Beberapa pembalap menjelaskan bahwa kecelakaan ini terjadi karena perubahan regulasi di MotoGP yang cukup signifikan. Mulai dari pemasok ban dari Bridgestone ke Michelin yang punya filosofi berbeda dalam membuat ban. HIngga penyeragaman ECU standar baik itu hardware maupun software, membuat tim-tim pabrikan cukup konsisten jadi pelanggan jalur gravel.
Untuk perbedaan filosofi karakter ban, ini punya pengaruh yang sangat besar. Sebagian besar pembalap berpendapat bahwa karakter yang bertolak-belakang antara Bridgestone dan Michelin cukup signifikan. Pembalap yang terbiasa memaksimalkan penggunaan ban depan, kali ini mengandalkan ban belakang khusus untuk zona menikung.

"Karakter ban belakang yang kuat membuat, membuat pembalap dengan gaya balap lembut seperti saya akan sangat terbantu. Tapi sedikit saja permukaan sirkuit tidak mendukung, maka akan sulit untuk mengganti karakter berkendara dalam kondisi ini. Belum lagi karakter ban depan yang tak ketahuan batas maksimalnya," papar Jorge Lorenzo.
Alasan lain adalah ECU seragam yang membuat kinerja kontrol traksi dipotong untuk beberapa bagian. Termasuk transfer tenaga yang besar dari mesin ke roda. Jika sebelumnya pembalap tinggal betot gas dan perangkat lunak elektronik akan mengalirkan tenaga lebih bijak ke roda sesuai kebutuhan, sekarang pembalap butuh feeling lebih kuat. Tak hanya modal berani betot tuas gas saja.
Jika dibandingkan dengan angka kecelakaan yang paling minim selama 10 tahun, maka MotoGP 2009 adalah musim yang paling minim kecelakaan dengan angka hanya 104 kecelakaan saja. Sementara jika memasukkan musim kompetisi 2006, jumlah kecelakaan yang terjadi di MotoGP tahun itu hanya sebesar 98 kejadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News