Ajang yang diinisiasi Djarum Foundation bersama MilkLife itu menjadi panggung persaingan atlet panahan usia dini dari tingkat SD/MI hingga SMP/MTs. Namun, sorotan utama datang dari MI NU Banat Kudus yang kembali keluar sebagai juara umum untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Tim MI NU Banat Kudus yang menurunkan 46 atlet putri sukses mengoleksi tiga medali emas serta satu perak. Raihan tersebut memastikan mereka mencetak hattrick juara umum di turnamen ini.
Kepala MI NU Banat Kudus, Faukhil Wardati, mengatakan bahwa keberhasilan tersebut lahir dari latihan rutin serta dukungan penuh dari sekolah dan orang tua atlet.
“Alhamdulillah, ini berkat dukungan yayasan, orang tua, serta pembinaan yang konsisten. Anak-anak berlatih rutin setiap Jumat di Supersoccer Arena dan hasilnya bisa kami rasakan sekarang,” ujar Faukhil.
Final Berlangsung Sengit
Persaingan ketat terjadi di berbagai kategori final MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026.
Di kategori PVC U-10 Putri, Anindhita Keysia Sukmawardhana dari MI NU Banat Kudus meraih emas usai mengalahkan Alesha Makaila Kheiran dari SD Al Islam Pengkol dengan skor 6-0 (78-64).
Sementara di kategori PVC U-10 Putra, Louis Kafabillah Hasan dari SDUT Bumi Kartini Jepara menang atas Ahmad Sholahuddin Yusuf Al Ayy dari MIM Al Tanbih dengan skor 6-2 (100-93).
Pada kategori PVC U-13 Putri, Annahiza Qiana Syakira dari SD Islam Terpadu Al Ihsan mengalahkan Aura Nagita Anggraeni dari SD Negeri Sanetan dengan skor 6-2 (111-109).
Sedangkan Ahmad Umar Al Fatih dari MIM Al Tanbih keluar sebagai juara kategori PVC U-13 Putra usai menang 7-1 atas Muhammad Rajib Mahasin dari MIN Kudus.
Kisah Atlet 9 Tahun Curi Perhatian
Salah satu cerita menarik datang dari Latisya Innara Surya Putri, atlet berusia sembilan tahun dari SD Negeri 7 Wonogiri.
Ia sukses merebut gelar juara kategori Nasional U-10 Putri usai menundukkan Azka Aulia Nurinnajwa dari SD Islam Al Furqon dengan skor 6-0 (89-79).
Latisya mengaku kunci keberhasilannya adalah tetap tenang saat tampil di final.
“Saya diminta pelatih untuk rileks sebelum bertanding. Itu membuat saya lebih fokus saat memanah dan akhirnya bisa juara,” kata Latisya.
Ayah sekaligus pelatihnya, Eko Suryadi, mengatakan proses Latisya tidak instan karena dimulai dari membangun kecintaan terhadap olahraga panahan.
“Saya tidak pernah menuntut hasil cepat. Yang penting dia menikmati dulu olahraga ini,” ujar Eko.
Regenerasi Atlet Panahan Indonesia
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin menegaskan turnamen ini menjadi bagian penting dalam pembinaan atlet usia dini.
Menurutnya, kompetisi rutin dibutuhkan agar atlet muda memiliki pengalaman bertanding serta mental kompetitif yang lebih matang.
“Dari turnamen ini kami berharap lahir atlet-atlet panahan masa depan yang bisa mengharumkan nama Indonesia,” ujar Yoppy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News