I Gede Wahyu Surya, atlet angkat besi. (Foto: Dok. IG Gede Wahyu)
I Gede Wahyu Surya, atlet angkat besi. (Foto: Dok. IG Gede Wahyu)

Rekor Dunia Tak Cukup? Atlet Angkat Berat I Gede Wahyu Surya Gagal ke Kejuaraan Dunia Gara-Gara Urusan Izin!

Alfa Mandalika • 09 April 2026 14:00
Ringkasnya gini..
  • Kabar batalnya atlet angkat berat asal Buleleng, I Gede Wahyu Surya Wiguna, untuk tampil di kejuaraan dunia kini tengah menuai sorotan tajam di media sosial.
  • Hal ini bermula dari unggahan pribadi sang atlet yang mengungkapkan kekecewaan mendalam karena gagal mengikuti ajang kompetisi IPF (International Powerlifting Federation atau Federasi Angkat Berat Internasional) yang rencananya digelar di Druskininkai, Lithuania.
  • Wahyu Surya, yang merupakan atlet berprestasi penyandang rekor dunia, menyebut dirinya gagal berpartisipasi karena belum memperoleh surat rekomendasi dari federasi nasional.
Jakarta: Kabar batalnya atlet angkat berat asal Buleleng, I Gede Wahyu Surya Wiguna, untuk tampil di kejuaraan dunia kini tengah menuai sorotan tajam di media sosial. Hal ini bermula dari unggahan pribadi sang atlet yang mengungkapkan kekecewaan mendalam karena gagal mengikuti ajang kompetisi IPF (International Powerlifting Federation atau Federasi Angkat Berat Internasional) yang rencananya digelar di Druskininkai, Lithuania.
 
Wahyu Surya, yang merupakan atlet berprestasi penyandang rekor dunia, menyebut dirinya gagal berpartisipasi karena belum memperoleh surat rekomendasi dari federasi nasional. Selain masalah izin, ia menyinggung adanya persyaratan dana jaminan yang dinilai sangat besar, yakni mencapai sekitar Rp339 juta.
 
Lewat unggahan pribadinya, Wahyu mengungkapkan kekecewaannya karena mimpinya dipatahkan oleh kebijakan dalam negeri. Pihak federasi dikabarkan tidak memberikan rekomendasi dengan alasan menjaga fokus terhadap keberlangsungan Pekan Olahraga Nasional (PON). Selain itu, partisipasi Wahyu di ajang luar federasi seperti War Professional Powerlifting Event atau Ajang Angkat Berat Profesional (Pro War) dianggap sebagai pelanggaran aturan organisasi.

"Saya sangat kecewa. Apakah rekor dunia dan Asia tidak cukup untuk saya tampil lagi? Alasan mereka bukan hanya soal uang, tapi juga keamanan agenda PON," ujar Wahyu dalam pernyataannya.
 
Dengan adanya polemik ini juga akhirnya membuka kondisi finansial di tubuh Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI). Wahyu menyoroti tingginya biaya untuk kategori-kategori dengan perlengkapan khusus yang mencapai Rp15 juta per atlet, sementara dana di daerah sangat terbatas. Ia mengusulkan agar ajang Pra-PON lebih fokus pada kategori klasik yang lebih efisien secara biaya.
 
Wahyu juga menegaskan bahwa dirinya siap menjalani tes doping kapan pun untuk membuktikan integritasnya sebagai atlet bersih.
 
"Kalau misalnya ada keraguan yaitu saya neti (natural) atau tidak, saya siap di test doping dimanapun, kapanpun, dimanapun, dan siapapun bebas. Sehingga itu tidak menjadi alasan yaitu tidak memberangkatkan saya ke luar," ujarnya.
 
Ia pun menyatakan kesediaan untuk berangkat menggunakan dana pribadi dan sponsor tanpa membebani kas pusat, namun izin administratif tetap menjadi penghalang utama. 
 
"Saya kalau berangkat ke luar itu tidak menggunakan yaitu dana pabersi pusat, melainkan dari dana saya sendiri dan para sponsor. Saya hanya meminta surat rekomendasi itu saja. Mimpi saya tertunda," tegasnya.
 
Dalam pernyataan terakhirnya Wahyu kembali menyampaikan kekecewaan nya terhadap Federasi karena merasa dirinya sanggup menjadi juara dalam ajang International Powerlifting Federation.
 
"Perasaan saya kali ini yaitu kecewa. Padahal tinggal selangkah lagi, gimana bilang ya, tinggal selangkah lagi saya bisa yaitu mencapai podium 1 atau 2 atau 3 di Kejuaraan International Powerlifting Federation," tutupnya.
 
(Muhammad Zaidan Rizky)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan