NEWSTICKER
Api Olimpiade tiba di Jepang. (Foto: AFP/Philip Fong)
Api Olimpiade tiba di Jepang. (Foto: AFP/Philip Fong)

Wabah Virus Korona

Menggeser Tanggal Olimpiade Disebut Memungkinkan Ketimbang Pembatalan

Olahraga Virus Korona olimpiade 2020
Alfa Mandalika • 20 Maret 2020 11:00
Jakarta: Presiden Asosiasi Federasi Atletik Internasional (IAAF) Sebastian Coe mengungkapkan jika menggeser jadwal tanggal pelaksanaan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang pada Juli - Agustus ke September atau Oktober sangat memungkinkan ketimbang terlalu dini memutuskan untuk membatalkannya.
 
Di saat olah raga sedunia mandek gara-gara pandemi virus korona (covid-19), Komite Olimpiade Internasional IOC tetap berkomitmen untuk menggelar Olimpiade sesuai jadwal pada 24 Juli - 9 Agustus di tengah kecaman yang bermunculan.
 
"Jika kalian ingin mudah soal tanggal, kalian harus meringankannya. Ini memungkinkan, semuanya memungkinkan," kata Coe menjawab pertanyaan soal memundurkan Olimpiade ke September atau Oktober.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semuanya berubah tiap jam dan ini bukanlah keputusan yang harus dibuat saat ini. Kami mencoba untuk mengatur situasi dengan informasi yang kami miliki tapi saat ini tak ada informasi yang memadai," kata Coe.
 
"Suasananya di ruangan dengan IOC saat ini, tak ada yang ingin menggelar Games (Olimpiade) ini apa pun yang terjadi," sambungnya.
 
Eropa menjadi salah satu pusat epidemi virus turunan flu itu, yang kasusnya pertama kali muncul di China akhir tahun lalu, sehingga negara-negara di Benua Biru itu memberlakukan larangan atau pembatasan pergerakan terhadap warga negaranya, termasuk atlet.
 
Oleh karena itu, wabah penyakit akan menjadi tantangan bagi induk olahraga atletik sedunia untuk menyetarakan bidang permainan di antara atlet-atlet dunia ketika persiapan.
 
Sementara itu, covid-19 sejauh ini tercatat telah menginfeksi hampir 219.000 orang di seluruh dunia dan menyebabkan 8.900 kematian.
 
Coe, yang menjadi salah satu aktor kesuksesan Olimpiade 2012 di London, Inggris, mengatakan jika masalah yang dialami Tokyo lebih besar dari pada boikot massal ketika Olimpiade 1980 di Moskow.
 
"Saya pernah tinggal di Moskow dan waktu itu sedang krisis. Ini mungkin lebih membutuhkan waktu untuk berpikir dan lebih banyak upaya dari federasi-federasi ketimbang apa yang saya ingat," ujarnya.
 
"Kami melakukan segala yang memungkinkan untuk menyiapkan olah raga dan atlet kami sebaik mungkin di saat-saat sulit ini dan untuk tiba di suatu Olimpiade," pungkasnya. (Ant)
 
Video: Piala AFC Tunda Seluruh Pertandingan Fase Grup
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif