Sebanyak 2.128 pesepak bola putri usia dini ambil bagian dalam seri pembuka tersebut. Rinciannya, 1.037 peserta dari 57 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) tampil di Tangerang, sedangkan 1.091 pemain dari 63 SD dan MI berkompetisi di Semarang.
Di Tangerang, pertandingan digelar di Stadion Kera Sakti dan Stadion Mini Cisauk. Sebanyak 24 tim bersaing pada Kelompok Usia (KU) 10 dan 73 tim pada KU 12.
Sementara di Semarang, persaingan berlangsung di Stadion Universitas Diponegoro dan Lapangan Arhanud Jatingaleh. Sebanyak 35 tim turun di KU 10 dan 67 tim meramaikan kompetisi KU 12.
Hasilnya, SDN Pinang 3 dan SDN Kunciran 8 menjadi juara di Tangerang. Sedangkan di Semarang, SDN Kembangarum 2 Semarang dan MI Pagersari-Patean berhasil merebut podium tertinggi masing-masing di KU 10 dan KU 12.
Tiga Kota Baru, Jangkauan Makin Luas
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, bersyukur kompetisi dapat kembali digelar secara berkelanjutan. Menurutnya, kesinambungan turnamen menjadi bagian penting dalam membangun pembinaan sepak bola putri dari level akar rumput.
Musim 2026/2027 juga membawa perluasan wilayah. Tiga kota baru, yakni Jakarta Jaya (Jakarta Utara), Garut, dan Jayapura, masuk dalam rangkaian kompetisi musim ini. Secara keseluruhan, MLSC Seri 1 2026/2027 dijadwalkan menyambangi 15 kota.
“Kehadiran tiga kota baru juga menjadi langkah nyata kami untuk menjangkau lebih banyak talenta dan menumbuhkan minat anak-anak terhadap sepak bola sejak dini. Karena target besar kami masih sama, yaitu mengantarkan Timnas Putri Indonesia ke pentas Piala Dunia Wanita 2035,” kata Teddy.
“Kami berterima kasih kepada seluruh stakeholder mulai dari pihak sekolah, orangtua, serta partner yang mendukung kesuksesan MilkLife Soccer Challenge sampai saat ini,” imbuhnya.
Teddy juga menilai bertambahnya peserta dan sekolah baru menjadi sinyal positif bagi perkembangan sepak bola putri. Pada Seri 1 Semarang, terdapat sembilan sekolah baru yang ambil bagian, sementara Tangerang menambah empat sekolah dibandingkan partisipasi sebelumnya.
Menurut Teddy, semakin banyak anak perempuan yang mendapatkan kesempatan bermain secara rutin akan memperbesar peluang lahirnya talenta baru.
“Yang paling menggembirakan adalah kita bisa melihat karakter pemain yang semakin beragam dari seri-seri sebelumnya. Sehingga bisa dikatakan kita tidak kekurangan supply pemain dari level grassroot,” ujarnya.
“Ketika semakin banyak anak perempuan mendapatkan kesempatan bermain dan berkompetisi secara rutin, tentu akan semakin besar pula peluang kita menemukan talenta-talenta baru untuk masa depan sepak bola putri Indonesia,” lanjut Teddy.
Timo: Pemain Butuh Kompetisi Berkelanjutan
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, melihat kesinambungan kompetisi sebagai salah satu kunci dalam proses pembinaan pemain usia dini.
Menurut Timo, perkembangan seorang pemain tidak cukup dinilai dari satu pertandingan. Pemain membutuhkan kesempatan untuk menghadapi lawan dan situasi berbeda secara berulang agar perkembangan teknik, pengambilan keputusan, hingga mental bertanding dapat terlihat.
“Kalau melihat pemain dari perspektif pelatih, perkembangan mereka tidak bisa diukur hanya dari seberapa bagus mereka bermain dalam satu pertandingan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar dan membawa pembelajaran itu ke pertandingan berikutnya,” ujar Timo.
“Ketika mendapatkan kesempatan bermain secara berkelanjutan dengan tantangan yang berbeda, kami bisa melihat perkembangan mereka lebih jelas, mulai dari cara mengambil keputusan, membaca permainan, hingga menghadapi tekanan,” imbuhnya.
Timo menilai ekosistem kompetisi yang terhubung juga menjadi nilai penting dalam pembinaan. Setelah mendapatkan pengalaman di MLSC, para pemain dapat memiliki kesempatan menghadapi level persaingan berbeda melalui ajang seperti HYDROPLUS Soccer League, Caffino Srikandi Merdeka Cup, hingga turnamen internasional JSSL 7's Singapore.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari jalur pembinaan sepak bola putri yang dirancang berjenjang, dari level akar rumput hingga kompetisi yang lebih tinggi. Sebelumnya, Teddy juga menyebut MilkLife Soccer Challenge, HYDROPLUS Soccer League, dan Caffino Srikandi Merdeka Cup sebagai bagian dari ekosistem pembinaan sepak bola putri.
“Buat saya, di situlah nilai penting dari sebuah jalur pembinaan. Pemain tidak harus langsung menjadi sempurna, tetapi perlu ruang untuk terus belajar dan menghadapi tantangan baru,” kata Timo.
“MLSC menjadi salah satu pengalaman penting untuk membangun fondasi, sebelum mereka mendapat kesempatan tampil di kompetisi berikutnya dengan level yang lebih tinggi,” tambahnya.
SDN Pinang 3 Juara Dramatis di Tangerang
Persaingan di Tangerang menghasilkan drama menarik pada final KU 10.
SDN Pinang 3 keluar sebagai juara setelah mengalahkan SDN Cipulir 03 melalui adu penalti dengan skor 2-1. Pertandingan harus ditentukan lewat tos-tosan setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol pada waktu normal.
Kiper SDN Pinang 3, Shofiauliya Ferdian, menjadi sosok penting di balik kemenangan tersebut. Ia menggagalkan tiga eksekusi penalti lawan sekaligus menyumbang satu gol dalam drama adu penalti.
“Waktu adu penalti tadi aku cuma diminta pelatih untuk yakin dan fokus melihat arah bola. Alhamdulillah bisa dapat hasil maksimal dan yang pasti senang dan bangga juga bisa jadi juara satu,” ujar Shofiauliya.
Penampilan tersebut sekaligus mengantarkan Shofiauliya meraih penghargaan Best Goalkeeper KU 10.
Di kategori KU 12, SDN Kunciran 8 tampil sebagai juara setelah mengalahkan SDN Kunciran 4 B dengan skor 3-1.
Revalia Safitri menjadi bintang kemenangan Kunciran 8 setelah mencetak dua gol melalui tembakan jarak jauh. Satu gol lainnya tercipta melalui gol bunuh diri kiper SDN Kunciran 4 B, Shofie Salsabila.
Revalia mengaku kemenangan tersebut terasa spesial karena merupakan gelar pertamanya di MilkLife Soccer Challenge. Ia juga menyebut kekompakan tim menjadi salah satu kunci keberhasilan.
“Pertama-tama yang pasti senang dan bersyukur, juga ada terharunya dan bangga sama teman-teman. Soalnya ini kemenangan pertama di MilkLife Soccer Challenge,” ujar Revalia.
“Terima kasih buat teman-teman yang sudah berjuang bersama. Soalnya lawan-lawannya dari kemarin juga jago-jago, tapi aku selalu semangat buat berjuang lebih keras lagi,” imbuhnya.
Revalia kemudian dinobatkan sebagai Best Player KU 12.
Empat Juara dari Tangerang dan Semarang
Selain Tangerang, Seri 1 MLSC 2026/2027 di Semarang juga melahirkan dua juara.
SDN Kembangarum 2 Semarang menjadi kampiun KU 10, sedangkan MI Pagersari-Patean merebut gelar juara KU 12. Dengan demikian, empat sekolah mengawali musim ini sebagai kampiun di masing-masing kelompok usia.
Menariknya, MI Pagersari-Patean tampil sebagai juara baru di Semarang. Tim tersebut juga melahirkan pencetak gol terbanyak KU 12 melalui Ammaora Kalani Putri. Sementara pada KU 10, Ayra Kirana Mahestri dari SDN Kembangarum 2 Semarang menjadi top scorer dengan 39 gol.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga membuka ruang bagi munculnya pemain-pemain muda dengan potensi berbeda di setiap daerah.
Format Kompetisi dan Festival SenengSoccer
MilkLife Soccer Challenge Seri 1 2026/2027 tetap menggunakan format tujuh lawan tujuh tanpa aturan offside. Pertandingan berlangsung 2 x 10 menit sejak babak penyisihan hingga perempat final, sedangkan semifinal dan final dimainkan dalam durasi 2 x 15 menit.
Ada pula perubahan pada KU 10. Jika sebelumnya menggunakan lapangan berukuran 40 x 24 meter, musim ini dimensinya disamakan dengan KU 12 menjadi 42 x 26 meter.
Batas usia juga ditetapkan secara spesifik. KU 10 diikuti pemain kelahiran 1 Juli 2016 hingga 30 Juni 2018, sedangkan KU 12 untuk kelahiran 1 Juli 2014 hingga 30 Juni 2016.
Selain pertandingan tujuh lawan tujuh, MLSC kembali menghadirkan Festival SenengSoccer KU 8 sebagai ruang pengenalan sepak bola bagi anak perempuan yang lebih muda.
Di Tangerang, Festival SenengSoccer diikuti 75 siswi dari 22 SD dan MI. Sementara di Semarang terdapat 83 peserta dari 18 SD dan MI.
Selanjutnya, Giliran Jakarta dan Yogyakarta
Perjalanan MilkLife Soccer Challenge 2026/2027 belum berhenti.
Setelah membuka musim di Tangerang dan Semarang, Seri 1 akan berlanjut ke Jakarta Raya (Jakarta Timur) dan Yogyakarta pada 15-20 September 2026. Setelah itu, kompetisi dijadwalkan menyambangi Kudus dan Bekasi, Jakarta Jaya dan Bandung, Surabaya, Garut, Malang dan Solo, Samarinda, Banjarmasin, hingga Jayapura.
Secara keseluruhan, MLSC Seri 1 2026/2027 akan berlangsung di 15 kota. Perluasan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola putri usia dini mulai bergerak semakin luas, sekaligus memberi lebih banyak anak perempuan kesempatan untuk merasakan atmosfer kompetisi.
Bagi para pemain muda, perjalanan menuju level tertinggi tentu masih panjang. Namun, setiap pertandingan, gol, penyelamatan, kemenangan, bahkan kekalahan menjadi bagian dari proses.
Dari lapangan-lapangan sekolah dan stadion di berbagai kota itulah, mimpi besar sepak bola putri Indonesia mulai dibangun.