Keputusan perpisahan itu disampaikan dengan berat hati oleh manajemen Persik. Klub memberikan penghormatan khusus kepada Faris yang tidak hanya dikenal sebagai pemain senior, tetapi juga menjadi panutan bagi para pemain muda di dalam skuad.
Pada usia 38 tahun, Faris tercatat sebagai pemain tertua di tim Persik Kediri. Loyalitas dan kontribusinya membuat pemain bernomor punggung 13 tersebut menempati ruang penting dalam perjalanan modern Macan Putih.
Faris Aditama Mentor Pemain Muda Persik Kediri
Manajer Persik Kediri, Rachmad Tri Kuncara, menyebut Faris sebagai sosok yang memberikan pengaruh besar, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pengalamannya selama bertahun-tahun dianggap membantu proses perkembangan sejumlah pemain muda.
Tidak sedikit pemain yang bergabung dengan Persik menjadikan Faris sebagai tempat belajar. Bukan hanya dalam hal teknik bermain, tetapi juga mengenai kedisiplinan, sikap profesional, dan cara menjaga komitmen kepada tim.
"Faris Aditama merupakan sosok pemain yang tidak hanya menjadi panutan, tetapi juga teladan baik di dalam ataupun luar lapangan. Banyak pemain muda yang bergabung di Persik Kediri menjadikan sosok Faris Aditama sebagai mentor dalam segi teknis dan sikap," ujar Kuncara seperti dikutip dari situs resmi I.League.
Kehadiran Faris memberikan keseimbangan dalam ruang ganti. Ia mampu menjadi penghubung antara pemain muda, pemain senior, dan tim pelatih ketika Persik menghadapi berbagai situasi sepanjang kompetisi.
Jalani Dua Periode Bersama Macan Putih
Perjalanan Faris bersama Persik dimulai pada periode 2010 hingga 2015. Pada masa bakti pertamanya, pemain kelahiran Kediri itu turut memperkuat Macan Putih dalam kompetisi Indonesia Super League musim 2014/2015.
Setelah meninggalkan Persik, Faris sempat memperkuat sejumlah klub Indonesia. Namun, jalan karier membawanya kembali ke tanah kelahiran pada musim 2018/2019, ketika Persik sedang berjuang setelah promosi ke Liga 2.
Kepulangan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan klub. Faris memberikan tenaga, pengalaman, dan kepemimpinan ketika Persik berusaha kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional.
Pada akhir musim, Persik sukses menjuarai Liga 2 dan memastikan promosi ke Liga 1. Keberhasilan itu menjadi awal masa pengabdian kedua Faris bersama Macan Putih.
Bawa Persik Juara Liga 2 dan Kembali ke Kasta Tertinggi
Peran Faris dalam keberhasilan Persik menjuarai Liga 2 menjadi salah satu kenangan yang sulit dipisahkan dari kariernya. Sebagai pemain lokal, ia memahami besarnya harapan suporter agar klub kembali bersaing di level tertinggi.
Saat Persik kembali mengarungi Liga 1, ban kapten beberapa kali melingkar di lengan Faris. Ia dipercaya memimpin tim pada masa transisi yang tidak mudah setelah promosi.
Catatan tersebut membuat Faris sejajar dengan sejumlah legenda Persik. Total 11 musim pengabdiannya menyamai rekor Harianto, sosok besar lain yang pernah menjadi kapten Macan Putih pada era berbeda.
"Faris Aditama menghadirkan banyak memori untuk klub ini. Sebuah kebanggaan dan kehormatan besar bisa bekerja sama dengan Faris Aditama," kata Kuncara.
Catat 111 Penampilan bersama Persik Kediri
Selama memperkuat Persik dalam berbagai ajang, Faris membukukan 111 penampilan. Ia turut menyumbangkan sembilan gol dan enam assist.
Meski lebih sering beroperasi dari sektor sayap, Faris dikenal memiliki mobilitas, keberanian, dan kemampuan muncul pada momen penting. Kontribusinya tidak selalu tercermin melalui angka karena pengaruhnya juga terasa dalam organisasi permainan dan kepemimpinan di lapangan.
Faris memiliki catatan menarik setelah Persik kembali ke kasta tertinggi. Mulai musim 2019/2020 hingga 2023/2024, ia selalu mencetak setidaknya satu gol pada setiap musim.
Pada musim 2024/2025, namanya memang tidak masuk daftar pencetak gol. Namun, ia masih mampu memberikan satu assist bagi Macan Putih.
Gol Dramatis ke Gawang PSS Sleman Jadi Salah Satu Kenangan
Salah satu gol penting Faris tercipta ketika Persik menghadapi PSS Sleman pada pekan ke-33 Liga 1 musim 2023/2024. Dalam pertandingan tersebut, gol Faris sempat membawa Macan Putih unggul 4-3 atas tim tamu.
Keunggulan itu akhirnya tidak bertahan setelah PSS menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Meski pertandingan berakhir imbang, gol tersebut tetap menjadi salah satu momen yang memperlihatkan determinasi Faris pada usia yang tidak lagi muda.
Gol itu juga memperpanjang catatan konsistensinya dalam mencetak gol untuk Persik. Di tengah persaingan Liga 1 yang ketat, Faris masih mampu memberi dampak langsung bagi tim.
Persik Sebut Faris Aditama sebagai Simbol Loyalitas
Perpisahan ini menutup perjalanan panjang seorang pemain lokal yang tumbuh, pergi, kemudian kembali untuk membantu klub kampung halamannya. Bagi Persik, Faris lebih dari sekadar pemain dalam daftar skuad.
Ia menjadi simbol loyalitas, komitmen, dan semangat yang melekat pada identitas klub. Sebelas musim bukan rentang waktu pendek, terlebih dalam sepak bola profesional yang kerap bergerak cepat dan penuh perubahan.
"Waktu 11 musim adalah sangat panjang. Faris Aditama adalah salah satu simbol loyalitas, komitmen, serta semangat dari seorang pemain. Nama Faris sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah emas Persik Kediri," ujar Kuncara.
"Hanya klub legenda yang memiliki pemain legenda. Faris akan selalu memiliki tempat khusus di hati para suporter dan klub," imbuhnya.
Kepergian Faris menandai berakhirnya sebuah era. Namun, jejaknya akan tetap hidup melalui promosi ke Liga 1, kepemimpinan sebagai kapten, gol-gol penting, serta pengaruhnya terhadap generasi baru pemain Persik Kediri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda