Ilustrasi pelayanan kesehatan di Papua. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.
Ilustrasi pelayanan kesehatan di Papua. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.

Pekan Olahraga Nasional XX

Penanganan Serius Kasus Malaria Jelang PON XX Papua

Olahraga olah raga pon 2020
Roylinus Ratumakin • 27 Januari 2020 18:32
Setelah penyelenggaraan PON XX, penyebaran malaria akan semakin tinggi, tidak hanya di Papua, tetapi juga ke seluruh Indonesia karena dibawa pulang oleh para atlet.
 
Jayapura: Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB, dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Beeri Wopari mengatakan, target pemerintah mengeliminasi penyakit malaria pada 2028, sebenarnya sangat terbantu dengan akan dilaksanakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX di Papua.
 
Sebab untuk mengamankan para peserta dan tim pendukung selama di Papua, pemerintah akan menggenjot program eliminasi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, persoalan juga muncul karena berpotensi mengancam program eliminasi malaria secara nasional. Sebab, katanya, peserta, baik atlet maupun tim pendukung datang dari daerah-daerah yang tingkat endemis malarianya sangat rendah, bahkan tidak ada.
 
“Mereka ini datang ke Papua yang tingkat endemis malarianya cukup tinggi, artinya di sini (Papua) akan berpotensi penularan malaria yang hebat di lingkungan atlet dan ofisial,” kata Wopari, Senin 27 Januari 2020.
 
Jika itu terjadi, kata Wopari, program eliminasi malaria hanya tinggal wacana. Sebab bisa jadi setelah penyelenggaraan PON XX, penyebaran malaria akan semakin tinggi, tidak hanya di Papua, tetapi juga ke seluruh Indonesia karena dibawa pulang oleh para atlet dan tim pendukung.
 
Karena ancaman tersebut, tidak ada pilihan, semua sektor di Papua harus bekerja keras menurunkan kasus malaria menjelang PON ke XX yang tinggal 267 hari.
 
“Jika tidak ada kerja sama lintas sektoral, maka program eliminasi malaria hanya tinggal wacana,” ujarnya.
 
Menurut Wopari, eliminasi malaria harus dilakukan bersama-sama sehingga daerah Papua, terutama di lokasi penyelenggaraan PON XX benar-benar aman untuk tamu PON dari seluruh Indonesia.
 
Ia juga mengharapkan partisipasi masyarakat Papua menjaga lingkungannya tetap bersih. Selain itu segera berobat ke rumah sakit jika terkena malaria.
 
Wopari tidak menampik, malaria masih menjadi momok di Papua. Terlebih ketika menjadi tuan rumah kegiatan besar seperti PON. Karena itulah Pemprov Papua membangun “Malaria Centre” yang fungsinya sebagai kontrol koordinasi dan bukan implementasi.
 
“Apa yang dikoordinasi? Semua lintas sektor agar bahu-membahu untuk menurunkan angka malaria tersebut, masalah malaria ada dua, yaitu masalah lingkungan dan masalah perilaku,” katanya.
 
Kata Wopari, Malaria Centre dibentuk di 28 kabupaten dan kota. Namun, setelah dilihat dari arah kebijakan nasional tentang eliminasi malaria, kemudian akan dibangun sesuai dengan konteks wilayah lima adat, yaitu Mamta, Saireri, Lapago, Meepago, dan Animha.
 
“Artinya, masih saja masyarakat yang terjangkit penyakit tersebut baik itu bayi, anak, hingga orang tua dan yang paling mengkhawatirkan adalah penyakit malaria pada ibu hamil karena akan berdampak pada janin yang dikandung oleh ibu tersebut,” ujarnya.
 
Sesuai arah kebijakan Pemerintah Indonesia, pada 2030 Indonesia harus tuntas mengeliminasi malaria. Namun, khusus untuk Papua, data yang dihimpun Dinas Kesehatan Papua dan Kementerian Kesehatan RI ternyata di Indonesia, Papua masih tertinggi kasus penyakit malaria.
 
“Tidak ada cara lain, kita harus segera atau akselerasi (percepatan) untuk menurunkan kasus malaria di Papua untuk melindungi masyarakat,” katanya.
 
Video: Legenda NBA Kobe Bryant Meniggal Dunia

 

(RIZ)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif