Kompetisi yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan PB Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) tersebut menjadi wadah bagi para atlet junior untuk menguji kemampuan sekaligus membidik prestasi di level nasional.
Jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan edisi sebelumnya yang diikuti 876 atlet muda. Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan ekosistem olahraga panahan Indonesia, khususnya dalam hal pembinaan atlet usia dini.
Ketua Panitia Penyelenggara MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026, Vera Eka Wardani, menilai antusiasme peserta menunjukkan bahwa olahraga panahan semakin diminati dan memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Tak hanya dari jumlah yang meningkat, atmosfer kompetisi pada kejurnas tahun ini menjadi sangat kompetitif sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu barometer penting dalam peta pembinaan panahan nasional,” ujar Vera.
Menurut Vera, dukungan fasilitas pertandingan dengan standar internasional juga memberikan pengalaman berharga bagi para atlet muda untuk terbiasa menghadapi atmosfer kompetisi tingkat tinggi.
“MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior ini diharapkan dapat melahirkan generasi atlet panahan Indonesia yang unggul, tangguh dan siap bersaing di panggung dunia,” tambahnya.
Bangun Regenerasi Atlet Panahan Sejak Usia Dini
MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menjadi bagian dari program pembinaan berjenjang yang dikembangkan untuk memperkuat masa depan olahraga panahan nasional.
Sebelum menggelar level kejurnas junior, Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama Perpani Kudus juga rutin mengadakan MilkLife Archery Challenge yang menyasar pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) di Jawa Tengah dan daerah sekitarnya.
Vera menyebut pembinaan berjenjang menjadi langkah penting untuk menemukan talenta-talenta baru yang nantinya dapat bersaing di level nasional maupun internasional.
“Dengan adanya MilkLife Soccer Challenge untuk level pelajar SD dan MI serta Kejurnas Junior, kami berupaya membangun fondasi pembinaan panahan berjenjang yang diharapkan dapat menemukan bibit-bibit berkualitas,” kata Vera.
Ia berharap program tersebut dapat melahirkan generasi baru pemanah Indonesia yang mampu mengulang prestasi para legenda, termasuk Tiga Srikandi Indonesia yang berhasil meraih medali perak Olimpiade Seoul 1988.
Tiga Divisi Dipertandingkan, Atlet Uji Kemampuan hingga Final
Pada MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026, para atlet bertanding dalam tiga divisi utama, yaitu Divisi Nasional, Divisi Recurve, dan Divisi Compound.
Seluruh peserta terlebih dahulu menjalani babak kualifikasi untuk menentukan peringkat awal. Setelah itu, para pemanah bersaing melalui sistem eliminasi head to head hingga pertandingan final.
Untuk divisi Nasional dan Recurve, pertandingan menggunakan sistem set point, yaitu atlet mengumpulkan poin terbanyak dalam setiap seri untuk memastikan kemenangan.
Sementara itu, divisi Compound menggunakan sistem akumulasi skor dari lima seri pertandingan untuk menentukan atlet terbaik di setiap babak.
Kontingen Kepri Rasakan Pengalaman Berharga di Kudus
Salah satu kontingen yang tampil dengan semangat besar adalah Kepulauan Riau (Kepri). Tim Bumi Segantang Lada membawa 55 atlet yang berlaga di berbagai kategori U10, U13, U15, dan U18.
Meski tidak memasang target berlebihan, Kepri ingin memanfaatkan kejurnas ini sebagai pengalaman menghadapi atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah.
Pelatih panahan Kepri, Budi Darmawan Tanjung, mengaku puas dengan hasil yang diraih anak asuhnya.
“Alhamdulillah hasil tahun ini melampaui ekspektasi karena kami mampu bersaing dengan kontingen-kontingen kuat dari Pulau Jawa dan membawa pulang lebih banyak medali dibanding tahun lalu,” ujar Budi.
Menurutnya, penyelenggaraan kejurnas di Supersoccer Arena memberikan pengalaman penting bagi atlet karena fasilitas pertandingan yang lengkap serta kondisi lapangan yang menantang.
“Kondisi anginnya sangat menantang sehingga memberikan pengalaman bertanding yang berharga bagi atlet. Kejuaraan seperti ini juga penting untuk menjaga pembinaan atlet secara berjenjang dari U10 hingga U18,” tambahnya.
Khairunnisa Kaltim Bersinar dengan Sabet Empat Medali
Selain persaingan antar-kontingen, sejumlah atlet muda juga berhasil mencuri perhatian. Salah satunya adalah Khairunnisa, pemanah asal Kalimantan Timur yang tampil gemilang di kategori Compound U-15 Putri.
Atlet berusia 14 tahun tersebut berhasil membawa pulang tiga medali emas dan satu medali perunggu.
Pada final nomor individu, Khairunnisa tampil percaya diri dan mengalahkan wakil Bengkulu, Rania Shafiyyah Hannha, dengan skor 140-134.
Menurut Khairunnisa, keberhasilannya tidak lepas dari dukungan keluarga serta kesiapan mental saat menghadapi pertandingan.
“Aku bersyukur orang tua mendukung penuh dan meyakinkan untuk tampil percaya diri meraih medali emas. Pengalaman bertanding di MilkLife Archery Kejurnas Junior 2026 juga menyenangkan karena aku bisa bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah,” ujar Khairunnisa.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pertandingan bukan hanya soal teknik, tetapi juga menjaga fokus ketika menghadapi kondisi lapangan.
“Meski tantangan anginnya cukup berat, aku harus tenang dan fokus. Karena olahraga panahan bukan hanya teknik yang penting, tetapi juga mental,” katanya.
Regenerasi Panahan Indonesia Terus Bergerak
Kehadiran ratusan atlet muda dari berbagai penjuru Indonesia di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menunjukkan bahwa potensi olahraga panahan nasional terus berkembang.
Melalui kompetisi seperti ini, para atlet usia dini mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfer pertandingan tingkat nasional sekaligus mempersiapkan diri menuju jenjang yang lebih tinggi, termasuk pelatnas dan kejuaraan internasional.
Dengan pembinaan yang konsisten, ajang ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru pemanah Indonesia yang siap membawa prestasi di panggung dunia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda