Melalui unggahan akun Instagram @campusleague.id, Nadhine tampil dalam video wawancara yang diselingi cuplikan aksinya saat bertanding. Mahasiswi jurusan Sistem Informasi angkatan 2026 tersebut mendapat julukan El Klemer dari netizen karena gaya bermainnya yang terlihat lemah gemulai.
Namun, penampilannya di lapangan justru menyimpan kejutan. Nadhine memiliki gerakan khas double touch untuk melewati lawan, disertai kemampuan memanfaatkan peluang menjadi gol.
Nadhine Stefany Ceritakan Skill Double Touch
Dalam wawancara yang diunggah @campusleague.id, Nadhine mengungkapkan bahwa kemampuan double touch yang kerap digunakannya bukan hasil latihan khusus untuk menguasai gerakan tersebut.Menurutnya, gerakan itu muncul secara alami ketika berlatih. Ia terbiasa menggunakan double touch untuk melewati lawan saat latihan, hingga akhirnya gerakan tersebut terbawa ke pertandingan dan mampu menghasilkan gol.
Nadhine juga menjelaskan bahwa kebiasaannya bermain futsal sejak kecil bersama teman-teman di lingkungan rumah turut membentuk instingnya dalam membaca permainan lawan.
Pengalaman tersebut membuatnya lebih memahami pergerakan lawan. Ketika melihat kesempatan, ia berusaha memotong pergerakan lawan dan memanfaatkan peluang untuk mencetak gol.
Dijuluki El Klemer oleh Netizen
Julukan El Klemer yang diberikan netizen turut menjadi perhatian setelah penampilan Nadhine ramai diperbincangkan. Meski mendapat julukan tersebut, ia menanggapinya dengan santai dan berterima kasih kepada orang-orang yang memberikan perhatian terhadap permainannya.Nadhine berharap julukan itu bisa menjadi motivasi untuk semakin giat berlatih dan meningkatkan kemampuannya di lapangan.
Ia juga mengaku terkejut ketika mengetahui aksinya viral dan videonya mendapatkan jumlah penayangan yang tinggi di Instagram Campus League.
Menurut Nadhine, perhatian tersebut justru mendorongnya untuk lebih bersemangat bermain futsal. Ia berharap bisa terus berkembang sekaligus membantu ITS meraih gelar juara.
Dukungan Kampus dan Keluarga untuk Nadhine
Di balik aktivitasnya sebagai atlet sekaligus mahasiswa, Nadhine mendapat dukungan dari kampus dan keluarga. Ia menyebut ITS memberikan dispensasi kepada atlet yang mengikuti kompetisi, termasuk ketika jadwal pertandingan berdekatan dengan masa ujian.Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Nadhine mengatakan keluarganya selalu memberikan semangat, baik ketika tim meraih kemenangan maupun saat mengalami kekalahan.
Bagi Nadhine, Campus League menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan di bidang olahraga. Ia berharap semakin banyak kesempatan serupa yang tersedia bagi mahasiswa dengan bakat di luar bidang akademik.
(Ellen Octovia Suherman)