Poster penyelenggaraan IFC Bali 2025. (Foto: Istimewa)
Poster penyelenggaraan IFC Bali 2025. (Foto: Istimewa)

IFC Bali 2025 Ikut Gerakkan Industri Olahraga dan Sport Tourism

Kautsar Halim • 07 Oktober 2025 20:33
Jakarta: Ajang sepak bola usia muda bertaraf internasional, MyTISI International Football Championship (IFC) 2025 bakal berlangsung di Bali pada 21–23 Oktober mendatang. Turnamen ini menghadirkan 420 pesepak bola muda dari berbagai provinsi di Indonesia dan empat negara lain, yakni Jepang, Filipina, Malaysia, dan Tiongkok.
 
Beda dengan turnamen sepak bola usia muda lainnya, seluruh pertandingan di MyTISI International Football Championship (IFC) 2025 terhubung dengan sistem statistik pertandingan real-time sebagai bagian dari program pembinaan. Kemudian, para pesertanya akan bersaing di tiga kategori usia U-12, U-14, dan U-16, untuk memperebutkan kesempatan langka, yakni beasiswa pelatihan di klub LALIGA Spanyol, Levante UD.
 
"Kami ingin para pemain memahami kekuatan dan kelemahan mereka secara data. Semua pertandingan disiarkan live streaming dan setiap pemain akan menerima laporan performa individu," ujar Pendiri MyTISI IFC, I Gusti Agung Putu Nuaba, di Denpasar dalam keterangan resmi turnamen.

Selain itu, Agung memaparkan, IFC Bali 2025 bukan sekadar kompetisi sepak bola, tetapi gerakan sport tourism yang berkontribusi langsung pada perekonomian lokal. Selama pelaksanaan, lanjut Agung, diperkirakan terjadi perputaran uang mencapai Rp2,5 miliar dari sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga aktivitas wisata peserta dan pendukung acara.
 
Kemudian ditambah hitungan dari sekitar 100 peserta asing dari Jepang, Filipina, Malaysia, dan Tiongkok yang akan berada di Bali selama sepekan. Pengeluaran mereka untuk hotel, konsumsi, transportasi, serta paket wisata dan kegiatan budaya diperkirakan menjadi penyumbang utama perputaran ekonomi di kisaran Rp2,5 miliar.
 
"Banyak peserta dari luar negeri menginap dan membeli paket konsumsi serta aktivitas selama di Bali. Estimasi perputaran uang selama enam hari sekitar Rp2,5 miliar," ungkap Agung.
 
Agung menambahkan, angka tersebut belum termasuk belanja pengunjung, media, dan kegiatan ekonomi masyarakat sekitar venue. IFC pun menjadi contoh konkret bagaimana olahraga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus memperluas peluang kerja di sektor pariwisata dan UMKM.
 
"Bukan cuma itu, IFC Bali 2025 juga menghadirkan side event edukatif bertema budaya Bali dan UMKM Desa Wisata Carangsari. Para peserta diajak mengenal kekayaan lokal, mulai dari agrowisata hingga tarian tradisional seperti kecak dan tabuh balaganjur," jelasnya.
 
"Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana olahraga bisa berkolaborasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, menjadikan IFC bukan hanya turnamen, tapi juga platform promosi budaya dan pemberdayaan UMKM lokal," imbuh Agung.
 
Sementara itu, Deputi Pemberdayaan Olahraga Kemenpora RI, Raden Isnanta, menyebut IFC Bali adalah contoh nyata bagaimana olahraga dapat berkembang menjadi industri yang produktif dan berdaya saing global.
 
"Seperti pesan Pak Erick Thohir, bahwa ke depan kolaborasi dengan pihak-pihak swasta akan semakin besar. Semoga, kesuksesan IFC di 2025 ini bisa membuat eventnya makin besar lagi dan mendatangkan tim yang lebih banyak lagi dari luar negeri. Artinya, ini menggerakkan industri," kata Isnanta.
 
"Mendatangkan uang dari luar untuk masuk ke Indonesia karena mereka belanja di sini, nilainya bisa sampai miliaran. Ini baru satu event, kalau ada banyak event seperti ini, di kota yang lain atau daerah yang lain melibatkan banyak negara juga, bisa jadi setahun nilainya sampai triliunan duit yang berputar di industri olahraga, khususnya sepak bola usia muda ini," jelasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KAH)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan