulkan Yayuk selama menjadi atlet profesional mencapai USD1,6 juta lebih.
 
"Saya bertahan dari situ, saya harus juara untuk bisa bertahan hidup di luar negeri. Saya hidup dari satu kejuaraan ke kejuaraan yang lain di beda-beda Negara,"
 
Bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang jatuh pada hari ini, 9 September 2019, Yayuk berpesan agar atlet muda bisa mencontoh apa yang dilakukannya. Berjuang mengharumkan nama bangsa dan pintar mengelola hadiah yang didapat sehingga tidak kesulitan di masa depan.
 
"Hadiah dan bonus yang saya peroleh saya investasikan sebagian untuk hari tua dan pendidikan bagi anak saya. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa bertahan," ujar dia.
 
Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga
 
Video:?Ezra Walian Resmi Gabung ke PSM

 

(ACF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif