Namun, prestasi itu tidak diraih Djokovic dengan mudah pada fase final yang bergulir di London Minggu 11 Juli. Matteo Berrettini sebagai lawannya sempat merebut set pertama lebih dulu, sebelum akhirnya dia membalikkan keadaan dengan skor 6-7, 6-4, 6-4, dan 6-3.
Pada set kedua, Djokovic bereaksi dengan memainkan tempo cepat dan memimpin 4-0 sebelum mengakhirinya dengan menyamakan kedudukan. Kemudian, satu break servis di set ketiga dan dua break lainnya pada set keempat memastikan Djokovic keluar sebagai pemenang.
Bukan kejutan lagi jika Djokovic berhasil menaklukkan lawannya. Sebab, Berrettini yang berasal dari Italia sempat kalah pada dua pertemuan (head to head) sebelumnya dan Djokovic pun berstatus sebagai juara bertahan Wimbledon.
Setelah menjuarai Australian Open, French Open, dan Wimbledon tahun ini, Djokovic artinya hanya butuh satu gelar Grand Slam lagi untuk menyabet gelar Golden Slam. Selain itu, dia berpotensi mengukir rekor baru sebagai petenis putra pertama yang memenangi empat Grand Slam dan satu emas Olimpiade pada tahun yang sama.
Satu-satunya atlet yang pernah mengukir Golden Slam --sebutan sapu bersih empat Grand Slam ditambah medali emas Olimpiade dalam satu tahun yang sama-- hanya petenis putri Jerman Steffi Graf pada 1988 silam. (ANT)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News