Skuad berjuluk The Reds itu dipastikan gagal menembus zona empat besar dan harus puas finis di posisi kelima klasemen akhir Premier League dengan hanya mengoleksi 60 poin.
Rapor merah ini menjadi catatan perolehan poin terendah bagi Liverpool dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
Baca Juga :
Air Mata di Anfield! Laga Perpisahan Mohamed Salah dan Robertson Warnai Hasil Imbang Liverpool
Pemecatan ini sekaligus mengakhiri masa kepemimpinan Slot yang baru berjalan selama dua tahun dari durasi tiga tahun kontraknya, sejak ditunjuk sebagai suksesor Jürgen Klopp pada musim panas 2024 lalu.
Musim Kedua Jadi Petaka
Keputusan pendepakan ini terbilang ironis jika berkaca pada musim perdana sang pelatih di Anfield. Transisi pasca-Klopp awalnya berjalan sangat mulus, di mana mantan pelatih Feyenoord itu melampaui ekspektasi publik dengan langsung membawa Liverpool menjuarai trofi Premier League pada musim 2024/2025.
Namun, performa Mohamed Salah dan kawan-kawan merosot drastis pada musim kedua. Liverpool tercatat menelan 19 kekalahan di semua kompetisi resmi, termasuk 12 kekalahan menyakitkan di liga domestik.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan dengan rekor musim sebelumnya yang hanya menelan empat kekalahan sepanjang tahun. Melalui rilis resminya, FSG menegaskan perubahan ini sangat diperlukan demi masa depan klub.
“Keputusan ini tentu sangat sulit bagi kami sebagai klub. Kontribusi Arne untuk Liverpool selama berada di sini sangat besar, bermakna, dan yang paling penting, sukses bagi para pendukung maupun kami,” tulis pernyataan resmi klub.
“Kesimpulan yang kami ambil didasarkan pada keyakinan bahwa arah tim saat ini membutuhkan pendekatan yang berbeda,” tutup pernyataan resmi tersebut.
Kegagalan Belanja Besar
Slot dinilai gagal mengintegrasikan sejumlah pilar baru di lapangan hijau. Padahal, manajemen klub tercatat telah menggelontorkan dana fantastis mencapai £440 juta atau setara dengan Rp10 triliun di bursa transfer, yang menjadi catatan nilai pengeluaran terbesar dalam satu jendela transfer sepanjang sejarah berdirinya klub.
Situasi tim kian diperparah dengan merosotnya performa sejumlah pemain inti seperti Ibrahima Konate, Cody Gakpo, dan Alexis Mac Allister, yang dibarengi dengan badai cedera berkepanjangan pada pertengahan musim.
Meskipun pelatih berusia 47 tahun tersebut masih memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi untuk membenahi kerangka tim melalui aktivitas transfer musim panas ini, meningkatnya gelombang ketidakpuasan dari basis suporter membuat posisi sang pelatih tidak lagi aman.
Pihak klub menilai mempertahankan juru taktik asal Belanda itu hingga musim depan akan membawa risiko yang terlalu besar bagi stabilitas jangka panjang klub.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News