Kericuhan bermula saat tensi pertandingan memanas, yang diduga dipicu oleh kekalahan Bhayangkara atas Dewa United. Video viral yang tersebar luas di media sosial memperlihatkan aksi kekerasan yang melibatkan sejumlah pemain dan staff pelatih.
Legenda Timnas Indonesia, Firman Utina, angkat bicara mengenai insiden memalukan tersebut. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Firman menyoroti keterlibatan salah satu sosok staf pelatih Bhayangkara FC U-20, yang terekam diduga ikut dalam aksi kericuhan tersebut.
"Kamu tuh pelatih, bukan pemain. Makanya kursus jangan tidur supaya belajar sama-sama. Ini bukan zaman lo main. Nanti kita ketemu ya, coach," tulis Firman Utina dengan nada tegas yang ditujukan kepada oknum tersebut.
Firman menilai, seorang staf pelatih seharusnya berperan sebagai peredam emosi para pemain muda di lapangan, bukan justru menjadi provokator atau pelaku kekerasan. Menurutnya, perilaku tersebut mencederai semangat pembinaan pemain muda di level akademi.
Selain melayangkan kritik pedas kepada staf pelatih, Firman Utina juga memberikan dukungan moril kepada pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, yang di duga menjadi korban dalam kerusuhan tersebut.
"Anak-anak baik, lekas membaik Rakha," tulis Firman sambil membagikan kondisi terkini sang pemain.
Hingga saat ini pihak Komisi Disiplin (Komdis) PSSI belum memberikan pernyataan resmi terkait sanksi yang akan dijatuhkan akibat insiden di Stadion Citarum tersebut.
Tindakan kekerasan maupun rasisme dalam bentuk apa pun tidak memiliki tempat di lapangan hijau maupun dalam ekosistem olahraga lainnya. Sepak bola seharusnya menjadi wadah pemersatu dan ruang bagi nilai-nilai sportivitas, bukan justru menjadi ajang pelampiasan emosi yang destruktif. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pelatih dan staf ofisial bahwa tanggung jawab mereka tidak hanya terbatas pada taktik dan strategi di atas kertas, tetapi juga sebagai mentor moral bagi para talenta muda.
Evaluasi mendalam sangat diperlukan dalam proses pembinaan psikologis pemain usia dini. Pelatih harus mampu menanamkan kontrol emosi dan kedewasaan mental agar pemain tidak mudah terprovokasi oleh situasi pertandingan yang kompetitif.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News