Dilansir dari Sky Sports, King Power telah menunjuk bank investasi asal Amerika Serikat (AS), Citigroup, untuk menangani proses penjualan Leicester City. Dokumen penawaran bertajuk Project Lineup juga telah disebarkan kepada sejumlah calon investor.
Paket yang ditawarkan mencakup tim putra, tim putri, Stadion King Power yang berkapasitas sekitar 32 ribu penonton, serta fasilitas latihan Seagrave.
Dalam dokumen tersebut, aset fisik Leicester City dinilai mencapai 224 juta pound atau sekitar Rp5,4 triliun. Nilai tersebut mencakup kompleks latihan Seagrave yang dibuka pada 2020 dengan biaya pembangunan 121 juta pound atau sekitar Rp2,9 triliun.
Namun, dokumen penjualan tidak mencantumkan nilai spesifik untuk tim sepak bola Leicester City. King Power disebut memasang harga lebih dari 200 juta pound atau sekitar Rp4,3 triliun untuk keseluruhan paket penjualan klub.
Dari Juara Hingga Terpuruk ke Kasta Ketiga
Rencana penjualan Leicester terjadi setelah klub mengalami periode penuh gejolak dalam beberapa tahun terakhir. Klub yang pernah mencatat sejarah dengan menjuarai Premier League, kasta tertinggi Liga Inggris, kini harus berkompetisi di League One, kasta ketiga sepak bola Inggris.
Leicester terdegradasi ke League One pada musim lalu. Kondisi tersebut membuat The Foxes untuk kedua kalinya sepanjang sejarah klub harus tampil di kasta ketiga.
Situasi tersebut berbanding terbalik dengan pencapaian Leicester pada musim 2015/2016. Ketika itu, Leicester membuat kejutan besar dengan menjuarai Premier League meski hanya memiliki peluang 5.000 banding 1 untuk menjadi kampiun.
Leicester juga berhasil meraih Piala FA pada 2021. Dua pencapaian tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang ditonjolkan dalam dokumen penjualan kepada calon investor.
“Kesempatan langka untuk mengakuisisi klub dengan rekam jejak luar biasa dalam meraih promosi ke divisi yang lebih tinggi,” bunyi penawaran dalam dokumen tersebut, seperti dilansir Sky Sports, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menariknya, kondisi Leicester yang kini berada di League One tidak disebutkan dalam brosur penjualan. Dokumen tersebut justru menekankan keberhasilan klub dalam meraih promosi ke divisi yang lebih tinggi.
King Power Beli Leicester Seharga Rp844,5 miliar
King Power yang dikelola keluarga Srivaddhanaprabha membeli Leicester City dari Milan Mandaric pada 2010. Saat itu, klub dibeli dengan harga 35 juta pound atau sekitar Rp844,5 miliar.
Selama 16 tahun kepemilikannya, King Power telah mengonversi utang Leicester menjadi ekuitas dengan nilai hampir 300 juta pound atau sekitar Rp 7,23 triliun. Langkah tersebut membuat klub sebagian besar terbebas dari utang, meski masih memiliki sejumlah pinjaman pemeliharaan dalam jumlah kecil.
King Power juga tidak terburu-buru menyelesaikan penjualan. Sky Sports News melaporkan mereka akan terus mendanai Leicester sepenuhnya hingga muncul calon pembeli baru yang dinilai kredibel.
Dukungan tersebut tetap diberikan pada musim panas ini. King Power membantu pelatih kepala Russell Martin membangun skuad Leicester dengan mendatangkan sembilan pemain baru.
Leicester Mulai Perjalanan di League One
Di tengah proses penjualan, Leicester harus menghadapi tantangan baru di League One. Tim asuhan Russell Martin dijadwalkan mengawali musim dengan menghadapi Notts County pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Musim ini menjadi periode penting bagi Leicester untuk bangkit setelah mengalami dua kali degradasi dari Premier League dalam rentang tiga tahun, yakni pada 2023 hingga 2025.
Kini, King Power membuka peluang bagi investor baru untuk mengambil alih klub yang pernah menjadi salah satu kisah sukses terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris tersebut.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda