Sesi foto bersama anggota Komisi X DPR RI Verrell Bramasta dengan Menpora Erick Thohir. (Foto: Istimewa
Sesi foto bersama anggota Komisi X DPR RI Verrell Bramasta dengan Menpora Erick Thohir. (Foto: Istimewa

8 Atlet Panjat Tebing Laporkan Dugaan Kekerasan Seksual, Verrell Bramasta Dukung Menpora Buka Kanal Pengaduan

Kautsar Halim • 27 Februari 2026 18:17
Ringkasnya gini..
  • Delapan atlet panjat tebing melaporkan dugaan kekerasan seksual dan fisik yang terjadi saat menjalani latihan, membuat dunia olahraga Indonesia kembali menjadi sorotan publik.
  • Anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, menyatakan keberpihakan kepada korban dan mendukung langkah Erick Thohir membuka saluran pengaduan resmi bagi atlet yang mengalami kekerasan.
  • Kasus ini mendorong evaluasi sistem perlindungan atlet di pelatnas dan federasi olahraga, demi memastikan pembinaan berjalan aman, transparan, dan bebas dari kekerasan.
Jakarta: Dunia olahraga Indonesia kembali diguncang kabar serius. Cabang olahraga panjat tebing yang selama ini dikenal berprestasi di level internasional sedang mendapat sorotan setelah delapan atletnya melaporkan dugaan kekerasan seksual dan kekerasan fisik ketika berlatih kepada Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid.
 
Mencuatnya kasus ini memicu keprihatinan luas, termasuk dari anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta. Ia menegaskan bahwa dunia olahraga seharusnya menjadi ruang aman bagi atlet untuk berkembang, bukan tempat terjadinya kekerasan dalam bentuk apa pun.
 

Verrell: Olahraga Harus Jadi Ruang Aman


Verrell menyampaikan penyesalannya atas dugaan kasus tersebut dan mengecam segala bentuk kekerasan, baik seksual maupun fisik, di lingkungan olahraga.
 
Menurutnya, para atlet yang berlatih di pelatnas sedang mempersiapkan diri untuk mengharumkan nama bangsa. Karena itu, keamanan, keselamatan, dan martabat mereka wajib dijaga tanpa kompromi. Ia menegaskan berada di sisi korban serta mendorong agar proses hukum berjalan transparan dan tegas jika terbukti ada pelanggaran.

"Saya berada di sisi korban dan mendoakan mereka serta keluarga yang terdampak. Kita kawal kasus ini, dan jika terbukti bersalah, pelaku harus mendapat sanksi tegas agar tidak ada lagi korban berikutnya," kata Verrell.
 
Pernyataan ini sekaligus mempertegas posisi Komisi X DPR RI dalam mengawal isu perlindungan atlet di bawah mitra kerja mereka, yakni Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
 

Dukung Langkah Menpora Erick Thohir Buka Saluran Pengaduan


Sejalan dengan itu, Verrell mendukung langkah Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, yang membuka ruang pengaduan bagi korban kekerasan di lingkungan olahraga. Ia mengapresiasi pembentukan tim khusus serta dukungan Kemenpora terhadap proses investigasi yang tengah dilakukan FPTI. 
 
Menurut Verrell, langkah ini penting agar korban yang pernah atau sedang mengalami pelecehan seksual maupun kekerasan fisik memiliki kanal aman untuk melapor. Kemudian, Verrell juga menekankan pentingnya pendampingan maksimal bagi korban, termasuk akses pemulihan psikologis dan perlindungan identitas. 
 
"Korban harus mendapatkan pendampingan maksimal, termasuk akses pemulihan psikologis yang memadai. Identitas mereka harus dijaga dan dilindungi, agar tidak menghadapi tekanan sosial karena keberanian mereka untuk bersuara," ujar Verrell. 
 

Desakan Perkuat Sistem Pengawasan di Pelatnas


Lebih lanjut, Verrell berharap evaluasi menyeluruh dilakukan oleh seluruh federasi olahraga di Indonesia. Ia menilai sistem pengawasan dan perlindungan atlet di pelatnas maupun federasi harus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
 
Menurutnya, kasus ini bukan hanya menyakitkan bagi para korban dan keluarga, tetapi juga berdampak pada citra olahraga nasional. Integritas pembinaan atlet harus menjadi prioritas utama agar prestasi yang diraih Indonesia di panggung dunia tidak ternoda oleh persoalan internal.
 
"Peristiwa ini bukan hanya menyakitkan bagi korban tapi juga bagi citra olahraga Tanah Air," pungkas Verrell.
 
Kasus dugaan kekerasan seksual atlet panjat tebing ini tengah menjadi perhatian publik. Dukungan terhadap korban, transparansi investigasi, serta komitmen reformasi sistem perlindungan atlet menjadi kunci agar dunia olahraga Indonesia kembali menjadi ruang yang aman, bermartabat, dan berprestasi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KAH)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan