Sebanyak 214 downhiller dari dalam dan luar negeri ambil bagian dalam kejuaraan yang menguji kemampuan peserta menaklukkan lintasan sepanjang 2.300 meter dengan elevasi lebih dari 350 meter.
Selain peserta dari berbagai daerah di Indonesia, BIG Downhill 2026 juga diikuti rider dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.
Dengan dukungan 76Rider, ajang bertajuk “Nyali Aja Nggak Cukup” tersebut menghadirkan 20 kelas, mulai dari kategori prestasi hingga kelas hobi dan pemula.
Pada kelas utama Men Elite, Agung Prio Apriliano dari Astrindo Racing Team tampil sebagai yang tercepat. Ia menaklukkan lintasan dalam waktu 3 menit 18,249 detik.
Agung unggul sekitar dua detik atas Pahraz Salman Alparisi dari Underdog PSA yang finis di posisi kedua dengan catatan 3 menit 20,414 detik. Posisi ketiga ditempati Yosi Saputro dari Yeti Tribe Indonesia Racing Team dengan waktu 3 menit 22,120 detik.
Agung mengaku kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Ia sempat mengalami masalah teknis saat sesi seeding run setelah ban depan sepedanya pecah ketika melewati rock garden.
"Padahal, kemarin di sesi seeding run saya sempat mengalami mechanical trouble yaitu pecah ban depan di rock garden. Tidak bisa maksimal saat seeding run tentu memengaruhi mental dan ada tekanan lebih besar," ujar Agung seusai lomba.
Menurut Agung, kepercayaan diri dan strategi menjadi kunci untuk mengantisipasi masalah serupa saat final run.
"Berusaha untuk tetap percaya diri dan lebih antisipatif menambah tekanan angin agar tidak pecah ban lagi," imbuhnya.
Nilna Tak Terbendung di Women Elite
Persaingan ketat juga terjadi di kelas Women Elite. Nilna Murni Ningtyas dari Spartan Racing Team berhasil menjadi juara setelah mencatatkan waktu 3 menit 48,214 detik.Nilna hanya unggul sekitar 1,3 detik atas Milatul Khaqimah dari Nukeproof Axxes Racing Team yang finis kedua dengan waktu 3 menit 49,567 detik.
Posisi ketiga ditempati Ayu Tria Andriana dari Alaska Squad dengan catatan 3 menit 53,159 detik.
Nilna mengatakan final run menjadi tantangan tersendiri karena harus tampil sebagai rider terakhir dan menghadapi tekanan dari para pesaing.
"Tadi saya sempat gugup saat final run karena saya start terakhir dan rider-rider lain juga kencang. Tapi, saya sanggup mengendalikan emosi dan fokus dengan strategi sendiri," kata Nilna.
Menurut dia, karakter lintasan Gantasan Bike Park tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga kondisi fisik dan pengaturan sepeda yang tepat.
"Lintasan di Gantasan Bike Park tahun ini panjang, jadi tidak hanya mengandalkan skill, tetapi juga menuntut fisik dan settingan sepeda yang tepat," ujarnya.
Persaingan Ketat Men Junior
Sementara itu, kelas Men Junior menjadi milik Dimas Aradhana. Rider berstatus privateer tersebut menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 3 menit 21,557 detik.Dimas harus menghadapi persaingan ketat dari Nazwa Agazani yang hanya terpaut 0,333 detik. Nazwa finis di posisi kedua dengan waktu 3 menit 21,890 detik.
Posisi ketiga ditempati rider tuan rumah, Ahmad Nasywa Ridhodin dari Sego Anget Racing Team, dengan waktu 3 menit 23,396 detik.
Inisiator BIG Downhill, H. Munif, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan persaingan yang lebih ketat dibandingkan edisi sebelumnya.
Menurut dia, BIG Downhill 2026 diikuti 214 peserta yang terbagi dalam 20 kelas. Tantangan lintasan juga ditingkatkan melalui sejumlah rintangan alami dan buatan.
"Persaingannya tahun ini jauh lebih ketat daripada tahun-tahun sebelumnya, khususnya di kelas prestasi Men Junior, Women Elite, dan Men Elite," kata Munif.
Lintasan Gantasan Bike Park menghadirkan sejumlah obstacle, antara lain rock garden, big drop, drop, berm, hingga table top. Kondisi tersebut membuat peserta dituntut memiliki kemampuan membaca line sekaligus menjaga kecepatan dan kontrol sepeda.
Munif menambahkan, dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi serta sponsor turut memperkuat penyelenggaraan BIG Downhill 2026. Kolaborasi tersebut diharapkan ikut mendorong perkembangan ekosistem dan prestasi downhill di tingkat nasional.
Berlabel Class 1 UCI
Perwakilan 76Rider, Agnes C. Wuisan, mengatakan BIG Downhill memiliki arti penting bagi perkembangan olahraga downhill Indonesia. Kejuaraan tersebut telah mengantongi sertifikasi internasional Class 1 (C1) dari Union Cycliste Internationale (UCI).Selain menjadi wadah kompetisi bagi para downhiller nasional, Agnes menilai kejuaraan tersebut memiliki daya tarik dari sisi sportainment.
Keunikan bentang alam Ijen Geopark serta karakter lintasan Gantasan Bike Park menjadi bagian dari daya tarik BIG Downhill bagi pegiat olahraga ekstrem dan penonton.
"BIG Downhill punya daya tarik yang besar dan menarik minat yang tinggi, tidak hanya buat pegiat downhill tapi juga para penggemar extreme sport yang lebih luas," ujar Agnes.
Dengan 214 peserta dari 20 kelas, BIG Downhill 2026 mempertemukan rider dari berbagai level kemampuan. Kategori yang diperlombakan mencakup Men Elite, Women Elite, Men Junior, Men Youth, Men Expert A dan B, Men Sport A dan B, serta sejumlah kelas tambahan.
Kejuaraan tersebut sekaligus menjadi panggung bagi para rider untuk menguji kemampuan mereka di salah satu lintasan downhill dengan karakter teknis dan tantangan yang beragam di kawasan Banyuwangi.
Lima Besar Men Elite
Agung Prio Apriliano – Astrindo Racing Team – 3 menit 18,249 detikPahraz Salman Alparisi – Underdog PSA – 3 menit 20,414 detik
Yosi Saputro – Yeti Tribe Indonesia Racing Team – 3 menit 22,120 detik
Pandu Satrio Perkasa – Sego Anget Racing Team – 3 menit 25,590 detik
Mohammad Abdul Hakim – 76Rider Downhill Squad – 3 menit 27,653 detik
Lima Besar Women Elite
Nilna Murni Ningtyas – Spartan Racing Team – 3 menit 48,214 detikMilatul Khaqimah – Nukeproof Axxes Racing Team – 3 menit 49,567 detik
Ayu Tria Andriana – Alaska Squad – 3 menit 53,159 detik
Tsuraya Azwa Pambudi – Yeti Tribe Indonesia Racing Team – 3 menit 56,382 detik
Nining Porwaningsih – Anindya Racing Team – 3 menit 57,495 detik