Widi, sapaan akrab Ni Nengah Widiasih, meraih perunggu dari nomor 41 kilogram putri setelah mencatatkan angkatan terbaik seberat 97 kilogram di Nagoya City Trade and Industry Center, Prefektur Aichi.
Ia menempati posisi ketiga di bawah atlet Tiongkok, Cui Zhe, yang meraih emas dengan angkatan 120 kilogram, serta wakil Kazakhstan, Tursynay Kabyl, yang mendapatkan perak setelah mengangkat beban 104 kilogram.
Raihan tersebut sekaligus memperpanjang tradisi medali Widi di Asian Para Games. Dalam tiga edisi sebelumnya, yakni 2014, 2018, dan 2022, atlet asal Bali itu selalu membawa pulang medali perak.
Namun, persaingan di kelas 41 kilogram putri kali ini semakin ketat. Cui Zhe, peraih emas kelas 45 kilogram pada Asian Para Games 2022, turun ke kelas 41 kilogram mengikuti langkah Widi. Sementara itu, Kabyl merupakan peraih perak di kelas yang sama pada edisi 2022.
Meski kali ini harus puas dengan perunggu, Widi mengaku bersyukur dapat kembali naik podium di tengah kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih akibat cedera robek otot bahu yang dialaminya saat mengikuti kejuaraan di Mesir pada akhir tahun lalu.
“Ini medali perunggu pertama yang saya dapatkan sepanjang keikutsertaan saya di Asian Para Games. Biasanya saya selalu memperebutkan emas dan perak,” ujar Widi di area mixed zone Nagoya City Trade and Industry Center.
Ia mengungkapkan cedera bahu masih membatasi penampilannya. Meski demikian, Widi tetap berusaha meningkatkan beban angkatan pada setiap sesi demi memperbaiki peringkat dunia dan menjaga peluang tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028.
“Kondisi saya belum pulih 100 persen karena cedera bahu. Namun, saya berusaha semaksimal mungkin menaikkan beban angkatan di setiap sesi karena ingin memperbaiki world ranking demi mengamankan tiket ke Paralimpiade Los Angeles,” katanya.
Widi juga mengakui persaingan di kelasnya semakin berat dengan munculnya atlet-atlet muda yang memiliki potensi besar.
“Sekarang di kelas saya banyak sekali atlet muda. Saya dan atlet asal China rasanya sudah seperti legenda di antara mereka. Namun, saya bersyukur masih bisa menjaga performa dan bersaing dengan atlet-atlet muda ini,” tuturnya.
Bidik Paralimpiade Los Angeles 2028
Widi mengisyaratkan Asian Para Games 2026 kemungkinan menjadi penampilan terakhirnya di ajang tersebut. Meski demikian, ia belum mengalihkan fokus dari target terdekat, yakni memulihkan cedera bahu dan mengejar poin kualifikasi menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.Ia mengatakan tim medis dan fisioterapis di Solo terus mendampinginya dalam proses pemulihan. Jika berhasil lolos ke Los Angeles, Paralimpiade tersebut berpotensi menjadi penampilan kelimanya sekaligus penutup perjalanan kariernya di ajang itu.
“Saya punya tim medis dan fisioterapis di Solo yang terus mendampingi pemulihan bahu saya. Target utama saya saat ini adalah fokus menyembuhkan cedera dan mengejar peringkat dunia agar bisa lolos ke Paralimpiade LA dua tahun lagi, yang kemungkinan akan menjadi Paralimpiade kelima sekaligus penutup karier saya,” jelasnya.
Persembahkan Medali untuk Mendiang Ibu
Di balik keberhasilannya meraih medali pertama Indonesia, tersimpan kisah emosional tentang kehilangan dan tekad untuk memenuhi janji kepada sang ibu.Widi tak kuasa menahan haru ketika mengenang mendiang ibundanya, yang meninggal dunia hanya dua pekan sebelum dirinya bertanding di Paralimpiade Paris 2024. Kehilangan tersebut sempat mengguncang mentalnya hingga ia gagal membawa pulang medali dari ajang tersebut.
Kini, medali perunggu Asian Para Games 2026 menjadi persembahan khusus bagi sang ibu dan keluarga yang selalu mendukung perjalanan kariernya.
“Waktu Paralimpiade Paris, dua minggu sebelum tanding ibu saya meninggal dunia. Mental saya hancur dan gagal mewujudkan mimpi ibu untuk mencetak hattrick medali Paralimpiade. Namun, saya berjanji pada almarhumah, di ajang kali ini saya akan membawa pulang medali untuk beliau,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Widi berharap sang ibu dapat melihat perjuangannya dari tempat terbaik. Baginya, medali perunggu tersebut bukan sekadar pencapaian olahraga, melainkan juga bentuk pemenuhan janji kepada sosok yang menjadi sumber motivasinya.
“Di mana pun Ibu berada sekarang, saya yakin beliau melihat saya hari ini. I hope she is proud of me. Medali ini khusus untuk Ibu dan keluarga di rumah,” tutupnya.
Sementara itu, atlet Indonesia lainnya di nomor 41 kilogram putri, Eliana, menempati posisi keenam dengan angkatan terbaik 80 kilogram. Adapun wakil Indonesia di nomor 49 kilogram putra, Abdul Hadi, gagal mencatatkan angkatan sah dalam tiga kali percobaan.
Dengan satu medali perunggu pada hari pertama pertandingan setelah upacara pembukaan, Indonesia untuk sementara menempati posisi keenam klasemen perolehan medali Asian Para Games 2026.