Perjalanan Matsushima terbilang luar biasa. Ia tidak hanya bersinar di kelompok usia junior, tetapi juga mampu bersaing dengan para pemain elite dunia sejak masih sangat muda.
Pada 5 Oktober 2026, International Table Tennis Federation (ITTF) mengumumkan Matsushima sebagai pemain nomor satu dunia tunggal putra melalui pembaruan peringkat pekan ke-41. Pencapaian itu sekaligus mengakhiri penantian panjang Jepang untuk kembali memiliki pemain di posisi teratas.
Matsushima menjadi pemain Jepang pertama yang menduduki peringkat satu dunia sejak Seiji Ono pada Juli 1980. Ia juga menjadi pemain non-Tiongkok pertama yang mencapai posisi tersebut sejak Dimitrij Ovtcharov dari Jerman pada 2018.
Profil Sora Matsushima: Anak Keluarga Pencinta Tenis Meja
Sora Matsushima lahir di Kyoto, Jepang, pada 29 April 2007. Ia memiliki tinggi badan 173 sentimeter dan dikenal sebagai pemain kidal yang menggunakan pegangan bet shakehand atau seperti berjabat tangan.
Matsushima mengandalkan permainan menyerang dengan pukulan forehand dan backhand. Karakter permainannya dikenal agresif, didukung kemampuan melakukan serangan balik serta penempatan bola yang menyulitkan lawan.
Ketertarikannya terhadap tenis meja tumbuh dari lingkungan keluarga. Kedua orang tuanya merupakan mantan pemain tenis meja tingkat korporasi di Jepang. Matsushima mulai berlatih secara serius ketika berusia tiga tahun di tempat latihan tenis meja yang didirikan kakek dan nenek dari pihak ibunya.
Bakatnya berkembang pesat sejak usia anak-anak. Ia bahkan mampu mencatatkan enam gelar beruntun pada kejuaraan nasional Jepang kelompok usia sekolah dasar, sebelum mulai menapaki kompetisi internasional.
Dalam perjalanan pembinaannya, Matsushima pernah berlatih di Tasaka Takuken dan JOC Elite Academy sebelum bergabung dengan kelompok Kinoshita. Ia kemudian memperkuat Kinoshita Meister Tokyo di kompetisi T.League pada periode 2020 hingga 2026.
Memasuki musim 2026-2027, Matsushima bergabung dengan Okayama Rivets. Perubahan klub tersebut menjadi bagian dari perjalanan barunya setelah berhasil mencapai puncak peringkat dunia.
Debut di Turnamen Senior saat Berusia 11 Tahun
Sora Matsushima mulai mendapat perhatian internasional ketika mengikuti ITTF World Tour Japan Open 2018. Saat itu, usianya baru 11 tahun dan ia harus menghadapi pemain-pemain senior yang jauh lebih berpengalaman.
Matsushima tampil di babak kualifikasi nomor tunggal putra Japan Open yang berlangsung di Kitakyushu, Jepang. Kehadirannya menjadi pemandangan menarik karena masih sangat muda dibandingkan para peserta lainnya.
Meski belum berhasil melewati babak kualifikasi, pengalaman tersebut menjadi langkah awal penting dalam perjalanan karier internasionalnya.
ITTF kemudian menyoroti debut Matsushima sebagai gambaran munculnya talenta muda Jepang yang memiliki potensi besar untuk bersaing di level tertinggi.
Bersinar di Kelompok Junior
Setelah debut internasional, Matsushima terus memperlihatkan perkembangan melalui berbagai kompetisi kelompok usia.
Pada 2019, ia berhasil menjuarai nomor tunggal putra kadet dalam ITTF Junior Circuit Golden Hong Kong, China Junior and Cadet Open. Ia juga meraih gelar di Swedish Junior and Cadet Open yang berlangsung di Örebro.
Prestasinya semakin menonjol pada 2021. Matsushima berhasil merebut gelar tunggal putra U-15 pada World Youth Championships di Vila Nova de Gaia, Portugal.
Keberhasilan tersebut memperkuat reputasinya sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan dari Jepang.
Namun, perjalanan menuju level senior tidak berlangsung secara instan. Matsushima harus terus meningkatkan kualitas permainan dan mengumpulkan pengalaman menghadapi pemain-pemain terbaik dunia.
Mulai Menembus Persaingan Elite Dunia
Karier Matsushima semakin melejit dalam beberapa tahun terakhir. Ia mulai memperlihatkan kemampuan untuk bersaing dengan pemain-pemain papan atas dalam turnamen internasional.
Salah satu pencapaian penting datang pada 2025 ketika ia menjuarai WTT Champions Frankfurt. Gelar tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Matsushima bukan sekadar pemain muda berbakat, melainkan juga pesaing serius di level elite.
Performa positifnya berlanjut pada 2026. Matsushima berhasil menjuarai United States Smash setelah mengalahkan lawan-lawannya dalam persaingan ketat.
Ia juga tampil konsisten di sejumlah turnamen besar, termasuk mencapai semifinal Europe Smash di Swedia, WTT Champions Yokohama, dan WTT Champions Chongqing.
Rangkaian hasil tersebut semakin mengangkat reputasinya dalam persaingan tenis meja internasional.
Cetak Sejarah sebagai Pemain Nomor Satu Dunia
Puncak perjalanan Matsushima datang pada 5 Oktober 2026. ITTF mengumumkan dirinya sebagai pemain nomor satu dunia tunggal putra dalam pembaruan peringkat pekan ke-41.
Saat itu, Matsushima berusia 19 tahun, lima bulan, dan enam hari.
Pencapaian tersebut membuatnya menjadi pemain Jepang termuda yang pernah menduduki posisi puncak peringkat dunia tunggal putra.
Ia menggantikan Wang Chuqin dari Tiongkok yang sebelumnya berada di posisi teratas. Matsushima juga menjadi pemain non-Tiongkok pertama yang mencapai peringkat satu dunia sejak Dimitrij Ovtcharov pada 2018.
Keberhasilan ini terasa semakin istimewa karena Jepang sudah menunggu lebih dari empat dekade untuk kembali memiliki pemain nomor satu dunia tunggal putra.
Sebelumnya, Seiji Ono menjadi pemain Jepang terakhir yang menduduki posisi tersebut pada Juli 1980.
Matsushima pun masuk dalam jajaran pemain termuda yang pernah mencapai puncak peringkat dunia. Meski demikian, ITTF menegaskan bahwa ia bukan pemain termuda sepanjang sejarah yang pernah mencapai posisi tersebut.
Finalis Piala Dunia dan Bawa Jepang Raih Emas Asian Games
Selain bersinar di level individu, Matsushima juga memberikan kontribusi penting bagi tim nasional Jepang.
Pada Kejuaraan Dunia Beregu 2026 di London, ia membantu Jepang meraih medali perak nomor beregu putra.
Prestasinya berlanjut di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Matsushima menjadi bagian penting tim Jepang yang berhasil merebut medali emas beregu putra setelah mengalahkan Tiongkok di partai final.
Jepang mengakhiri penantian panjang selama 60 tahun untuk kembali menjadi juara nomor beregu putra tenis meja Asian Games.
Matsushima juga memperlihatkan kemampuannya di nomor individu pada Piala Dunia Tenis Meja 2026 di Makau. Ia berhasil mencapai partai final sebelum akhirnya kalah 3-4 dari Wang Chuqin.
Hasil tersebut tetap menjadi pencapaian penting karena Matsushima menjadi pemain Jepang kedua yang berhasil mencapai final nomor tunggal putra Piala Dunia.
Dengan usia yang masih 19 tahun, perjalanan Matsushima tentu masih panjang. Statusnya sebagai pemain nomor satu dunia menjadi modal penting untuk terus menambah prestasi sekaligus mempertahankan dominasi di level internasional.
Dari seorang bocah yang mengikuti babak kualifikasi turnamen senior pada usia 11 tahun, Matsushima kini menjelma menjadi salah satu pemain paling diperhitungkan dalam dunia tenis meja.