Suasana ToT Penggerak Olahraga Disabilitas yang digelar di Kabupaten Blitar (dok. Kemenpora)
Suasana ToT Penggerak Olahraga Disabilitas yang digelar di Kabupaten Blitar (dok. Kemenpora)

Olahraga

Perkuat Olahraga Disabilitas di Daerah, 115 Peserta Ikuti ToT di Blitar

Gregorius Gelino • 28 September 2026 13:13
Ringkasnya gini..
  • Penggerak olahraga menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong pembudayaan olahraga sekaligus memperkuat olahraga inklusif di tingkat daerah.
  • Penggerak olahraga memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dan calon atlet di daerah.
  • Sebanyak 115 peserta yang mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas.
Blitar: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus memperkuat ekosistem olahraga disabilitas yang inklusif di daerah. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas yang digelar di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 September 2026 di Hotel Puri Perdana, Blitar, ini diikuti 115 peserta yang telah melalui proses seleksi berjenjang. Peserta berasal dari Kabupaten Blitar serta sejumlah daerah di Jawa Timur, yakni Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Kediri.

Para peserta memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari pelatih olahraga, atlet, mantan atlet disabilitas, guru Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga guru sekolah inklusi.

Siapkan Penggerak Olahraga Disabilitas di Daerah

Perwakilan panitia pelaksana, Giatno, mengatakan kegiatan ToT Penggerak Olahraga Disabilitas menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong pembudayaan olahraga sekaligus memperkuat olahraga inklusif di tingkat daerah.

"Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan para pelatih, mantan atlet, dan guru sebagai kader penggerak pembudayaan olahraga di lingkungan masyarakat penyandang disabilitas," ujar Giatno.

Untuk memastikan peserta mendapatkan materi yang berkualitas, pelatihan melibatkan tim pakar dan akademisi dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) serta National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Kehadiran para akademisi dan praktisi olahraga disabilitas diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada peserta, terutama terkait pembinaan, kepelatihan, klasifikasi disabilitas, hingga pengembangan potensi atlet.

Blitar Jadi Tuan Rumah ToT Penggerak Olahraga Disabilitas

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporabudpar) Kabupaten Blitar, Dodot Darudono, yang mewakili Kepala Dinas, mengapresiasi kepercayaan Kemenpora yang menjadikan Blitar sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

Menurut Dodot, olahraga memiliki peran yang lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kebugaran dan mengejar prestasi. Aktivitas olahraga juga dapat membantu membangun kemandirian, kepercayaan diri, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Olahraga disabilitas adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan olahraga nasional, di mana setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang," kata Dodot.

Ia menambahkan, pengembangan olahraga disabilitas membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah pusat dan daerah, organisasi olahraga, sekolah, hingga komunitas disabilitas perlu bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan olahraga yang inklusif dan mudah diakses.

ToT Blitar Jadi Penutup Rangkaian Pelatihan di Jawa Timur

Kegiatan ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Blitar secara resmi dibuka oleh Analis Kebijakan Ahli Madya pada Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus, Yuslan, yang mewakili Plt Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus. Dalam sambutannya, Yuslan menekankan bahwa pelatihan tidak boleh berhenti sebatas kegiatan di ruang kelas.

Para peserta diharapkan membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk mengembangkan olahraga disabilitas di wilayah masing-masing. Ia juga berharap para peserta dapat menjadi penggerak aktif di tengah masyarakat. Kabupaten Blitar menjadi titik ketiga sekaligus penutup rangkaian ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Jawa Timur untuk tahun ini, setelah sebelumnya digelar di Mojokerto dan Kota Kediri," ujar Yuslan.

"Harapan kami, setelah pelatihan ini selesai, para peserta tidak berhenti begitu saja. Rekan-rekan harus menjadi pendorong, pendamping, sekaligus inspirator di daerah masing-masing. Kemenpora juga akan memantau keaktifan para penggerak di lapangan untuk dukungan pengembangan selanjutnya," sambungnya.

Dorong Lahirnya Atlet Disabilitas Berprestasi

Perwakilan NPCI Pusat sekaligus narasumber, Nur Agung Martopo, menilai pembekalan pengetahuan dan teknik kepelatihan menjadi bagian penting dalam proses pencarian serta pembinaan atlet disabilitas. Menurutnya, para penggerak olahraga memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dan calon atlet di daerah.

"Pelatihan ini sangat penting bagi rekan-rekan penggerak agar mereka memiliki bekal pengetahuan yang tepat dalam mengajak dan membina calon atlet. Harapannya, ilmu yang didapat dari ToT ini bisa ditularkan kepada masyarakat umum sehingga lahir bibit-bibit atlet disabilitas yang mampu mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional," tutur Agung.

Dengan semakin banyaknya penggerak yang memiliki pengetahuan mengenai olahraga disabilitas, proses identifikasi dan pembinaan calon atlet di tingkat daerah diharapkan dapat berjalan lebih terarah.

Guru SLB Siap Identifikasi Potensi Atlet Disabilitas

Manfaat pelatihan juga dirasakan Ira Choirotuz Zawaidah, salah satu peserta yang merupakan guru SLB. Ia mengaku memperoleh wawasan baru mengenai klasifikasi disabilitas dan berbagai cabang olahraga paralimpik.

"Pelatihan ini membuka wawasan kami, terutama para guru SLB. Kami jadi memahami pembagian kelas disabilitas serta cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan," kata Ira.

Pengetahuan tersebut akan diterapkan Ira setelah kembali ke daerah. Ia berencana membangun kolaborasi dengan sekolah dan orang tua murid untuk mengidentifikasi anak-anak yang memiliki potensi di bidang olahraga.

"Setelah kembali ke daerah, kami berencana bekerja sama dengan sekolah dan orang tua murid untuk mengidentifikasi anak-anak yang berpotensi, lalu membina mereka menjadi atlet disabilitas yang berprestasi," ujarnya.

Membangun Ekosistem Olahraga Disabilitas yang Inklusif

Pelaksanaan ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Blitar menjadi bagian dari upaya memperluas pembudayaan olahraga bagi masyarakat penyandang disabilitas di daerah. Sebanyak 115 peserta yang mengikuti pelatihan diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan masing-masing.

Guru, pelatih, mantan atlet, dan penggerak olahraga dapat menjadi bagian penting dalam menemukan serta mengembangkan potensi atlet disabilitas sejak dini. Melalui kegiatan ini, Kemenpora berharap semakin banyak penggerak olahraga disabilitas di daerah yang mampu menghidupkan aktivitas olahraga secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara pemerintah, organisasi olahraga, sekolah, dan komunitas disabilitas juga menjadi kunci untuk membangun ekosistem olahraga yang ramah, inklusif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas.

Dengan penguatan sumber daya manusia di tingkat daerah, pembinaan olahraga disabilitas diharapkan semakin terstruktur dan mampu membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat penyandang disabilitas untuk aktif berolahraga hingga berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan