Banner bertuliskan kritik terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dari suporter Persib Bandung (Foto: Instagram @fanaticfootball__)
Banner bertuliskan kritik terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dari suporter Persib Bandung (Foto: Instagram @fanaticfootball__)

GBLA Memanas! Spanduk “SHUT UP KDM” Muncul, Suporter Persib Kirim Pesan Keras

Alfa Mandalika • 25 April 2026 20:40
Ringkasnya gini..
  • Banner “SHUT UP KDM” yang dibentangkan suporter Persib menjadi sorotan dalam laga melawan Arema FC di GBLA.
  • Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap dugaan keterlibatan politik dalam klub. Selain itu, muncul pula pesan “Persib Bukan Alat Politik” sebagai penegasan sikap suporter.
  • Peristiwa ini memicu perdebatan luas tentang batas antara sepak bola dan kepentingan politik.
Bandung: Laga panas antara Persib Bandung melawan Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat, 24 April 2026, tak hanya menyuguhkan tensi tinggi di atas lapangan, tetapi juga menyita perhatian dari tribun penonton.
 
Di tengah jalannya pertandingan, para suporter Persib Bandung penghuni tribun utara atau yang dikenal sebagai Northen Wall membentangkan spanduk besar bertuliskan “SHUT UP KDM”. Aksi tersebut langsung menarik perhatian di stadion maupun di media sosial, serta memicu beragam reaksi dari warganet.
 
Spanduk tersebut diketahui merupakan bentuk protes dari suporter terhadap dugaan penggunaan nama klub sebagai pencitraan dari tokoh politik. Berdasarkan informasi dari akun Instagram @fanaticfootball__, Aksi protes dari suporter Persib Bandung diduga muncul setelah Gubernur Jawa Barat saat ini yaitu Dedi Mulyadi yang kerap disapa KDM mengunggah informasi mengenai bantuan dana sebesar Rp1 miliar dari Maruarar Sirait untuk Persib melalui akun media sosial pribadinya. Selain banner “SHUT UP KDM”, terlihat pula spanduk lain bertuliskan pesan bahwa “Persib Bukan Alat Politik”. Pesan tersebut menegaskan sikap suporter yang menolak keterlibatan kepentingan politik dalam sepak bola.
 
Secara kritis, aksi ini mencerminkan keresahan suporter terhadap potensi penggunaan identitas klub sebagai sarana pencitraan politik. Meski bantuan finansial dimaksudkan untuk mendukung prestasi tim, publikasi oleh pejabat publik di tengah dinamika politik dinilai dapat mengganggu independensi klub.
 
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak klub maupun pemerintah daerah terkait aksi suporter tersebut. Namun, peristiwa ini menambah dinamika dalam hubungan antara sepak bola dan ranah politik di Indonesia.
 
(Muhammad Zaidan Rizky)

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan