Asian Games 2018

Sampah Laut Ancol Warnai Kegagalan Tim Layar Indonesia

Kautsar Halim 31 Agustus 2018 20:25 WIB
asian games 2018
Sampah Laut Ancol Warnai Kegagalan Tim Layar Indonesia
Atlet layar putri Indonesia, Nenni Marlini (kanan). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta: Atlet layar putri Indonesia, Nenni Marlini, nyaris saja menyumbang medali perunggu di ajang Asian Games 2018. Sayangnya itu gagal terjadi karena sejumlah kendala ketika memainkan pertandingan terakhir, Jumat 31 Agustus. 

Seluruh nomor pertandingan layar Asian Games 2018 berlangsung di venue National Sailing Center, Ancol, Jakarta Utara selama delapan hari (24 Agustus hingga 31 Agustus). Nenni tampil bersama Ridwan Ramadan di kelas mixed RS One.

Nenni/Ridwan hanya perlu lebih baik dari Thailand dan Malaysia untuk menyegel perunggu lewat laga terakhir. Namun, dia hanya bisa berada di urutan keenam atau kalah secara berurutan dari Tiongkok, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand.


Dengan adanya hasil tersebut, Nenni/Ridwan harus terima bertengger di urutan empat klasemen akhir. Mereka kalah dari Tiongkok yang menyabet emas, Hong Kong berhak atas Perak dan Malaysia yang akhirnya mendapat perunggu. 

Berbicara seusai laga, Nenni menjelaskan pertandingan terakhir sangat berat bukan karena lawan-lawannya yang lebih baik. Secara teknik dia bisa bersaing dengan para lawannya, kecuali (Tiongkok). Namun, yang jadi kendala utamanya adalah kekuatan angin laut Ancol yang sulit prediksi, dan papan layarnya juga tersangkut sampah.

"Tadi, anginnya besar sekali. Kemudian, saya juga peserta paling kecil di antara lawan yang lain. Jadi, tetap bersyukur saja bisa berada di urutan empat (pada klasemen akhir). Saya cukup menyesal atas hasil ini karena bisa berada di peringkat tiga saat mengikuti Ssian Sailing Championship beberapa waktu lalu," ujar Neni.

" Selain itu, permasalahan juga datang dari ketersediaan alat untuk Asian Games ini. Coba alat tersebut bisa lebih cepat datangnya, jadi saya bisa menguasai dengan lebih baik. Kalau bisa, alat-alat itu sudah datang satu atau dua bulan sebelum turnamen," tambahnya.

"Kemudian, papan saya juga tersangkut sampah saat bertanding. Kalau sudah begitu, saya mundur dulu sebentar hingga akhirnya disalip lawan dan berada di urutan paling belakang," lanjut Nenni yang berasal dari Kalimantan Timur.

Tim layar Indonesia menurunkan 15 atlet untuk bermain di 10 nomor pertandingan. Dari semua atlet tersebut, hanya Nenni/Ridwan saja yang masih berpeluang menyabet perunggu ketika memainkan hari terakhir. Sementara itu, sisanya dikabarkan keok ketika event baru bergulir dua hari.

Kepala pelatih tim layar Indonesia, I Wayan Sundana dan atletnya, Nenni Marlini. (Foto: medcom.id/zam)


Kepala pelatih tim layar Indonesia yang berada di bawah naungan Porlasi, I Wayan Sundana, menyadari timnya gagal mencapai target dua emas yang diminta Kemenpora. Tapi, ia menjelaskan bahwa kegagalan itu terjadi karena persiapan yang hanya delapan bulan dan atlet-atletnya pun tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah. 

"Kalau ingin kembalikan budaya medali dari Porlasi, harus perbanyak try-out (turnamen uji coba) ke luar negeri. Kemudian, perhatikan fasilitas atlet seperti makanan, hotel, serta uang saku. Jangan sampai psikologis atlet terganggu dengan pikiran-pikiran  lain di luar turnamen atau pertandingan," kata Sundana pada waktu yang berbeda.

 



(KAU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id