Jakarta: Newcastle United memasuki musim baru dengan wajah yang jauh berbeda. Kepergian Bruno Guimaraes ke Arsenal bukan hanya membuat The Magpies kehilangan salah satu gelandang penting, tetapi juga sosok yang selama beberapa tahun menjadi simbol kebangkitan klub.
Bruno bergabung dengan Newcastle United dari Lyon pada Januari 2022. Dalam waktu singkat, pemain asal Brasil tersebut berkembang menjadi favorit suporter dan kemudian dipercaya menjadi kapten. Newcastle bahkan menobatkannya sebagai Player of the Year 2025/26 setelah mencatat sembilan gol dan delapan assist sepanjang musim.
Kini, era tersebut berakhir. Bruno meninggalkan Newcastle dan melanjutkan karier bersama Arsenal dengan nilai transfer sekitar £75 juta. Kepergiannya terjadi ketika klub juga sedang mengalami perubahan besar di berbagai sektor.
Bruno Guimaraes dan Identitas Newcastle
Bruno datang ketika Newcastle sedang membangun proyek baru. Kehadirannya kemudian bertepatan dengan periode ketika The Magpies perlahan berubah dari tim yang berjuang di papan bawah menjadi klub yang mampu bersaing di papan atas Premier League.
Perannya di lini tengah membuat Bruno lebih dari sekadar pemain yang bertugas mengatur permainan. Ia dikenal dengan permainan agresif, kemampuan membawa bola, keberanian menerima tekanan, serta karakter kompetitif yang membuatnya mudah diterima oleh suporter.
Newcastle sendiri menyebut Bruno sebagai sosok yang sangat populer di Tyneside. Sejak bergabung pada Januari 2022, ia langsung menjadi bagian penting dari lini tengah dinamis klub dan kemudian ditunjuk Eddie Howe sebagai kapten.
Kontribusinya juga terlihat pada musim terakhirnya. Bruno mencetak sembilan gol di Premier League dan memberikan delapan assist. Catatan tersebut membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak Newcastle di Premier League sekaligus pemain dengan assist terbanyak klub pada musim 2025/26.
Karena itu, mencari pengganti Bruno tidak sesederhana mendatangkan gelandang baru. Newcastle kehilangan pemain yang sudah memiliki hubungan kuat dengan klub dan suporter.
Newcastle Kehilangan Banyak Figur Penting
Kepergian Bruno sebenarnya hanya satu bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi di Newcastle. Anthony Gordon dan Sandro Tonali juga meninggalkan klub. Setelah itu, Eddie Howe yang menjadi pelatih sejak 2021 turut mengakhiri masa baktinya di St James' Park.
Situasi tersebut membuat Newcastle kehilangan sejumlah figur yang selama beberapa tahun menjadi bagian dari fondasi tim. Howe sebelumnya membawa Newcastle keluar dari periode sulit dan mengantarkan klub meraih trofi domestik pertamanya dalam 70 tahun.
Namun, musim 2025/26 berakhir mengecewakan setelah Newcastle finis di posisi ke-12 dan gagal mendapatkan tiket kompetisi Eropa. Pergantian tersebut membuat Newcastle bukan hanya kehilangan pemain, tetapi juga kehilangan kesinambungan.
Bruno merupakan salah satu wajah dari era Howe. Begitu pula Tonali dan Gordon yang menjadi bagian dari skuad dalam beberapa musim terakhir. Kini sebagian besar struktur tersebut berubah.
Itulah sebabnya kepergian Bruno memiliki dampak yang lebih besar daripada sekadar hilangnya satu pemain di lini tengah. Newcastle harus memulai kembali proses membangun kelompok yang memiliki karakter dan kepemimpinan baru.
Era Baru Bersama Matthias Jaissle
Matthias Jaissle kini mendapat pekerjaan besar. Pelatih asal Jerman tersebut datang ke Newcastle setelah sukses bersama Al-Ahli, termasuk membawa klub Saudi itu meraih dua gelar AFC Champions League Elite secara beruntun. Ia dikenal dengan pendekatan sepak bola berintensitas tinggi dan pressing agresif.
Namun, tantangan Jaissle di Newcastle berbeda. Ia tidak mewarisi skuad yang sama seperti yang dimiliki Howe. Beberapa pemain penting sudah pergi dan klub masih berusaha mencari komposisi terbaik untuk musim baru, Jaissle juga harus menghadapi persoalan kepemimpinan.
Kepergian sejumlah pemain senior membuat Newcastle membutuhkan sosok baru yang mampu menjadi pemimpin di dalam lapangan maupun ruang ganti. Dalam kondisi seperti ini, pelatih baru tidak cukup hanya menerapkan sistem permainan. Ia harus membangun hubungan baru antara pemain, pelatih, dan suporter.
Perubahan tersebut kemungkinan membutuhkan waktu. Terlebih, Newcastle juga finis di posisi ke-12 pada musim lalu sehingga Jaissle harus sekaligus mengembalikan daya saing klub. Meski demikian, bukan berarti Newcastle kehilangan seluruh fondasi. Beberapa pemain lama masih bertahan dan klub juga mendatangkan pemain baru untuk membangun skuad berikutnya. Tugas Jaissle adalah menggabungkan keduanya menjadi tim yang memiliki karakter baru.
Newcastle Harus Menemukan Identitas Baru
Kehilangan Bruno tidak otomatis membuat Newcastle kehilangan identitas untuk selamanya. Namun, perubahan besar yang terjadi memang membuat klub harus mencari kembali karakter yang sebelumnya terbentuk selama era Howe.
Bruno merupakan salah satu simbol periode tersebut. Ia datang saat Newcastle sedang membangun proyek baru dan pergi setelah menjadi kapten serta membantu klub memenangkan trofi domestik. Sekarang, Newcastle harus menemukan sosok baru yang mampu mengisi ruang tersebut.
Malick Thiaw menjadi salah satu pemain yang mulai mengambil tanggung jawab kepemimpinan. Dalam laga pramusim melawan Valencia, bek asal Jerman tersebut bahkan dipercaya mengenakan ban kapten. Ia juga menyampaikan optimisme terhadap skuad baru Newcastle menjelang musim 2026/27.
Namun, menggantikan pengaruh Bruno tidak bisa dilakukan hanya dengan menunjuk kapten baru. Newcastle membutuhkan pemain yang mampu membangun kembali hubungan dengan suporter, menjaga intensitas permainan, dan menjadi representasi dari karakter tim di lapangan, musim 2026/27 akan menjadi titik awal baru bagi Newcastle. Setelah kehilangan Bruno Guimaraes, Sandro Tonali, Anthony Gordon, dan Eddie Howe.
(Mohammad Althaf Musyaffa)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda