Kepergian Castro menyisakan duka bagi keluarga dan penggemar tinju. Putrinya, Quimey Castro, yang berada bersamanya saat kejadian, menceritakan bagaimana kondisi sang ayah memburuk dalam waktu singkat setelah mengeluhkan nyeri dada.
Menurut kesaksian Quimey kepada media setempat, ayahnya mengalami serangan jantung. Ia mengatakan kejadian tersebut berlangsung sangat cepat, meski keluarga sempat meminta bantuan setelah kondisi Castro memburuk.
Putri Castro Ceritakan Detik-Detik Terakhir Ayahnya
Quimey mengungkapkan bahwa ia sedang bersama Castro dan ibunya dalam sebuah kegiatan bersama ketika mantan juara dunia tersebut mulai merasakan ketidaknyamanan.
Castro sempat pergi ke kamar kecil. Ketika kembali, ia mengeluhkan rasa sakit di bagian dada kepada putrinya.
“Dia bilang kepada saya, 'Dada saya sakit, dada saya sakit.' Saya menjawab, 'Itu karena Ayah merokok seperti orang gila,'” kata Quimey, sebagaimana diberitakan media Argentina, Clarin.
Namun, kondisi Castro kemudian memburuk. Ia kembali mengeluhkan rasa sakit yang semakin kuat sehingga keluarga segera meminta bantuan petugas di lokasi.
“Dia bilang kepada saya, 'Dada saya sangat sakit, Nak,'” tutur Quimey saat menceritakan percakapan terakhir mereka.
Castro kemudian dibawa ke ruangan terpisah untuk mendapatkan pertolongan. Petugas melakukan resusitasi jantung paru (RJP), tetapi nyawa mantan petinju tersebut tidak berhasil diselamatkan.
Quimey memperkirakan kejadian itu berlangsung sekitar 15 menit sejak ayahnya mulai mengeluhkan nyeri dada hingga kondisinya berujung fatal.
Jorge Castro, Juara Dunia yang Dikenang karena Comeback Dramatis
Castro merupakan salah satu nama besar dalam sejarah tinju Argentina. Lahir di Caleta Olivia, Provinsi Santa Cruz, pada 18 Agustus 1967, ia dikenal dengan julukan “Locomotora” dan “Rona” berkat karakter bertarungnya yang tangguh.
Puncak kariernya terjadi pada 12 Agustus 1994 ketika ia merebut gelar juara dunia kelas menengah versi World Boxing Association (WBA). Castro mengalahkan petinju Amerika Serikat, Reggie Johnson, melalui keputusan angka terbelah atau split decision.
Namun, salah satu pertarungan yang paling melekat dalam ingatan penggemar tinju adalah duel melawan John David Jackson pada Desember 1994 di Monterrey, Meksiko.
Dalam pertarungan mempertahankan gelar tersebut, Castro berada di bawah tekanan dan mengalami luka pada wajahnya setelah menerima rentetan pukulan. Ia terlihat kesulitan menghadapi serangan Jackson selama sebagian besar ronde awal.
Ketika banyak orang memperkirakan pertarungan akan berakhir dengan kekalahan Castro, petinju Argentina itu justru membalikkan keadaan. Pada ronde kesembilan, ia melancarkan pukulan kiri telak yang menjatuhkan Jackson dan mengakhiri pertarungan dengan kemenangan knockout.
Comeback tersebut menjadi salah satu momen paling ikonik dalam kariernya. Majalah tinju The Ring kemudian menobatkan duel Castro kontra Jackson sebagai Fight of the Year 1994.
Pensiun dengan 130 Kemenangan
Castro menjalani karier profesional selama sekitar dua dekade sejak 1987. Berdasarkan catatan World Boxing Council (WBC), ia menutup karier dengan 144 pertarungan, menghasilkan 130 kemenangan, termasuk 90 kemenangan knockout, 11 kekalahan, dan tiga hasil imbang.
Ia juga pernah berbagi ring dengan sejumlah petinju ternama, termasuk legenda tinju Panama, Roberto Duran, serta Roy Jones Jr.
Setelah pensiun pada 2007, Castro tetap aktif dalam kehidupan masyarakat. Ia terlibat dalam kegiatan sosial, termasuk mendukung dapur umum, bantuan pangan, dan sasana tinju bagi masyarakat yang membutuhkan.
WBC turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian Castro. Organisasi tersebut mengenang sang mantan juara dunia sebagai petinju dengan daya juang luar biasa yang meninggalkan warisan penting bagi tinju Argentina dan Amerika Selatan.
Kepergian Castro menutup perjalanan seorang petinju yang namanya lekat dengan keberanian dan semangat pantang menyerah di atas ring. Bagi penggemar tinju, kemenangan dramatisnya atas John David Jackson akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah olahraga tersebut.