Jafro Megawanto saat meraih medali emas Asian Games 2018 ((Foto: instagram @jafromegawanto)
Jafro Megawanto saat meraih medali emas Asian Games 2018 ((Foto: instagram @jafromegawanto)

Peraih Medali Emas Ini, Tetap jadi Pelipat Parasut

Olahraga olah raga asian games 2018 ground handling paralayang
Daviq Umar Al Faruq • 27 Agustus 2018 16:48
Batu: Atlet asal Kota Batu, Jawa Timur, Jafro Megawanto sukses mempersembahkan medali emas ke-7 bagi kontingen Indonesia di Asian Games 2018 beberapa hari yang lalu. Atlet berusia 22 tahun ini menjadi yang terbaik di cabor paralayang nomor akurasi tunggal putra di Gunung Mas Puncak, Kamis 23 Agustus 2018.
 
Jafro menjadi yang terbaik tersebut setelah mengalahkan atlet Thailand dan Korea Selatan. Namun, untuk meraih prestasi tersebut, putra dari pasangan Budi Sutrisno-Suliasih ini harus bersusah payah terlebih dulu.
 
Sebelum menjadi atlet profesional, Jafro adalah tukang lipat parasut atau paraboy di kawasan pendaratan (landing) paralayang Gunung Banyak, Kota Batu. Hal itu dia lakukan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Baca juga: Iqbal Menang, Pencak Silat Persembahkan Enam Medali Emas

"Biasa dibayar lima ribu (Rp5.000) per satu lipatan. Awalnya lihat teman-teman itu sepertinya enak dapat upah, akhirnya saya ikut jadi tukang lipat," katanya saat dihubungi Medcom.id, Senin 27 Agustus 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama dua tahun menjadi tukang lipat parasut, Jafro kemudian ditawari untuk menjajal olahraga paralayang tersebut. Sosok yang menawarkan dirinya belajar terbang kali pertama kali adalah manajer klub Ayo Kita Kemon, Yosi Pasha.
 
"Awalnya ya dari tukang pelipat parasut, terus ada manajer klub merekrut cari atlet, salah satunya aku. Terus disuruh di sekolahin (ajarkan) jadi atlet," ujar pemuda asal Jalan Arumdalu 159 Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur itu.

Baca juga: Yolla/Hendy Persembahkan Emas untuk Korban Lombok dan Suporter Indonesia

Ternyata peluang yang didapat Jafro tersebut mampu mengubah jalan hidupnya. Selama dua bulan diberi pelatihan, dia pun mendapat licensi PL 1 Junior, dan kini benar-benar menjadi atlet profesional.
 
"Setelah saya lihat senior-senior di kampung itu pada sukses jadi atlet. Saat ditawarkan jadi atlet ya aku mau disekolahin sampai sukses. Motivasinya ya agar bisa mengharumkan nama daerah dan Indonesia," beber pemuda kelahiran 18 Maret 1996 tersebut.
 
Terbukti pada kejuaraan pertama yang diikutinya, yakni Batu Open Paragliding 2011, Jafro berhasil meraih juara 3 kelas junior. Sejumlah medali pun dia dapatkan hingga saat ini. Salah satunya medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat.

Baca juga: Puspa Arumsari Sumbang Emas Pertama dari Cabor Pencak Silat

Meskipun terhitung sukses, Jafro mengaku masih tetap menjadi tukang lipat parasut hingga saat ini. Sebab, alumnus SMK 17 Agustus Kota Batu ini mengaku hal itu sudah menjadi kebiasaan.
 
Peraih Medali Emas Ini, Tetap jadi Pelipat Parasut
"Nggak berhenti. Sampai sekarang juga masih melipat. Ya mungkin karena kebiasaan melihat dulu. Jadi setelah melihat orang terbang terus nyoba dipraktekin saat latihan, akhirnya bisa," pungkasnya.
 
Seperti diketahui, dari 33 atlet paralayang putra di Asian Games, Jafro tampil dominan. Sepuluh babak dilewati tanpa satu kali pun akurasi melebihi tiga digit. Pada babak 4, Jafro bahkan mencapai akurasi 0 poin, alias tidak meleset sedikit pun.
 
Pilot Thailand Jirasak Witeetham menjadi pesaing paling alot sepanjang 10 babak. Hingga babak 8, jarak poin antara Jafro dan Witeetham hanya berjarak 24 angka saja. Witeetham pun berhak meraih medali perak. Sementara perunggu didapat pilot Korea Selatan, Lee Chulsoo.
 
Video: All Indonesian Final Terjadi di Ganda Putra Bulu Tangkis

 

(RIZ)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif