Lalu M. Zohri (kiri). (ANTARA FOTO/INASGOC/Andika Wahyu)
Lalu M. Zohri (kiri). (ANTARA FOTO/INASGOC/Andika Wahyu)

Usai Gagal Juara, Zohri Ziarah ke Makam Orang Tua

Olahraga olahraga atletik
Kautsar Halim • 27 April 2019 13:54
Jakarta: Sprinter andalan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, tidak langsung kembali berlatih seusai gagal juara pada Kejuaraan Atletik Asia 2019 di Doha, Qatar. Dia memilih pulang ke kampung halamannya yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
 
"Zohri sedang ziarah ke Lombok. Jenguk makam orang tua karena mau Ramadan," kata pelatih kepala atletik Indonesia Eni Nuraini di Stadion Madya, Jakarta, Sabtu 27 April.
 
Zohri yang lahir pada 1 Juli 2000 adalah putra ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Tapi, kedua orangtuanya telah tiada sejak beberapa tahun yang lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ibunya meninggal saat Zohri duduk di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat ketika dirinya menginjak usia 17 tahun. Setelah itu, Zohri pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya.

Klik: Lalu M Zohri Rebut Perak di Kejuaraan Atletik Asia


Sejak bergabung dengan tim PB PASI junior, atlet asal Dusun Karang Pangsor ini menganggap Eni Nuraini sebagai ibunya sendiri di mess. Itu diakui sendiri oleh Zohri ketika ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat 26 April lalu.
 
"Saya biasanya tanya soal kekurangan atau cerita apapun dengan dia (pelatih Eni). Pokoknya, sudah seperti ibu sendiri," kata peraih perak Kejuaraan Atletik Asia 2019 yang memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 10,13 detik itu.

Klik:Alfian M. Fajri Sabet Emas Kejuaraan Dunia Panjat Tebing


Eni menjelaskan, Zohri sudah izin kepadanya untuk ziarah dan kembali bergabung dengan tim pelatnas pada Senin 29 April mendatang. Dia tidak bisa berlibur lebih lama karena sedang dihadapkan kejuaraan berikutnya, yakni IAAF World Relays Champhionship 2019 di Yokohama Jepang pada 11-12 Mei mendatang.
 
Khusus buat Zohri, Eni yang berstatus sebagai pelatih terbaik Asia 2018 ini sudah mempersiapkan latihan khusus. Katanya, menu latihan tidak jauh berbeda dengan latihan sprint, hanya saja lebih banyak pendalaman teknik estafet seperti latihan reaksi dan teknik pertukaran tongkat.
 
"Kami fokus meningkatkan kecepatan saat memulai start. Kami akan meningkatkan porsi latihan reaksi sepanjang 30 meter," ujar Eni.
 
Ajang IAAF World Relays Championship yang terselenggara dua tahun sekali ini mempertandingkan beberapa nomor estafet, misalnya 4x200 meter dan 4x400 meter. Tapi, Eni mengatakan Indonesia hanya membidik kemenangan di nomor 4x100 meter putra.
 
"Kita optimistis bisa meraih medali di nomor 4x100 meter. Soalnya di Asian Games 2018, Zohri berhasil meraih medali perak mengungguli atlet-atlet kelas dunia juga," tutup Eni. (ANT)
 

 

(KAU)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif