Suasana latihan SSB Bapak-Bapak. (Foto: IG resmi @ssbbapakbapak)
Suasana latihan SSB Bapak-Bapak. (Foto: IG resmi @ssbbapakbapak)

SSB Bapak-Bapak Obati Mimpi Masa Kecil Lewat Sepak Bola

Rizki Yanuardi • 08 November 2026 19:44
Ringkasnya gini..
  • Romy Maulidin Oktafian menggagas SSB Bapak-Bapak pada September 2026 untuk menyediakan wadah latihan sepak bola bagi pria dewasa.
  • Dalam sekitar dua bulan, kanal WhatsApp komunitas tersebut telah memiliki sekitar 3.000 anggota. Latihan dibatasi maksimal 36 peserta per sesi.
  • Latihan digelar setiap akhir pekan dengan intensitas ringan hingga sedang dan format minisoccer 7 lawan 7. Pengelola berencana memperluas kegiatan ke wilayah Jabodetabek.
Jakarta: Sekolah Sepak Bola (SSB) umumnya identik dengan anak-anak. Pesertanya berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari KU-6 hingga KU-14. Mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan biasanya melanjutkan pembinaan ke jenjang lebih tinggi, termasuk Elite Pro Academy (EPA) U-17 hingga U-18.

Namun, bagaimana jika SSB justru diikuti oleh bapak-bapak? Bukan anak-anak yang sedang mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional, melainkan para pria dewasa yang ingin belajar sepak bola, menjaga kebugaran, sekaligus menghidupkan kembali kenangan masa kecil.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui SSB Bapak-Bapak yang digagas Romy Maulidin Oktafian. Komunitas ini menyediakan wadah bagi para pria dewasa untuk berlatih sepak bola secara terarah dengan suasana santai dan menyenangkan.
 

Berawal dari Mimpi Masa Kecil Romy Maulidin


Ide mendirikan SSB Bapak-Bapak muncul sekitar 17 September 2026. Romy, yang memiliki pengalaman sebagai pelatih futsal dan sepak bola usia dini, awalnya menyampaikan gagasan tersebut melalui Instagram Story di akun pribadinya, @taromisaki_romi.

Respons yang diterima ternyata jauh melampaui perkiraannya. Banyak pria dewasa tertarik bergabung karena memiliki kegemaran yang sama terhadap sepak bola.
 
Gemini_Generated_Image_gdf1j8gdf1j8gdf1

Di balik gagasan itu, Romy menyimpan cerita personal. Pria kelahiran Jakarta, 11 Oktober 1991, tersebut mengaku pernah mengikuti SSB ketika masih kecil. Namun, keterbatasan saat itu membuatnya tidak bisa melanjutkan latihan dan mengejar impian menjadi pesepak bola.

Sepak bola akhirnya hanya menjadi hobi. Sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, Romy kerap bermain bersama enam kakak laki-lakinya untuk menyalurkan kecintaan terhadap olahraga tersebut.

Kegemarannya tidak berhenti setelah beranjak dewasa. Romy terus bersentuhan dengan dunia sepak bola melalui aktivitas melatih futsal dan sepak bola usia dini. Ia juga rutin mengikuti turnamen serta kegiatan fun football.

Dari pengalaman bermain bersama orang dewasa, Romy melihat ada persoalan yang perlu diperhatikan. Dalam sejumlah permainan, masih ditemukan kesalahan-kesalahan mendasar dalam bermain sepak bola. Situasi itu terkadang memicu perselisihan hingga berisiko menimbulkan cedera.

"Bahkan ada yang saling menyalahkan. Padahal fun football," kata Romy.

Pengalaman tersebut membuatnya berpikir bahwa permainan sepak bola untuk orang dewasa seharusnya tidak hanya menjadi ajang bertanding. Para pemain juga membutuhkan pembelajaran teknik dasar dan pemahaman permainan agar bisa bermain lebih baik dan aman.

Dengan dukungan kakak-kakaknya serta teman-teman seperjuangan, Romy kemudian membangun SSB Bapak-Bapak.
 

Dua Bulan Berdiri, Antusiasme Peserta Membludak


Antusiasme terhadap SSB Bapak-Bapak terus berkembang. Dalam waktu sekitar dua bulan sejak digagas, jumlah anggota kanal grup WhatsApp komunitas tersebut telah mencapai sekitar 3.000 orang.

Saat ini, kegiatan latihan tersedia di sejumlah lokasi di wilayah Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, dan Depok. Latihan digelar setiap akhir pekan, baik pada pagi maupun sore hari.

Beberapa lokasi yang menjadi tempat latihan atau homebase SSB Bapak-Bapak antara lain Mini Soccer Jonas Ciputat, HalfTime Minisoccer, dan Serenia Hills.

Romy bersama timnya juga berencana memperluas jangkauan latihan dengan membuka sesi di sejumlah lokasi lain.
 
Para peserta SSB Bapak-Bapak

Besarnya minat membuat pengelola harus mengatur kapasitas peserta. Setiap sesi dibatasi maksimal 36 pemain agar proses latihan tetap berjalan efektif dan setiap peserta mendapat perhatian yang cukup.

Dalam satu sesi, latihan ditangani oleh satu pelatih kepala atau head coach dan dua asisten. Romy memastikan pelatih yang terlibat memiliki kompetensi, termasuk di antaranya mengantongi lisensi kepelatihan.

"Di tiap sesi ada satu head coach berlisensi," tuturnya.

Mayoritas peserta SSB Bapak-Bapak saat ini berasal dari kelompok usia 30-an. Latar belakang kemampuan mereka pun beragam. Ada yang sudah terbiasa bermain sepak bola, tetapi tidak sedikit yang baru pertama kali mengikuti latihan secara terstruktur.
 

Latihan Ringan hingga Sedang, Bukan Sekadar Fun Football


Mengingat sebagian besar peserta merupakan pria dewasa yang belum pernah mengikuti pembinaan sepak bola sejak kecil, Romy menerapkan metode latihan dengan intensitas ringan hingga sedang.

Pendekatan tersebut dilakukan agar peserta bisa belajar dan menikmati sepak bola tanpa harus memaksakan kemampuan fisik.

Format permainan yang digunakan juga disesuaikan, yakni minisoccer dengan komposisi tujuh lawan tujuh atau 7x7.

Bagi Romy, tujuan utama SSB Bapak-Bapak bukan mencetak pemain profesional. Fokusnya adalah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berolahraga sekaligus memahami sepak bola dengan lebih baik.

"Saat ini fokusnya mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga dan tentunya mengedukasi tentang sepak bola," ujar Romy.

Dengan konsep tersebut, SSB Bapak-Bapak menawarkan pengalaman berbeda dari kegiatan fun football biasa. Peserta tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga memperoleh kesempatan mempelajari dasar-dasar sepak bola melalui pendampingan pelatih.
 

SSB Bapak-Bapak Bersiap Ekspansi ke Jabodetabek


Tingginya minat masyarakat membuat Romy dan rekan-rekannya berencana memperluas kegiatan SSB Bapak-Bapak ke sejumlah wilayah di Jabodetabek.

Rencana pembukaan lokasi baru juga muncul dari banyaknya pesan yang masuk melalui kanal WhatsApp komunitas.

"Dari pesan masuk di WA Channel, ada rencana beberapa lagi akan dibuka," terang Romy.

Ke depan, ia berharap ada dukungan dari pemangku kepentingan atau stakeholder agar jangkauan program semakin luas. Dengan begitu, lebih banyak pria dewasa yang memiliki kesempatan untuk berlatih sepak bola secara terarah.

Pengelola juga berencana melakukan pembagian peserta berdasarkan sejumlah kriteria agar materi latihan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Bagi para bapak yang ingin kembali merasakan pengalaman menjadi murid SSB, atau sekadar menyalurkan hobi sepak bola yang sempat tertunda, komunitas ini bisa menjadi pilihan.

Informasi mengenai kegiatan dan pendaftaran SSB Bapak-Bapak dapat dipantau melalui akun Instagram @ssbbapakbapak. Calon peserta bisa mengikuti petunjuk pendaftaran melalui tautan yang tersedia di bio akun tersebut.

Untuk biaya, pengelola menyediakan pilihan pendaftaran secara sukarela. Sementara itu, peserta dikenakan honorarium tiket masuk (HTM) setiap kali mengikuti sesi latihan.

Bagi Romy, sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah. Olahraga ini juga bisa menjadi jalan untuk menjaga kebugaran, memperluas pertemanan, dan mewujudkan kembali kegembiraan masa kecil yang sempat tertunda.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RIZ)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan