Kronologi Kericuhan di Stadion Citarum
Kericuhan pecah pada matchday ke-33 saat Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu 19 April 2026. Sejumlah pemain dan staf tim tuan rumah terlibat perselisihan fisik dengan penggawa Dewa United usai laga berakhir.
Dalam video yang viral di media sosial, pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Henga, terlihat berlari kencang dan melayangkan tendangan keras ke arah punggung bagian atas pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Aksi berbahaya tersebut hampir mengenai area kepala belakang dan mengakibatkan Rakha tersungkur seketika di lapangan.
Meski Chief Operating Officer Bhayangkara FC, Sumardji, menyebut adanya provokasi rasisme sebagai pemicu, tindakan fisik yang membahayakan nyawa pemain tetap menjadi sorotan utama.
Pencoretan Hengga dari Skuad Garuda Muda
Nama Fadly Alberto Henga sebelumnya sempat dipuji sebagai calon penyerang masa depan Tim Nasional Indonesia. Pemain yang pernah berada di bawah asuhan Pelatih Nova Arianto ini mencuri perhatian publik saat berhasil mencetak gol ke gawang Honduras dalam gelaran Piala Dunia U-17.
Berkat performanya, Henga sempat dipanggil kembali ke skuad Timnas Indonesia U-20 untuk menjalani pemusatan latihan intensif di Surabaya pada 2-15 Maret 2026. Latihan tersebut merupakan persiapan menghadapi turnamen ASEAN Boys U-19 Championship dan Kualifikasi AFC U-20 Asian Cup 2027. Namun, akibat tindakan tidak terpuji di Stadion Citarum, Henga dikabarkan telah dicoret dari daftar skuad Garuda Muda.
Tanggapan dari Pengamat Sepak Bola
Kepada Medcom.id, Senin 20 April 2026, pengamat sepak bola senior, Ronny Pangemanan atau yang akrab dipanggil Bung Ropan memberikan pendapatnya terkait insiden kericuhan tersebut. Menurutnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) harus segera bertindak dan berani menjatuhkan sanksi yang setimpal tanpa melihat latar belakang label pemain timnas.
“Intinya semua tindakan yang bertentangan dengan aturan yang berlaku dalam sepak bola, siapapun dia mau pemain Timnas harus dihukum sesuai dengan perbuatannya. Kalo pelanggaran yang dibuat sangat berat, PSSI harus menghukum juga dengan berat tanpa pandang bulu," tegas Bung Ropan.
Menurutnya, hukuman yang setimpal sangat penting untuk menjaga integritas kompetisi usia muda. Ia berharap PSSI melalui Komite Disiplin tidak ragu bertindak tegas agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
"Biar ada efek jera buat pemain yang lain agar berhati-hati melakukan perbuatan yang tak terpuji di lapangan hijau" pungkasnya.
Hingga saat ini, publik masih menunggu keputusan resmi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI terkait durasi larangan bermain maupun denda yang akan dijatuhkan kepada Fadly Alberto Hengga atas kejadian tersebut.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News