Kemenangan ini memastikan Ratri meraih emas ganda campuran dalam empat edisi Asian Para Games secara beruntun. Catatan tersebut dimulai di Incheon 2014, berlanjut di Jakarta 2018 dan Hangzhou 2022, hingga kembali terulang di Nagoya 2026.
Namun, emas kali ini tidak datang dengan mudah. Ratri/Hikmat harus melewati pertandingan selama 51 menit sebelum menang dengan skor 11-21, 21-19, 21-14. Mereka sempat kehilangan gim pertama, tetapi mampu membalikkan keadaan lewat permainan yang lebih tenang pada dua gim berikutnya.
Medali emas ini juga menambah koleksi prestasi pasangan tersebut setelah sebelumnya meraih gelar ganda campuran pada Paralimpiade Paris 2024.
Ratri/Hikmat Sempat Tertekan di Gim Pertama
Ratri/Hikmat mengawali pertandingan final dengan kurang meyakinkan. Pasangan India mampu mengendalikan permainan dan membuat wakil Indonesia kesulitan mengembangkan strategi. Gim pertama pun berakhir dengan kekalahan 11-21.
Memasuki gim kedua, Ratri/Hikmat berusaha memperbaiki fokus dan komunikasi di lapangan. Pertandingan berlangsung semakin ketat ketika pasangan India memberikan perlawanan hingga kedudukan sempat imbang 16-16.
Ratri/Hikmat kemudian mampu menjaga konsistensi pada poin-poin krusial untuk menutup gim kedua dengan kemenangan 21-19. Hasil tersebut mengubah kedudukan menjadi 1-1 sekaligus membuka jalan menuju gim penentuan.
Pada gim ketiga, pasangan Indonesia tampil lebih meyakinkan. Mereka mampu membangun keunggulan sejak awal dan menjaga jarak dari lawan hingga akhirnya menang 21-14.
Perjuangan tersebut memperlihatkan daya juang Ratri/Hikmat dalam menghadapi tekanan di partai puncak.
Ratri Sempat Gugup setelah Kalah di Final Tunggal
Leani Ratri Oktila mengakui tekanan pertandingan membuatnya tidak bisa langsung tampil lepas. Padahal, ia dan Hikmat sudah beberapa kali menghadapi pasangan India tersebut dan biasanya mampu bermain lebih nyaman.
“Sebenarnya hasil emas ini, kalau saya sama Hikmat secara pribadi sudah menargetkan emas. Cuma saya tidak expect kalau tekanan di dalam lapangan sebesar ini,” ujar Ratri dalam keterangan resmi Kemenpora.
Ia mengatakan ketegangan masih terasa pada awal pertandingan, termasuk ketika berusaha menemukan ritme permainan di area belakang lapangan.
“Saya hanya tegang, di belakang juga belum tenang, masih ada beban di lapangan yang berat. Dan untuk set kedua saya mencoba tenang. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Tekanan yang dirasakan Ratri juga tidak terlepas dari pertandingan sebelumnya. Pada hari yang sama, ia baru saja tampil di final tunggal putri dan harus puas dengan medali perak.
“Saya barusan juga final di single dan kalah tadi. Mungkin kalau saya bangkit dari situ, memulai dari awal lagi kan sulit. Tapi kalau untuk mixed double, saya sebenarnya selalu percaya diri,” tuturnya.
Ratri mengakui ganda campuran merupakan nomor yang paling sering ia latih bersama Hikmat. Karena itu, medali emas di nomor tersebut memang sudah menjadi target mereka sejak awal Asian Para Games 2026.
Dukungan Penonton dan Komunikasi Jadi Kunci Comeback
Selain memperbaiki permainan, dukungan penonton Indonesia di tribun turut membantu Ratri/Hikmat melewati masa sulit.
Hikmat Ramdani mengatakan suasana sempat hening ketika mereka tertinggal jauh pada gim pertama. Namun, sorakan penonton yang kembali terdengar memberikan tambahan motivasi bagi pasangan Indonesia.
“Di poin-poin awal saja, ketika senyap, saya tahu penonton Indonesia banyak. Tapi ketika senyap, saya tahu mereka mungkin belum dapat menerima kami, karena kami memang ketinggalan jauh. Tapi ketika ada suara itu, tetap menambah motivasi,” ujar Hikmat.
Menurut Hikmat, ketenangan dan komunikasi menjadi faktor penting yang membantu mereka membalikkan keadaan.
“Saya mencoba tenang. Komunikasi lebih lagi di lapangan, saya tenang, tenang, tenang untuk mencari kemenangan kita,” katanya.
Ratri juga menegaskan ganda campuran merupakan nomor favoritnya bersama Hikmat. Keduanya menjalani latihan rutin untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan di nomor tersebut.
“Karena memang mixed double nomor favorit saya, nomor yang memang saya latihan setiap hari. Saya sama Hikmat itu latihannya setiap hari untuk mixed double,” ungkap Ratri.
Ia mengaku sudah menargetkan medali emas, meski tidak menyangka harus melewati pertandingan final yang begitu ketat.
Ketika ditanya kepada siapa medali emas tersebut dipersembahkan, Ratri menjawab singkat, “Tetap orang tua.”
Koleksi 12 Medali Asian Para Games
Emas di Nagoya semakin menegaskan konsistensi Leani Ratri Oktila di ajang Asian Para Games. Sepanjang empat edisi yang diikutinya, ia telah mengoleksi total 12 medali, terdiri dari enam emas, empat perak, dan dua perunggu.
Berikut rincian medali Ratri di Asian Para Games:
- Incheon 2014: emas ganda campuran, perak ganda putri, dan perunggu tunggal putri.
- Jakarta 2018: emas ganda campuran, emas ganda putri, dan perak tunggal putri.
- Hangzhou 2022: emas ganda campuran, emas ganda putri, dan perak tunggal putri.
- Nagoya 2026: emas ganda campuran, perak tunggal putri, dan perunggu ganda putri.
Khusus di Nagoya, Ratri berhasil meraih medali dari ketiga warna, yakni emas, perak, dan perunggu. Pencapaian tersebut melengkapi koleksi medalinya sekaligus menambah catatan sejarah di panggung olahraga para Asia.
Bidik Paralimpiade Los Angeles 2028
Setelah menuntaskan Asian Para Games 2026 dengan medali emas, Ratri dan Hikmat kini mengarahkan perhatian pada target berikutnya, yakni Paralimpiade Los Angeles 2028.
Ratri berharap kondisi kesehatannya tetap terjaga agar dapat kembali tampil di ajang olahraga terbesar bagi atlet disabilitas tersebut.
“Semoga saya sehat, lebih kesehatan untuk bisa tampil di LA. Target otomatis saya sekarang untuk bisa tampil di LA,” tegasnya.
Ratri/Hikmat memiliki modal prestasi yang kuat untuk menghadapi tantangan berikutnya. Selain emas Paralimpiade Paris 2024, mereka juga meraih gelar Kejuaraan Dunia BWF Para Badminton 2024 di Pattaya dan 2026 di Manama.
Keduanya turut mencatatkan prestasi di ASEAN Para Games serta berbagai turnamen sirkuit internasional.
Keberhasilan di Nagoya bukan hanya menambah koleksi gelar Ratri/Hikmat, tetapi juga menegaskan konsistensi mereka di nomor ganda campuran. Empat emas Asian Para Games secara beruntun menjadi pencapaian bersejarah yang kini ingin mereka lanjutkan dengan kembali bersaing di panggung Paralimpiade.